Oleh: Elta Trimulia

“Presiden Joko Widodo meminta masyarakat bersiap untuk menjalani kehidupan new normal. Dengan kondisi masyarakat dapat kembali hidup normal namun harus menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penyebaran Covid-19”. Kata Menko PMK Muhadjir Effendi dalam video conference bersama Presiden Jokowi (Liputan6.com, 18/5//20).



 Indonesia merupakan salah satu negara yang mengikuti konsep penerapan “new normal” yang dicanangkan oleh World Health Organization (WHO). New normal yaitu kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar (protokol) kesehatan untuk mencegah penyebaran kasus Covid-19.
Pemerintah telah merilis beberapa skenario new normal life untuk pekerja (PNS, BUMN, dan Perusahaan) dengan alih-alih untuk menstabilkan dan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia. 



Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Dwi Wahyu Atmaji mengatakan skenario ini merupakan pedoman yang disiapkan agar PNS dapat bekerja dengan optimal selama vaksin Corona belum ditemukan, waktu penerapan skenario kerja new normal ini akan bergantung pada arahan dari gugus tugas covid-19 (detik.com, 24/5/2020). 



Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Hermawan Saputra mengkritik pemerintah tentang persiapan pemerintah dalam menjalankan kehidupan new normal. Menurut beliau “Jadi wacana new normal itu hanya akan efektif bila pada kasus yang sudah berhasil terlewati atau terkendali dengan baik” (merdeka.com 25/5/20). 
Beberapa syarat yang harus dilakukan untuk menerapkan konsep new normal yang pertama, harus sudah terjadi perlambatan kasus, kedua sudah dilakukan optimalisasi PSBB, ketiga masyarakatnya sudah lebih mawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh, dan keempat pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal.



Pemerintah pun telah menerbitkan protokol kesehatan dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK. 02.01/MENKES/335/2020 tentang Protokol Pencegahan Penularan Corona Virus Disease (COVID-19) di tempat kerja Sektor Jasa dan Perdagangan dalam mendukung keberlangsungan usaha. Dalam surat edaran tersebut berisi tentang melakukan pembatasan jarak fisik minimal satu meter, memberikan tanda khusus yang ditempatkan dilantai area padat pekerja seperti ruang ganti, lift, dan area lain sebagai pembatas jarak, pengaturan jumlah pekerja yang masuk agar memudahkan penerapan menjaga jarak, dan menggunakan pembatas di meja atau di counter sebagai perlindungan tambahan untuk pekerja.



Kondisi New Normal Life yang baru dibicarakan langsung diterapkan, langkah yang diambil pemerintah ini di duga terlalu gegabah ,belum saatnya diterapkan karena kasus baru terus meningkat dari hari ke hari. Ini akan membuat persepsi masyarakat seolah-olah telah melewati puncak pandemi Covid-19, namun pada kenyataannya Indonesia belum melewati puncak dan masih diperlukan persiapan dalam new normal tersebut.



Di beberapa tempat, new normal life sudah mulai diterapkan dalam bentuk Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pusat-pusat kegiatan ekonomi, pusat-pusat ibadah, sarana dan prasarana transportasi, sudah mulai berjalan meski dengan berupaya menerapkan protokol kesehatan. Kita bahkan dipaksa untuk beradaptasi dengan berbagai ketidakstabilan kondisi, di era pandemi yang belum selesai dan masih terjadi lonjakan tapi kita sudah diminta untuk berdamai dan kita akan menempuh kehidupan new normal. 



Apakah urgensi dari arah kebijakan new normal? Sudahkah kita mempersiapkan diri bila lonjakan kasus penyebaran Covid-19 ini semakin tinggi? Bagaimana perencanaan dan fasilitas kesehatan apakah sudah cukup memadai?
Sejak awal kunci dari penyelesaian pandemi ini yaitu memutus rantai transmisi dengan mereduksi perpindahan orang-orang yang bisa terjadi, sayangnya kebijakan pemerintah yang terlalu banyak pertimbangkan kepentingan penguasa sehingga negara seolah tak berdaya dalam menanggulanginya. Kondisi new normal life dimana masyarakat dipaksa untuk berdampingan dengan virus Corona. Masyarakat belum menyadari sepenuhnya bagaimana yang akan terjadi pada gelombang kedua lonjakan yang tinggi pandemi covid-19. Kesiapan mental masyarakat yang dipertaruhkan, disatu sisi konsep new normal ini adalah hal positif  bagi orang-orang yang mendapatkan kerugian yang terkena dampak wabah Covid-19. Tetapi disisi lain ini adalah ancaman buruk bagi mental masyarakat karena tidak adanya kesiapan pemerintah dalam menghadapi wabah ini. Masyarakat diwajibkan mengikuti protokol kesehatan untuk menghindari penyebaran Covid-19 sedangkan pemerintah tidak menyediakan kelayakan dalam bidang kesehatan untuk mencegah Covid-19 ini sendiri.



Menurut Yanuar Nugroho, penasihat Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG), kalau masyarakat hidup bersama dengan virus ini, tapi tidak ada measure secara khusus untuk melindungi mereka yang rentan maka sama saja menghadapkan mereka dengan maut. Peta penyebaran Covid-19 tidak jelas karena tidak adanya tes masif untuk mendeteksinya. Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan, Indonesia harus bersiap menghadapi pandemi Covid-19 gelombang kedua jika pemerintah menerapkan new normal saat angka penularan virus Covid-19 masih tinggi.



 Jumlah kasus yang terpapar Covid-19 di Indonesia yang tercatat pada tanggal 09 Juni 2020 orang yang positif bertambah 1043 kasus menjadi 33.076, Sembuh 510 menjadi 11.414 dan yang meninggal 40 menjadi 1.923. 
Kondisi ini akan menambah penyebaran Covid-19 yang lebih luas. Hal ini menambah karut marut kebijakan dalam penanganan Covid-19. 



Ini adalah gambaran buruk kebijakan dalam sistem, wujud tak bertanggungjawab rezim penguasa pada keselamatan dan kesehatan rakyatnya. New normal adalah wujud dari rezim penguasa lebih berorientasi pada pertumbuhan laju ekonomi dan abai terhadap penanganannya. Rezim seperti ini sangat dibenci oleh Allah Swt.
 Nabi Muhammad saw. bersabda: 

“Manusia yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari-Nya adalah pemimpin yang jahat.” (HR. At-Tirmidzi).

“Barang siapa membahayakan seorang muslim, maka Allah pasti membahayakan dirinya dan barangsiapa menyengsarakan seorang muslim maka Allah pasti akan menyengsarakannya” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Lantas bagaimana pandangan Islam mengenai penerapan new normal life?

Dalam konsep maupun fakta penerapan sistem Islam dimasa normal (bukan pandemi), daulah Islam wajib menjamin kehidupan rakyat yang aman dan sejahtera. Apalagi pada saat masa pandemi terjadi, Daulah lslam akan menjadi garda terdepan. Daulah Islam akan lebih serius dalam memfasilitasi sarana kesehatan dan kebutuhan rakyatnya. Konsep Islam mengatur bahwa tugas pemerintah adalah melalukan pelayanan terbaik pada seluruh rakyatnya termasuk dalam aspek kesehatan, ekonomi, pendidikan tanpa pandang bulu baik yang kaya ataupun yang miskin, pengusaha, pekerja dan rakyat secara umum.



Nabi Muhammad saw. bersabda : “pemimpin itu adalah pelayanan. Dan dia bertanggung jawab atas seluruh rakyatnya”. 
Namun pada hari ini ketika penguasa menerapkan sistem kapitalis sekuler yang selalu menghitung untung rugi, jaminan itu tidak mudah didapatkan oleh rakyat.



Solusinya adalah Islam yang berasal dari zat yang paling mengetahui dan menguasai segala sesuatu yang diterapkan. Islam telah mengatur sejak awal bagaimana menangani wabah. Dari kitab Shahih Muslim Rasulullah saw bersabda : 

“Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah disuatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Namun ketika wabah meluas sehingga aktivitas keluar rumah harus dibatasi tentu Islam juga memiliki kesiapan perlindungan untuk menanggulanginya. Untuk itu dibutuhkan perlindungan optimal bagi rakyat dan penguasa tidak boleh abai dalam menangani wabah. Semua kebutuhan dasar masyarakat harus dijamin oleh negara. 

Sebagaimana firman Allah swt: 

“Apabila kamu ditolong Allah, maka tidak akan ada yang sanggup mengalahkan kamu dan menghinakan kamu. Maka siapakah yang dapat menolong kamu setelah pertolongan Allah? Dan kepada Allah-lah orang-orang beriman hendaknya bertawakal.” (QS. Al-Imran[3] :160)

Semua itu tentu bisa terlaksana jika para pemimpin menjalankan tuntunan islam dalam mengatasi wabah. Namun jika para pemimpin tetap memilih jalan kapitalisme sebagai solusi yang menjadikan faktor ekonomi diatas segalanya maka rakyat tidak akan lepas dari penderitaan. Rasulullah saw.  bersabda :

“Siapa yang diserahi Allah untuk mengatur urusan kaum muslim, lalu dia tidak memperdulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan memperdulikan kebutuhan dan kepentingan mereka pada hari kiamat” (HR.Abu Daud dan At-Tirmidzi).



Sudah saatnya umat sadar, untuk menyandarkan segala permasalahan hanya kepada aturan Allah Swt agar hidup kita senantiasa dipenuhi dengan keberkahan. Hanya sistem Islam yang mampu menjamin dan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di dunia pada saat ini.



“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih
baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS.al- Maidah[5]:50)

Wallahu a’lam bishawab.
 
Top