Oleh : Reka Nurul Purnama
(Ibu Rumah Tangga & Aktivis Dakwah)

Ini akan menjadi catatan sejarah yang memilukan bagi Indonesia, pasalnya kasus infeksi virus Corona di Indonesia melampaui catatan jumlah infeksi di China pada Sabtu 18 Juli 2020. Disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers dari Graha BNPB berdasarkan data pemerintah Indonesia hingga Sabtu pukul 12.00 WIB, diketahui ada 1.752 kasus baru Covid-19, sehingga total kasus infeksi di Indonesia berjumlah 84.882 kasus, terhitung sejak 2 Maret 2020. Sedangkan China mencatatkan total 83.644 kasus setelah adanya 22 tambahan kasus harian melansir data Worldometers terhitung sejak Desember 2019. (Dikutip dari kompas.com)

Indonesia yang pada awal tahun sangat percaya diri bahwa virus Corona tidak akan masuk ke Indonesia -yang diungkapan beberapa pejabat negara dengan terkesan non ilmiah- , kini harus kalang kabut menghadapi virus yang menyebar dengan masif ini. Indonesia hari ini menjadi sorotan dunia, karena kasus baru yang terinfeksi Covid-19 malah terus bertambah, sekitar 1500 per harinya. Sedangkan China yang merupakan negara pertama yang terjangkiti virus Covid-19 ini telah berhasil menekan pertambahan kasus baru, China digadang-gadang berhasil menangani pandemi ini dengan konsep lockdown, tetapi setelah melonggarkan lockdown China pun harus kembali menerapkan lockdown ketat kembali karena adanya pertambahan kasus baru yang terinfeksi Covid-19.

Penanganan Indonesia dengan China pun sangat berbeda. Indonesia dengan konsep PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebagai upaya pencegahan virus Corona dan ini hanya berlaku di beberapa kota yang memang kasus terinfeksi Covid-19 dengan jumlah yang banyak seperti Jakarta, Surabaya, dan kota yang lain. Setelah memberlakukan PSBB dari awal Maret, beberapa kota seperti Jakarta mulai melakukan pelonggaran PSBB pada awal Juni dengan dimana PSBB transisi. Begitupun yang terjadi di kota-kota besar lain di Indonesia, PSBB mulai dilonggarkan karena pemerintah pusat juga mendukung konsep new normal life yang digagas oleh PBB. Hasil dari pelonggaran PSBB ini adalah euforia masyarakat untuk keluar rumah hanya. Jalanan penuh kembali, pasar, alun-alun, tempat wisata kembali dipenuhi oleh banyak orang, kebanyakan yang keluar rumah itu tanpa ada kebutuhan mendesak. Seperti gayung bersambut, "ajakan" pemerintah untuk menyambut new normal life, disambut baik ajakan itu oleh masyarakat. Padahal Indonesia belum memenuhinya syarat untuk memberlakukan new normal, yang harus 0 kasus baru terinfeksi Covid-19 selama 14 hari.

Pada masa genting pandemi seperti ini, jelaslah bahwa masyarakat Indonesia perlu pemerintahan yang serius melindungi rakyatnya dari ancaman virus yang bisa merenggut nyawa siapapun. Pandemi ini bukan perkara remeh temeh, dimana masyarakat secara individu bisa menjaga dirinya sendiri tanpa adanya peran pemimpin negara. Peran pemimpin suatu negerilah yang berperan banyak, semakin baik peran pemimpin dalam menekan jumlah kasus Covid-19 semakin baik juga hasil dan respon masyarakat. Nampaknya pemerintahan Indonesia belum memaksimalkan kebijakan agar tidak lagi banyak korban meninggal ataupun positif dari Covid-19. Meskipun pemerintah sudah menggelontorkan sekian triliun untuk menangani virus ini, tetapi pada teknisnya tersendat di tengah jalan, dana yang sudah cair tidak mencapai 2%. Dan juga pemerintah sudah membuat tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19. Namun nyatanya belum menghasilkan hasil yang signifikan.

Apabila kita melihat latar belakang Indonesia dan China, maka sangatlah berbeda. China terkenal sebagai negara komunis, yaitu tidak percaya akan adanya Tuhan. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa China adalah negara kapitalis karena sistem ekonominya, sistem kapitalis juga lebih menjungjung materi yang akan dihasilkan dan mengenyampingkan agama meskipun mereka percaya akan adanya Tuhan. China serius menangani pandemi karena itu akan mempengaruhi aktivitas ekonomi, semakin baik penanganan semakin cepat stabil roda ekonomi.

Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduknya muslim, meskipun kebijakan-kebijakan pemerintah tidak berlandaskan Islam. Banyak kalangan yang mengatakan alasan pemerintah memberlakukan new normal adalah untuk menyelamatkan ekonomi negara. Namun di sisi lain, pemerintah mengabaikan keselamatan rakyat. Apabila pemerintah Indonesia mau melirik bagaimana Islam menyelesaikan suatu permasalahan, maka akan ada solusi bagi Indonesia bagaimana seharusnya menghadapi pandemi ini. Islam sangat menghargai nyawa seorang manusia, oleh karena itu sistematis Islam memiliki sejumlah kebijakan dan aturan yang  akan melindungi  manusia dari ancamam nyawa. Islam bukan hanya agama ritual, tetapi Islam adalah sistem hidup yang bisa menyelesaikan segala permasalahan. Islam memberikan contoh adanya lockdown di kota dan awal virus itu ada, dengan menjamin kebutuhan masyarakat selama lockdown, dengan semata-mata melindungi rakyatnya dari virus. Apabila wabah sudah terkunci di suatu kota atau negara, maka wilayah lain tidak akan terdampak, sehingga aktivitas manusia maupun roda ekonomi akan berjalan seperti biasa. Islam juga akan menempuh berbagai cara untuk melindungi rakyatnya dari ancaman nyawa. Salah satunya adalah menggelontorkan sejumlah dana untuk penelitian yang dilakukan para ahli sehingga didapati obat yang bisa menyembuhkan yang terserang penyakit. Negara yang berdasarkan kepada Islam juga akan tetap mempertimbangkan saran para ahli yang memang paham bagaimana negara harus melangkah dan mengambil keputusan. Indonesia perlu belajar kepada bagaimana Islam menyelesaikan masalah, bagaimana Islam melindungi satu nyawa manusia sekalipun, padahal Indonesia adalah negara berTuhan. Seharusnya menjadi mudah bagi negeri ini menjadikan Islam landasan dalam kehidupan, sehingga negeri ini punya landasan yang jelas dalam menghadapi masalah, seperti pandemi saat ini.

Wallahu a'lam.[]
 
Top