Oleh : Sofia Ariyani, S.S
Muslimah Pegiat Literasi dan Member AMK


Kebangkitan Islam mulai terasa menguar ke seluruh penjuru dunia. Kata "khilafah" tak lagi asing di telinga. Meski aktivitas ke jalan-jalan untuk menyeru Islam tidak dapat dilakukan akibat pandemi, akan tetapi pembicaraan khilafah kian memenuhi ruang-ruang virtual.

Namun, gaungnya "khilafah" tak disambut baik oleh musuh-musuh Islam. Bahkan sejak Rasulullah saw. mendirikan negara Daulah Khilafah Islamiyah di Madinah hingga detik ini gangguan-gangguan itu selalu ada. Hal ini nampak pada kebijakan-kebijakan negara yang mencabut BHP pada kelompok-kelompok dakwah yang lantang menyerukan Islam. Memenjarakan para pendakwahnya. Hingga memonsterisasi ajaran-ajaran Islam.

Bahkan pada hal terkecil pun negara siap mengeksekusi. Sebagaimana konten khilafah yang terdapat pada buku-buku sekolah telah dihapus.

Dilansir oleh makassar.terkini.id, konten radikal yang termuat di 155 buku pelajaran agama Islam telah dihapus oleh Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi. Namun, untuk materi Khilafah tetap ada di buku-buku tersebut.

“Dalam buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme,” ujar Menag lewat keterangan tertulisnya, Kamis, 2 Juli 2020 seperti dikutip dari CNN Indonesia. (makassar.terkini.id, 02/07/2020)

Dan menggantinya dengan program moderasi Islam yang dianggap lebih toleransi terhadap kehidupan beragama.

Dilansir oleh makassar.terkini.id, Menag juga menyampaikan bahwa pihaknya tengah menjalankan program moderasi beragama yakni pembangunan rumah moderasi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) serta penguatan bimbingan perkawinan.

“Presiden menggarisbawahi penguatan bimbingan perkawinan pada upaya membangun generasi sehat, kita perkuat lagi dengan moderasi beragama,” ujarnya. (makassar.terkini.id, 02/07/2020)

Paranoid, mungkin yang tengah dialami rezim saat ini. Ketakutan, ketidakpercayaan, yang tidak masuk akal merasuki tubuh rezim. Rezim melalui Menag mengatakan bahwa khilafah tidak relevan lagi di Indonesia. Padahal, adanya Indonesia berkat campur tangan kekhilafahan Utsmaniyah pada saat itu. Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pun tak luput dari perjuangan para ulama.

Apa yang telah dilakukan Menag adalah penyesatan sistematis terhadap ajaran Islam. Karena ajaran Islam dirasa berpotensi mengganggu kepentingan para penguasa. Jika kebijakan ini ditetapkan akan menghasilkan kurikulum pendidikan sekuler anti Islam. Alhasil kedepannya umat didorong untuk menggunakan aturan buatan manusia, bukan lagi merujuk pada aturan Islam.

Hal ini tentu bahaya bagi kehidupan umat manusia. Lihat saja sistem kapitalisme saat ini yang berakidah sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) sudah nampak jelas kerusakannya di mana-mana. Meracuni akidah, membantai raga, hingga merusak alam.

Sistem Islam dan sistem kufur (kapitalisme) memang bagai air dan minyak yang sulit untuk berfusi. Tidak akan mungkin untuk disatukan. Sistem Islam berasal dari Sang Maha Pencipta. Sedang sistem kufur (kapitalisme) berasal dari makhluk yang diciptakan. Kapitalisme menganggap Islam adalah musuh besar dan musuh bersama yang harus dimusnahkan. Oleh karena itu, Barat dalam RAND Corp telah memetakan Islam sebagai ancaman. NIC (National Inteligent Council) pun berpandangan senada. NIC sendiri telah meramalkan akan kebangkitan Khilafah Islamiyah yang menjadi momok bagi Barat.

Inilah salah satu proyek yang direncanakan Barat dalam memerangi Islam dengan mengobok-obok ajaran Islam. Dilansir oleh kompasiana, Jargon War Against Terorism ini merupakan salah satu bentuk rencana operasional AS dalam kerangka skenario 2020, yang dalam hal ini Indonesia sudah dijadikan ladang garapan yang dalam wujud kongkritnya berupa bantuan dana untuk proyek-proyek besar. Proyek besar tersebut dibagi dalam dua level yaitu pada level institusi negara dan level “civil society”. Pada level yang bersifat institusional dilakukan dalam bentuk-bentuk seperti, kerja sama intelijen counter terorism, pembentukan Densus 88 Anti Teror Polri dan Satgas Anti Teror Kejaksaan yang dibiayai oleh AS.
Sementara pada level “civil society” kucuran dana tersebut disalurkan melalui ribuan LSM, ormas Islam maupun media massa dan perguruan tinggi yang ada, dilakukan melalui program-program “brain wash” antara lain berupa, perubahan kurikulum pesantren dan public discourse yang terdiri dari : diskusi dan seminar terbuka serta penulisan buku dan artikel di media-media, dengan tema anti Islam dan “radikalisme” tetapi pro sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Ujung dari proyek ini adalah memapankan sistem kapitalisme yang dalam bentuk barunya dikenal dengan neo-liberalisme. (kompasiana.com, 09/03/2014)

Demikianlah ketakutan Barat terhadap Islam. Oleh karena itu, umat Islam harus sadar akan hal ini agar tidak diberangus oleh kafir Barat. Hal ini sudah jelas dikabarkan di dalam firman Allah Swt.,

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al Baqarah: ayat 120)

Mari bersama terus berdakwah menyampaikan Islam. Memahamkan umat pentingnya dakwah melanjutkan kehidupan Islam dan menghentikan kafir Barat dalam memerangi Islam. Hingga apa yang telah Allah Swt. janjikan akan tegak kembali Khilafah Islamiyah ala minhaj nubuwah segera terealisasi. Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top