Oleh : Saltina, S. Pd.
Penggerak Opini Islam dan Member AMK

Baru-baru ini media kembali dihebohkan dengan kelakuan amoral para remaja di Jambi. Sebanyak 37 pasangan remaja yang masih berstatus pelajar SMP kepergok mengadakan pesta seks di sebuah kamar hotel. Dalam aksi razia yang dilakukan pada Kamis (9/7/2020) tersebut, petugas menemukan barang bukti berupa kondom, obat kuat dan miras. (tribuntimur.com) (9/7/2020)

Para remaja tersebut terjaring setelah adanya razia tim gabungan TNI, Polri, dan Pemerintah Kecamatan Pasar Kota Jambi. Sebelumnya tim gabungan tersebut menyisir hotel-hotel di kawasan Lebak Bandung, Jelutung, Jalan Camar, Sungai Asam, Pasar Jambi, Tambak Sari, Jambi Selatan Kota Jambi. Hingga akhirnya mereka menemukan para remaja yang bukan pasangan suami istri melakukan tindakan amoral di kamar lantai tiga hotel.

Sementara itu, dilansir (kompas.com), 37 remaja tersebut diduga menggelar pesta seks untuk merayakan ulang tahun. Dalam operasi itu, banyak terjaring anak-anak remaja di bawah umur. Camat Pasar, Kota Jambi, Mursida mengatakan hal tersebut sangat memilukan.

"Mereka menyewa kamar hotel. Sangat miris sekali." katanya. Mereka adalah laki-laki berusia 15 tahun, perempuan berusia 13 tahun. Bahkan juga ditemukan 1 perempuan dengan 6 laki-laki di dalam satu kamar. "Jadi mereka ini semuanya banyak menggunakan kamar hotel untuk melakukan pesta seks, karena kami banyak menemukan barang bukti berupa satu kotak sutra dan juga obat kuat," tambahnya. (kompas.com) (9/7/2020)

Miris, sedih, dan geram adalah beragam rasa yang membuncah meyesakkan dada, mengetahui remaja yang harusnya menjadi permata kebanggaan, jusrtu menenggelamkan diri dalam kubangan lumpur kemaksiatan seks bebas. Sebuah tindakan yang tak bermoral dan tak pantas dilakukan oleh mereka yang masih berstatus pelajar SMP. Anak-anak seusia mereka seharusnya mengisi hari-hari dengan giat belajar. Mengkaji berbagai ilmu dan tsaqofah Islam. Mempersiapkan diri untuk menjadi generasi penerus bangsa yang akan membawa umat pada kebangkitan dan kejayaan peradaban Islam.

Faktor Sistemik Penyebab Rusaknya Moral Remaja

Aksi amoral 37 pasangan remaja usia SMP yang terlibat pesta seks di dalam kamar hotel, tidak lain adalah buah busuk diterapkannya sistem kapitalisme sekuler di negeri ini. Sistem inilah yang melahirkan paham liberalisme sekuler yang mengikis nilai-nilai agama dan moralitas, bahkan menuhankan kebebasan dan hawa nafsu. Tak mengherankan, remaja yang notabene masih bau kencur dengan tanpa rasa malu dan rasa bersalah melakukan adegan dewasa. Bahkan, aksi tak senonoh tersebut dilakukan secara berjamaah di sebuah kamar hotel.

Paham liberalisme sekuler memandang agama sebagai kekangan yang akan menghambat kemajuan dan eksistensi diri. Sehingga tak mengherankan paham ini membuang agama jauh dari kehidupan. Padahal keberadaan agama merupakan hal yang teramat penting bagi setiap manusia yang sifatnya lemah dan terbatas, agar dapat menjalani hidup sesuai tuntunan Sang Maha Pencipta. Sehingga tak mudah terpengaruh dengan lingkungan pergaulan yang kebablasan dan tak mudah terjerumus oleh tontonan tanpa tuntunan.

Rusaknya moral remaja juga terkait erat dengan sistem pendidikan yang diadopsi negeri ini. Tak dapat dipungkiri bahwa sistem dan kurikulum pendidikan sekuler yang diterapkan di negeri ini, lebih berorientasi pada materi. Anak-anak didik di sekolah hanya dituntut untuk mengejar nilai dan prestasi akademik semata. Sehingga kedepannya mampu menjadi lulusan yang terampil dan siap kerja. Sementara pembentukan kepribadian dan penguatan ketakwaan anak-anak didik kepada Sang Maha Pencipta tak menjadi perhatian utama.

Sementara itu, lingkungan pergaulan di masyarakat yang tak lagi mengenal rambu-rambu norma dan rasa malu serta masyarakat yang apatis juga menjadi penyebab rusaknya moral remaja. Bagaimana tidak pihak managemen hotel menerima anak di bawah umur yang notabene bercampur baur antara laki-laki dan perempuan untuk menginap di kamar hotel. Hilangnya spirit amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat inilah yang semakin memperparah rusaknya moral dan akhlak remaja.

Tak hanya itu, rapuhnya keimanan dan rontoknya akhlak remaja, tentu tak bisa dilepaskan dari peran dan tanggungjawab orangtua di rumah. Pola asuh orangtua yang jauh dari spirit dan ajaran Islam tentu sangat berperan atas rapuhnya akidah remaja. Ditambah di tengah situasi pandemi dan kondisi kehidupan yang serba sulit seperti hari ini, memaksa orangtua, baik ayah maupun ibu tetap berjibaku dengan dunia kerja. Demi mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Padahal peran orangtua, terutama peran ibu, sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Ibu adalah sekolah pertama (madrasatul ula) bagi anak-anaknya. Dari ibulah, anak memperoleh pendidikan pertama. Ibu pulalah yang menanamkan aqidah Islam dan mengajarkan akhlakul karimah serta membentuk corak kepribadian anak. Semua ini idealnya didapatkan anak di dalam keluarga, dimana keluarga merupakan benteng utama dalam mencetak generasi unggul. Tetapi miris, dalam sistem sekuler hari ini banyak anak yang kehilangan figur ayah dan ibu. Curahan perhatian dan limpahan kasih sayang dari kedua orangtua tak lagi didapatkan anak. Sehingga mereka cenderung mencarinya di luar rumah.

Jelaslah, sistem kapitalisme sekuler dan paham liberal yang diterapkan di negeri ini, paling bertanggungjawab atas rusaknya moral remaja. Faktor-faktor penyebab yang bersifat sistemik ini, mengharuskan adanya penyelesaian secara sistemik pula. Sistem sekuler dan paham liberal yang merusak semestinya diganti dan dicabut hingga ke akar-akarnya. Karena remaja ideal dan generasi terbaik tidak akan pernah lahir dari sistem kapitalisme sekuler yang rusak. Mengharapkan generasi terbaik lahir dari sistem yang rusak ini, ibarat mimpi di siang bolong. Sebab generasi terbaik hanya akan lahir dari sistem terbaik pula. ltulah sistem Islam yang berasal dari Allah Swt., Dzat Yang Maha Sempurna, Pencipta seluruh alam.

Wallahu'alam bishshawwab. []
 
Top