Oleh : Ummi Lia
Ibu Rumah Tangga, Cileunyi Kabupaten Bandung-Jabar

Sesungguhnya Rasul saw. bersabda: “Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lobang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umat muslim Bosnia menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebenica pada Sabtu (11/7) waktu setempat, di tengah pandemi virus corona Covid-19. Meskipun jumlah peserta menurun dari tahun-tahun sebelumnya, tapi tak sedikit pelayat yang berani menentang aturan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran Covid-19 demi menghadiri peringatan tersebut. Peringatan tahun ini sekaligus menjadi upaca penguburan sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir. (CNN Indonesia, 12/7/2020)

Menurut sejarah, Bosnia-Herzegovina yang secara informal disebut Bosnia merupakan sebuah negara di Semenanjung Balkan Eropa Tenggara. Negara ini memiliki beragam etnis dan agama, seperti di Indonesia. Meskipun beragam ada tiga etnis yang terbesar di negara ini yaitu 44% kaum Bosniak (etnis Bosnia yang pada umumnya beragama Islam), 31% kaum Serbia dan 17% kaum Kroasia, berdasarkan sensus tahun 1991.

Ketika Republik Sosialis Federal Yugoslavia mengalami kegagalan, Bosnia-Herzegovina memisahkan diri pada tahun 1991. Hasil referendum pada 1 Maret 1992, 99,7% rakyat Bosnia memilih menjadi negara Bosnia yang berdaulat. Pada 3 Maret 1992, setelah pemungutan suara Presiden Izethegovic memproklamirkan kemerdekaan Bosnia. Sebulan kemudian mendapatkan pengakuan internasional.

Tapi sayang, kaum Serbia di Bosnia menolak kemerdekaan tersebut, karena pada saat referendum hampir tidak ada orang Serbia yang memberikan suara. Selain itu orang Serbia yang tinggal di Bosnia tidak menginginkan negara Bosnia merdeka, tapi mereka ingin menjadikan Bosnia sebagai bagian dari negara Serbia Raya.

Tak lama setelah kemerdekaan Bosnia masih di tahun yang sama, pasukan Serbia yang dipimpin Ratko Mladic dengan dukungan Milosevic dan tentara bekas negara Yugoslavia yang didominasi etnis Serbia, menyerang dan membombardir ibu kota Bosnia, Sarajevo. Presiden Bosnia, Izethegovic, melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan Bosnia. Pada akhirnya, karena keganasan militer Serbia, mereka hanya bisa mengikuti perintah atau dibunuh. Hal mengerikan berikutnya yang terjadi adalah proses pembersihan etnis atau genosida yang dilakukan orang Serbia terhadap orang Bosnia.

Pembantaian yang terjadi di Srebenica tahun 1995 silam jadi sejarah kelam yang melingkupi Eropa. Ribuan warga muslim Bosnia menjadi korban dari peristiwa itu. Pasukan penjaga keamanan PBB yang memegang senjata ringan, yang ada di wilayah yang dinyatakan sebagai “daerah aman” PBB, tidak melakukan apa-apa ketika kekerasan berkobar di sekitar mereka. Mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan mengatakan, “Tragedi Srebenica akan selamanya menghantui sejarah PBB.” (BBCnews Indonesia, 11/7/2020)

Pada 11 Juli 1995, usai Srebenica dikepung, pasukan Serbia membunuh lebih dari 8000 pria dan anak lelaki muslim dalam beberapa hari. Hai itu terjadi karena paham nasionalisme, itulah yang menjadi akar masalah dari perang Bosnia. Dengan nasionalisme seolah wajar satu etnis menyerang dan menggenosida etnis lainnya.

Nasionalisme adalah ikatan antar manusia yang didasarkan atas ikatan kekeluargaan, klan dan kesukuan. Nasionalisme muncul di antara manusia tatkala pemikiran mendasar yang mereka emban adalah kehendak untuk dapat mendominasi. Hal ini dimulai dari keluarga, yang di dalamnya satu dari anggota keluarga tersebut menunjukan kekuasaannya untuk memimpin segala urusan keluarganya. Jika hal ini telah tercapai, orang ini akan melebarkan sayap kepemimpinannya kepada masyarakat, yang merupakan bentuk perluasan dari sebuah keluarga. Dengan cara ini, keluarga-keluarga tersebut juga berusaha untuk meraih kekuasaan di masyarakat tempat mereka hidup. Tahap selanjutnya adalah persaingan antar suku, yang masing-masing hendak mendominasi yang lain agar mendapatkan hak-hak istimewa dan prestise yang didapatkan karena kekuasaan. Nasionalisme yang berlebihan bisa mendorong munculnya rasisme. Itulah yang terjadi pada kaum Serbia yang menyerang Bosnia. (Akar Nasionalisme di Dunia Islam, Shabir Ahmed dan Abid Karim)

Lebih dari itu nasionalisme benar-benar telah menghapus keberkahan persatuan kaum muslim di bawah naungan sistem kekhilafahan Islam, hingga akhirnya tercerai-berai ketika Mustafa Kemal meruntuhkan khilafah pada tahun 1924. Selanjutnya tangan-tangan keji kaum kafir dengan begitu serakah menjarah keberkahan itu dan menggantinya dengan mimpi buruk penerapan sistem sekularisme atau sosialis komunisme.

Oleh karena itu, perang antar etnis dan tragedi Srebenica begitu jelas menegaskan pentingnya penegakkan kembali khilafah untuk menaungi bangsa-bangsa yang muslim khususnya dan bangsa-bangsa yang ada di muka bumi ini seluruhnya. Ini benar-benar pelajaran penting bagi generasi umat Rasul saw. yang hidup di masa sekarang, bahwa tanpa khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa manusia.

Meskipun tidak dibuat berkonflik fisik yang berwujud pembantaian massal, realitasnya tetap akan mengondisikan umat dalam sistem yang menyengsarakan bahkan tidak manusiawi. Karena bagi kaum kafir, mimpi terbesar mereka adalah kembali tegaknya khilafah. Ini menunjukkan bagaimana kebencian kaum kafir kepada kaum muslim adalah abadi.

Firman Allah Swt.

“… Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami) jika kalian memahami.” (TQS Ali Imran: 118)

Ini pula argumentasi kuat mengapa khilafah merupakan perkara terbesar bagi kaum muslim. Karena saat ini, di mana ada lembaga internasional yang bersuara? PBB? Terkhusus tragedi Srebenica, adalah bukti yang sangat kuat ketiadaan perlakuan adil PBB terhadap negara yang berpenduduk muslim.

Faktanya, PBB tak ubahnya alat legitimasi kebengisan segelintir penjahat peradaban untuk memuaskan nafsu kedengkian terhadap Islam dan kaum muslim. Menurut sejarah kelahirannya pun, PBB hanyalah adaptasi dari ikatan persaudaraan kaum kafir untuk menghancurkan persatuan umat Islam.

Sekali lagi jejak sejarah terlalu pekat untuk dihapus. Bosnia-Herzegovina memiliki sejarah yang panjang dengan Islam. Tahun 1463 hingga tahun 1480, Turki Utsmani berhasil menguasai berturut-turut Bosnia dan Herzegovina. Menurut Scuman dalam “Nations in Transition Bosnia and Herzegovina” (2004), menjelaskan para sultan Utsmani melindungi hak-hak orang non muslim di wilayah yang dikuasainya untuk hidup secara wajar dan beribadah.

Dalam kekuasaan Turki, kota Vrhbosna menjadi pusat kegiatan politik, pendidikan dan budaya masyarakat. Puluhan masjid dan ratusan sekolah untuk umum dibangun. Menjelang pertengahan tahun 1500-an Vrhbosna telah memiliki tata kota yang cukup modern, lengkap dengan sistem irigasi, fasilitas kesehatan publik dan destinasi wisata. Pada masa inilah kota tersebut berubah namanya menjadi Sarajevo, yang diambil dari bahasa Turki saraj (istana) dan ovas (tanah terbuka).

Rekam jejak keberkahan penerapan sistem Islam di Bosnia ini bukan klaim. Yang mengabadikan dengan tinta emas sejarah bukan hanya sejarawan muslim, tapi juga sejarawan non muslim. Semua tak akan mengelak akan bukti keberkahan ini. Lalu perlu bukti apa lagi untuk kita bersegera kembali menerapkan sistem Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah?

Wallahu a’lam bish-shawab.
 
Top