Oleh : Enok Sonariah
Kontributor media Lenteranyahati

Semoga sakinah, mawaddah wa rahmah, itulah lantunan doa yang biasa disampaikan para tamu undangan bagi kedua mempelai yang baru menikah. Rumah tangga harmonis, tenteram, saling mencintai, saling menyayangi serta langgeng menjadi dambaan setiap pasangan.

Kenyataannya apa yang didamba, seringkali sulit terwujud. Ada istri merasa tidak nyaman dengan suaminya karena terlalu dikekang. Sebaliknya ada suami dipusingkan dengan kelakuan istrinya karena tidak bisa mengatur uang belanja. Awalnya saling menyayangi, berjalannya waktu saling membenci. Rumah tangga jauh dari kata sakinah, yang ada rumah tangga banyak masalah. Pada akhirnya tidak sedikit berujung dengan perceraian.

Perceraian dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang dibolehkan walaupun dibenci oleh Allah Swt., sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:

"Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak." (HR. Abu Dawud)

Tidak bisa dinafikan, dari sekian banyak pernikahan, ada saja rumah tangga yang gagal mewujudkan ketenteraman. Maka solusi terakhir, sesuai ketentuan syariah adalah perceraian.

Akan tetapi kalau perceraian terus meningkat, dalam sebulan saja terjadi ribuan perceraian, tentu saja ada sesuatu yang mesti diteliti penyebabnya, karena sudah termasuk kategori tidak wajar. Selama bulan Juni 2020, sebagaimana dilansir dari Tribuncirebon.com, telah terjadi peningkatan perceraian di Kabupaten Bandung hingga mencapai 1.102 perceraian, yang bulan sebelumnya mencapai 700 perceraian. Ahmad, selaku Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Soreang mengungkapkan latar belakang perceraian rata-rata dipicu masalah ekonomi. Sedangkan untuk kasus KDRT jumlahnya sedikit yaitu sekitar 5%. Ahmad menambahkan sebelum pandemi ataupun sesudah pandemi, penyebab perceraian masih itu-itu juga didominasi masalah ekonomi.

Kalaupun ada sebagian pengamat menyimpulkan bahwa tingginya angka perceraian karena pandemi, ternyata pandemi hanyalah menjadi penggenap dari kesulitan para suami memenuhi nafkah bagi anak-istri yang sebelum pandemi sudah sulit.

Faktor penyebab sesungguhnya adalah karena tidak diterapkan Islam kaffah baik di rumah tangga maupun negara. Rumah tangga menjadi rentan terhadap ujian ketika Islam hanya difahami mengatur ibadah ritual saja. Begitupun negara, yang seharusnya menyediakan lapangan kerja khususnya bagi para suami, malah sibuk meladeni kepentingan asing, aseng dan para pengusaha. Gelombang PHK tidak menyurutkan penguasa untuk tetap mempersilakan TKA Cina menggeser lahan kerja rakyat sendiri. Di tengah pandemi yang kian menghimpit, cari nafkah kian sulit, belum cukup mengetuk nurani penguasa negeri, tetap abai tak perduli. Padahal rumah tangga yang rapuh berpengaruh besar terhadap lemahnya generasi.

Seolah hendak menunjukkan kepeduliannya, sertifikat pra nikah segera digulirkan dengan tujuan agar masing-masing suami-istri memahami tanggung jawabnya. Sejauh ini sertifikat pra nikah tidak efektif menahan laju perceraian. Apalah artinya suami yang memahami tanggung-jawab nafkah, tapi sulit mendapatkan pekerjaan.

Adakalanya pekerjaan ada, tapi suami sakit, sehingga tidak mampu menunaikan kewajibannya. Dari sini terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara negara yang menerapkan Islam kaffah dengan yang tidak. Santunan akan terus diberikan oleh penguasa tidak berbatas waktu, bukan sekedarnya seperti saat ini. Seluruh warga negara tidak akan dibiarkan terlantar, mendapat kesulitan walaupun hanya satu orang. Kesadaran akan hubungannya dengan Allah Swt., yang telah mengamanahkan kepengurusan seluruh rakyat di pundaknya, terwujud dalam bentuk kepedulian yang bisa dirasakan oleh semua.

Negara yang menerapkan Islam kaffah, pemimpinnya akan bertanggung jawab pada kelangsungan rumah tangga rakyatnya. Dengan menghilangkan faktor pemicunya, sehingga perceraian bisa diminimalisir. Negara berkemampuan menyejahterakan rakyatnya karena pengelolaan Sumber Daya Alam sesuai syariat, sehingga mendatangkan berkah. Di samping itu negara pun akan memperhatikan masalah sosial, pendidikan, sanksi hukum dan yang lainnya sesuai standar Islam.
 
Top