Oleh : Verawati, S.Pd
(Pegiat Opini Islam dan Praktisi Pendidikan)

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai hari anak nasional. Berbagai acara biasanya digelar dalam rangka memperingati hari tersebut. Seperti gebyar anak nasional yang diisi dengan berbagai acara seperti perlombaan dan seminar anak. Akan tetapi peringatan anak nasional tahun ini nampaknya tidak dirayakan dengan meriah. Sebab, kondisi wabah Covid-19 masih belum berakhir. Hanya ada beberapa instansi yang menyelenggarakan perayaan ini yang diisi oleh seminar daring. Penulis pun berkesempatan mengikuti seminar online yang diadakan oleh salah satu uiversitas di tanah air.

Dalam seminar tersebut diutarakan oleh para pembicara bahwa kondisi anak-anak Indonesia saat ini dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Berbagai problematika anak terus bermunculan. Mulai dari anak-anak balita hingga remaja. Mulai dari kecanduan gadget hingga kecanduan narkotika, tawuran, kekerasan pada fisik dan seksualitas anak, pergaulan bebas, hamil di luar nikah dan aborsi hingga stress dan bunuh diri. Angkanya pun kian bertambah.

Baru-baru ini kita jengah dengan kasus sejumlah anak remaja berstatus sekolah SMP tengah melakukan pesta seks di sebuah hotel. Seperti dilansir di laman Tribunnews.com 17 Juli 2020. Sebanyak 37 pasangan anak di bawah umur diduga menggelar pesta seks di kamar hotel. Mereka terjaring razia di hotel saat lagi asyik bercumbu. Selain pelaku, juga diamankan barang bukti sekotak  kondom dan obat kuat bahkan ada yang menenggak minuman keras.

Berita yang membuat hati para ibu dan juga ayah tersayat-sayat. Kok bisa anak masih bau kencur sudah punya pemikiran dan juga tingkah laku bejat dan hina seperti itu? Mungkin ini hanya yang terekspos, masih banyak kasus-kasus yang serupa yang dilakukan remaja hari ini. Data menunjukkan bahwa banyak remaja Indonesia saat ini sudah tidak perawan atau perjaka lagi. Inilah faktanya, bahwa anak-anak Indonesia dalam kondisi yang rusak. Mereka terpapar penyakit hedonisme radikal dan bebas.

Jika kita runut, perilaku bebas atau hedonisme itu lahir dari cara pandang bahwa dalam kehidupan ini keberadaan Tuhan ditiadakan atau hanya sebatas ranah privat saja, yakni yang disebut dengan sekuler. Akidah sekuler inilah yang menjadi landasan tegaknya sistem kapitalisme. Dimana kesenangan materi atau fisik menjadi tujuan. Gayung pun bersambut, para kapitalis menjual apa saja yang digandrungi remaja meski itu sesuatu yang salah bahkan menjerumuskan. Seperti tayangan-tayangan yang mempertontonkan adegan yang berbau seks dan kebebasan perilaku, menggelar konser-konser artis asing dan memfasilitasi tempat-tempat untuk berbuat maksiat. Lemahnya peran keluarga, masyarakat dan bahkan negara menjadi jalan semakin liarnya perilaku remaja saat ini. Keluarga-keluarga lemah atau minim dalam memberikan kasih sayang, pendidikan dan teladan. Sebab keluarga-keluarga saat ini memikul beban hidup yang cukup berat. Sehingga tidak hanya bapak yang bekerja, tetapi ibu juga bekerja. Anak diasuh dan dititipkan pada pengasuh atau day care. Begitu pula masyarakat, cenderung individualis dan negara yang abai bahkan cenderung membiarkan masalah berlarut-larut tanpa solusi yang tegas.

Lain halnya ketika kehidupan ini diatur dengan menggunakan sistem  dari Sang Pencipta. Yakni Islam. Maka Islam memiliki pilar-pilar kehidupan yang kokoh, yang mampu menjaga generasinya dari kehancuran serta mampu membentuk generasi cemerlang. Pilar-pilar tersebut yaitu pertama, ketakwaan individu. Bahwa dalam kehidupan Islam, ketakwaan individu anak dan remaja adalah hal yang akan digembleng. Melalui sistem pendidikan yang memberikan pelajaran tsaqafah Islam (pemahaman Islam) yang porsinya cukup banyak dan pembelajaran lain yang akan membentuk pola sikap dan pola pikir islami serta mampu dalam urusan dunia (sains dan teknologi). Selain itu, fungsi keluarga akan berjalan normal. Artinya anak-anak akan mendapatkan porsi semua kebutuhannya dengan baik. Sebab, semua kebutuhan pokok akan dipenuhi oleh negara. Sehingga para ibu tidak lagi harus bekerja dan meninggalkan anak-anaknya. Para ibu akan fokus menyiapkan anak-anaknya menjadi calon para pemimpin dunia dan para ayah akan bekerja dengan sungguh-sungguh.

Kedua, kontrol masyarakat. Bahwa dalam masyarakat Islam, memiliki sifat yang khas yakni melakukan amar makruf nahi mungkar. Dengan sifat seperti ini maka kemaksiatan tidak akan tumbuh subur. Sebab masyarakat akan saling mengontrol dan menjaga. Hal ini digambarkan seperti penumpang kapal. Mereka yang ada di bawah kapal hendak mengambil air dengan cara melubangi kapal tersebut. Tentu kalau ini dibiarkan maka akan tenggelam semuanya. Maka para penumpang yang ada di atas kapal akan memberikan air tersebut kepada penumpang yang di bawah. Sehingga semuanya aman dari bahaya. Demikian gambaran kehidupan dalam masyarakat Islam.

Ketiga, negara yang kuat dan kokoh. Faktor terbesar dalam membentuk masyarakat adalah negara. Jika negara menerapkan sistem kehidupan Islam maka akan mendapatkan keberkahan dari langit dan dari bumi sebagaimana firman Allah Swt., “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. al-'Araf : 96)

Sebab Islam akan mampu menyelesaikan berbagai problematika kehidupan termasuk masalah-masalah yang terjadi pada anak, remaja dan keluarga. Negara akan menjamin setiap kebutuhan pokok masyarakat hingga individu per individu, menjamin pelayanan dasar seperti kesehatan, keamanan dan pendidikan. Kemudian dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut negara menerapkan kurikulum yang berbasis akidah Islam, membentuk syakhsiyah Islamiyah pada anak-anak dan mengajarkan berbagai keterampilan untuk hidup termasuk sains dan tekhnologi.

Selain itu, negara juga tegas dalam menerapkan sanksi terhadap pelaku kejahatan termasuk pelaku kemaksiatan. Negara akan menyediakan qhodi (hakim) pada sekolah-sekolah tingkat atas. Sebab pada sekolah tingkat atas, anak-anak sudah mencapai baligh dan diterapkan atasnya hukum-hukum, termasuk sanksi jarimah (kejahatan). Negara juga melarang keras peredaran film-film porno dan tidak mendidik lainnya juga melarang perdagangan alkohol dan narkoba.

Demikianlah pengurusan umat termasuk anak-anak di dalamnya oleh negara Islam yakni negara khilafah Islamiyyah. Penguasanya akan bertindak seumpama penggembala, yang akan senatiasa menjaga dan memperhatikan setiap individu umatnya. Sebab di sisi Allah mereka akan mempertanggungjawabkan seluruh amanah yang dipikulnya.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top