Oleh : Dra. Hj. Ummu Salma
Kontributor media Lenteranyahati

Kalimat bernada frustrasi seringkali terucap dari lisan sebagian masyarakat yang sudah bingung mengikuti perkembangan penanganan Covid-19 ini. Terserahlah, biarlah, entahlah .... Apapun keputusan dan kebijakan pemerintah, toh pada kenyataannya Covid-19 belum ada tanda-tanda akan meninggalkan negeri yang sedang dirundung kegalauan. Berbagai program, berbagai kebijakan  sudah diambil dan dijalani, dalam rangka menghentikan mata rantai penyebaran Covid-19. Hasilnya lagi-lagi gagal. Jumlah masyarakat yang terpapar covid-19 terus bertambah. Sampai tanggal 29 Juni 2020 telah tercatat terkonfirmasi 55.092 orang, dirawat 28.487 orang, sembuh 23.800 orang, dan yang meninggal 2.805 orang.

Melihat fakta di atas para ahli berpandangan bahwa tingginya angka kasus baru corona di berbagai daerah karena pelonggaran PSBB / AHB (Adaptasi Hidup Baru) atau new normal di tengah kondisi ketidaksiapan masyarakat. Karenanya program new normal selayaknya dicabut. Sementara pihak pemerintah beralasan bahwa tingginya angka kasus baru corona karena faktor tes massif dan pelacakan agresif yang dilakukan pemerintah. Padahal semua ini adalah tanggung jawab Negara untuk melakukan tes dan pelacakan agar memastikan individu terinfeksi tidak menularkan kepada yang sehat. Juga merupakan kewajiban Negara mencari jalan ke luar yang jitu bagi pemenuhan kebutuhan dasar (asasiyah) masyarakat yang terdampak pembatasan selama masa karantina. Semestinya pula, kelesuan ekonomi yang dialami oleh pelaku ekonomi raksasa (kapitalis) tidak menjadi pendorong kuat bagi pemerintah untuk memberlakukan new normal dengan resiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas.

Dalam sistem Kapitalisme yang diutamakan adalah kemaslahatan dan keuntungan materi. Hal ini lah yang menjadi prinsip yang harus dipertahankan keberadaannya. Demi meraup keuntungan segala macam cara akan dilakukan, sekalipun kontradiktif dengan aturan lainnya. Para pengusaha yang berkepentingan  memperpanjang keberlangsungan berbagai proyek dan bisnis di negeri ini. Kemaslahatan dan kepentingan rakyat yang sering kali diajukan menyertai lahirnya kebijakan, hanyalah alasan klise supaya ketetapan ini diterima tanpa ada perlawanan. Hal ini memicu tumbuhkembangnya gurita Oligarki, yang telah memiliki kedudukan sangat tinggi dibandingkan dengan kepentingan rakyat banyak. Maka alangkah naif, jika umat Islam hari ini masih belum sadar juga dari tidur panjangnya. Berlama-lama mengharap sistem kapitalisme ini akan memberi kebaikan pada mereka. Padahal berbagai bukti bertebaran di depan mata, bahwa sistem ini jelas-jelas hanya menempatkan maslahat umat sebagai ladang untuk mencari keuntungan semata.

Khailafah Satu-satunya Solusi Tuntas Pandemi Corona

Sudah saatnya umat kembali ke pangkuan sistem Islam. Dimana  negara dan penguasanya siap menjalankan amanah sebagai pengurus dan perisai umat dengan akidah dan syariat. Hingga kehidupan akan kembali dilingkupi keberkahan dan kemuliaan. Sebagaimana Allah Swt. telah memberi mereka predikat bergengsi, sebagai sebaik-baik umat.

Dengan kekuatan iman, adanya bisyarah Rasulullah saw., serta fakta-fakta yang ada, kita harus yakin bahwa setelah peradaban kapitalisme hancur, akan muncul fajar kebangkitan Islam yakni dengan tegaknya Kembali daulah khilafah Islamiyah. Tentu kita masih ingat peristiwa penaklukan Konstantinopel terjadi pada fajar hari Selasa 20 Jumadil Ula 857 H. Itu adalah bukti dari bisyarah Rasulullah saw.

“Sungguh Konstantinopel pasti ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin penaklukan itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu.”

Peradaban Islam adalah satu-satunya peradaban berkarakter mulia, pemberi rasa tenteram dan ketenangan bagi kehidupan umat manusia. Karakter yang begitu sempurna telah ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan penyejahtera bagi seluruh alam.” (TQS. al-Anbiya [21]: 107)

Lebih dari pada itu, keberadaan peradaban Islam yang berdasarkan akidah Islam menjadikannya sebagai satu-satunya peradaban yang sesuai fitrah bani insan. Di samping karena gambarannya tentang kehidupan sebagai aktivitas yang berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah dan arti kebahagiaan berupa rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semua hal ini meniscayakan dalam peradaban Islam terwujud nilai materi, spiritual, kemanusiaan, dan moral secara serasi. Ini di satu sisi, di sisi lain menihilkan aspek hegemoni bersamaan dengan terwujudnya fungsi negara yang sahih. Sehingga, manusia pada posisi mulia di tengah pesatnya kemajuan sains dan teknologi. Buah manis keharmonisan peradaban Islam dengan kebenaran sains.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan dalam QS Al Isra (17): 70, yang artinya, “Kami telah memuliakan anak-anak Adam.”

Tidak sekadar konsep, peradaban Islam dengan karakternya yang mulia sebagai pewujud kesejahteraan seluruh alam, benar-benar telah teruji selama puluhan abad dan di dua per tiga dunia. Ini semua telah diukir oleh tinta emas peradaban sejarah.

Hari ini, dengan karakternya yang begitu sempurna, peradaban Islam adalah satu-satunya harapan dunia. Pembebas dari pandemi Covid-19 yang berlarut-larut. Juga pembebas dunia dari agenda hegemoni. Baik di Timur oleh Cina dan sekutunya, maupun di Barat oleh AS dan sekutunya. Berikut dengan lembaga internasional seperti WHO, PBB, WB, IMF, dan korporasi raksasa dunia yang menjadikan kesehatan dan nyawa manusia sebagai objek hegemoni. Pada gilirannya, peradaban Islam –Khilafah– akan membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya dengan izin Allah Swt.
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din yang benar agar dimenangkan-Nya atas semua din. Dan cukuplah Allah sebagai saksi…” (TQS. al-Fath [48]: 28).
Wallahu a'lam bi ash-shawwab.
 
Top