Oleh : Anna Ummu Maryam
(Pegiat Literasi Peduli Negeri)

Sepak terjang FCL guru les musik di Sukabumi masih diselidiki personel Sat Reskrim Polres Sukabumi, pengakuan pria 23 tahun itu mencabuli 19 bocah juga masih ditelusuri polisi.

Saat melancarkan aksi bejatnya, selain mengajarkan alat musik pelaku juga mengaku memiliki ilmu kanuragan dan akan mentransfer ilmunya kepada korban. Ketika korban menolak, maka ditakut-takuti akan diikuti oleh makhluk gaib.

"Peristiwa itu diketahui orang tua korban pada Sabtu (27/6), korban mengaku mendapat perlakuan cabul dari pelaku. Ketika kita tindak lanjuti ternyata korbannya saat itu ada empat orang," kata Kasat Reskrim Polres Sukabumi AKP Rizka Fadhila, Senin (DetikNews.com, 29/6/2020).

Polres Nagan Raya, Provinsi Aceh, hingga Sabtu (18/4) siang masih mengamankan seorang tersangka berinisial AW (25) warga sebuah desa di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, karena diduga mencabuli seorang bocah perempuan berusia 10 tahun.

“Tersangka AW kita tangkap karena diduga mencabuli bocah yang merupakan tetangga sendiri,” kata Kapolres Nagan Raya, Aceh, AKBP Risno SIK di Suka Makmus, Sabtu.

Tersangka AW ditangkap polisi pada Jumat (17/4) malam sekira pukul 20.30 WIB di sebuah rumah di kawasan Desa Keudee Linteung, Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya.
(AntaraAceh.com, 18/4/2020)

Waspada Kemanan Anak

Kian hari setiap keluarga ketakutan akan keamanan anak mereka. Bagaimana tidak, dalam beberapa hari saja predator anak kian ramai kembali diperbincangkan yang terjadi diberbagai daerah.

Biasanya seorang ibu merasa tenang membiarkan anaknya bermain bersama teman-temannya di luar rumah. Namun kini harus ekstra hati-hati karena predator anak selalu mengintai di tengah kelalaian orang tua yang
mengawasi anak mereka.

Tentu ini adalah permasalahan yang serius dimana anak sudah tidak aman lagi berkumpul dan bermain bersama teman-temannya. Pengalaman yang pahit yang dirasakan oleh anak ini pasti akan berdampak pada mental dan fisiknya pada masa yang akan datang.

Terlebih jika hal tersebut disertai kekerasan yang menimbulkan trauma akut pada anak yang akan berefek hingga waktu cukup lama.

Dalam Pasal 82 ayat (1) Jo Pasal 76E dan/atau Pasal 88 Jo Pasal 76I UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan/atau Pasal 29 Jo Pasal 4 ayat (1) Jo Pasal 37 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Ini adalah sedikit gambaran dari banyaknya peraturan untuk mengatur tindakan kekerasan pada anak. Namun amat disayangkan, bukan malah berkurang dan takut para pelaku pedofil dalam melakukan aksinya namun makin banyak saja korbannya.

Segala cara telah ditempuh namun tak mampu menekan secara signifikan pelaku kejahatan terhadap anak. Ini menandakan bahwa kerja aparat keamanan harus lebih ekstra. Dan semua pihak harus bekerjasama dalam menjaga generasi agar hidup aman bermain bersama temannya.

Selain itu, ini juga membuktikan sistem kapitalis liberal sekular yang ada tidak mampu menyelesaikan permasalahan dan memberikan efek yang berat bagi pelaku kejahatan untuk menghentikan tindakannya.

Hal ini wajar terjadi karena aturan ini berasal dari buatan manusia. Tindakan dan pandangan manusia terkait fakta dalam memberikan solusi sejatinya tidak akan mampu menuntaskan permasalahan. Mengapa demikian?.

Karena peraturan yang lahir dari akal manusia tidak akan mampu mencapai hakekat kebenaran karena dicampuri oleh hawa nafsu dan kepentingan. Sehingga wajar setiap peraturan terus berganti dan tidak menyentuh akar permasalahan.

Keamanan Anak Dalam Islam

Islam hadir sebagai penjelas keimanan yang komplit. Karena selain mengatur ibadah kepada penyembahan yang benar, Islam juga menjelaskan tata cara penyelesaian permasalahan yang dialami manusia dari bangun tidur hingga bangun negara.

Menjadikan solusi ini sebagai solusi adalah konsekuensi dari keimanan itu sendiri. Sehingga wajar Islam adalah agama yang istimewa karena dilengkapi penyelesaian masalah yang unik.

Dalam pandangan Islam pelaku pedofil haram dihukum kebiri. Hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Saw dalam hadist. Dalil yang menunjukkan haramnya kebiri adalah hadits-hadits shahih, di antaranya dari Ibnu Mas’ud ra, dia berkata, ”Dahulu kami pernah berperang bersama Nabi saw sedang kami tidak bersama istri-istri. Lalu kami berkata (kepada Nabi saw), ‘Bolehkah kami melakukan pengebirian?’ Maka Nabi saw melarang yang demikian itu.”

(HR Bukhari no 4615; Muslim no 1404; Ahmad no 3650; Ibnu Hibban no 4141). (Taqiyuddin An Nabhani, An NizhamAl Ijtima’i fi Al Islam, hlm. 164; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 19/119).

Syariah Islam telah menetapkan hukuman untuk pelaku pedofilia sesuai rincian fakta perbuatannya, sehingga haram hukumnya membuat jenis hukuman di luar ketentuan syariah Islam. (QS Al Ahzab : 36). Rincian hukumannya adalah :

Pertama, jika yang dilakukan pelaku pedofilia adalah perbuatan zina, hukumannya adalah hukuman untuk pezina (had az zina), yaitu dirajam jika sudah muhshan (menikah) (HR Bukhari no 6733, 6812; Abu Dawud no 4438) atau dicambuk seratus kali jika bukan muhshan (QS An Nuur : 2);

Kedua,  jika yang dilakukan pelaku pedofilia adalah liwath (homoseksual), maka hukumannya adalah hukuman mati, bukan yang lain;

Ketiga, jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (at taharusy al jinsi) yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, hukumannya ta’zir. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 1480; Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul ‘Uqubat, hlm. 93).

Sanksi yang lahir dalam Islam memiliki dua efek yaitu efek jera bagi pelaku kejahatan dan efek penebus dosa bagi pelaku kemaksiatan atau kejahatan. Sehingga setiap orang akan benar-benar berfikir serius sebelum konsekuensi yang berat ini diterimanya.

Penerapan sistem yang memberikan ketenangan hidup kepada manusia ini diterapkan oleh negara sebagai sistem kehidupan. Maka wajar tindakan kriminalitas dapat ditekan sekecil mungkin.

Rasulullah saw dalam membangun negara Islam di Madinah dan dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya telah memberi contoh dan teladan kepada kita bahwa hanya aturan yang berasal dari Allah Swt lah satu-satunya peraturan yang benar yang harusnya diterapkan dalam kehidupan bernegara.

Maka jika ingin mengembalikan keamanan bagi seluruh manusia maka penerapan Islam secara kaffah adalah mutlak untuk diterapkan.

Wallahu a'lam bishshawab
 
Top