Oleh : Hermida I. Nur Aulia

Video Bintang Emon yang menanggapi kasus Novel Baswedan itu menjadi viral. Padahal dikemas dengan candaan ala stand up comedy. Dan kini menjadi perhatian netizen. Ia mengungkapkan keheranannya atas tindakan penyerang yang katanya "nggak sengaja".

Tuntutan jaksa pada kedua terdakwa yaitu 1 tahun penjara. Jaksa beralasan tuntutan itu sesuai dengan pasal yang diterapkan lantaran menurut jaksa kedua terdakwa tidak berniat sedari awal menargetkan untuk melukai bagian wajah Novel. (detik.com, 12/6/2020)

Maka wajar jika Bintang Emon mengungkapkannya dalam channelnya di youtube. Dilansir oleh detik.com, "Katanya nggak sengaja, tapi kok bisa sih kena muka? Kan kita tinggal di bumi. Gravitasi pasti ke bawah. Nyiram badan nggak mungkin meleset ke muka, kecuali Pak Novel Baswedan emang jalannya handstand, bisa lu protes," ujar Bintang Emon.

Mirisnya, pelaku yang telah melakukan tindakan penganiayaan berat itu hanya diberikan hukuman 1 tahun penjara. Sungguh hukuman yang tidak setimpal.

Kritik juga datang dari pengamat politik, Rocky Gerung. Ia mengibaratkan air keras yang disiramkan ke mata Novel Baswedan adalah air keras kekuasaan. Ia pun berharap mata publik tidak terbutakan dengan proses peradilannya. (VIVAnews, 14/06/2020)

Tidak adil bagi kasus Novel Baswedan, dimana pelaku hanya diganjar 1 tahun penjara. Hal ini tidak sebanding dengan kasus-kasus serupa sebelumnya. Sebut saja kasus penyiraman air keras dengan terdakwa Ruslan kepada istri dan mertuanya di tahun 2018 lalu dituntut 8 tahun penjara. Kasus dengan pelaku Heriyanto kepada istrinya sehingga menyebabkan kematian di vonis penjara 20 tahun, begitu halnya dengan kasus pelaku bernama Rika Sonata terhadap suaminya dituntut 10 tahun.

Inilah bukti bahwa ada keanehan dan ketidakadilan yang menimpa Novel Baswedan. Ibaratnya hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas. Benar-benar tidak adil. Keadilan hanya berlaku kepada orang-orang tertentu saja. Keadilan bukan diadili kepada orang yang benar tapi malah orang yang berbayar.

Inilah hukum buatan manusia. Tidak memiliki solusi tuntas. Hal ini sangat berbeda jauh dengan hukum Islam yang berhasil menguasai dua per tiga dunia dengan menerapkan hukum yang diambil dari Allah Azza wajallah.

Islam dalam menangani masalah ini benar-benar diteliti secara baik-baik. Jika telah melakukan tindakan kekerasan seperti halnya korban Novel Baswedan. Maka, akan dikenakan sanksi berupa qisas (balasan setimpal) ataupun diyat (denda) terhadap pelaku penganiayaan tersebut.

Sebagaimana Allah Swt. berfirman:

"Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya. Barang siapa yang melepaskan (hak qishash)-nya,  maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa yang dikembalikan. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (QS. al-Maidah [5]: 45)

Ayat ini telah menjelaskan bahwa hanya hukum Allah yang lebih baik dan tetap. Bukan malah hukum yang dibuat oleh manusia. Mereka bisa saja lalai untuk menjalankannya dan mereka tidak memiliki dalil yang kuat untuk mempertahankannya malah lebih cenderung menetapkan suatu hukum berdasarkan asas manfaat saja. Maka, tak heran jika selalu berubah-ubah hukumnya. Oleh karena itu, kita sulit memperoleh keadilan di sistem kufur saat ini.

Ketika hukum Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. kemudian diterapkan menjadi sebuah sistem dalam negara. Maka, rakyat merasa hidup aman karena khalifah menerapkan hukum Allah yakni Islam. Apalagi, masalah seperti ini.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top