Oleh : Bunda Alzam
Pendidik Generasi

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah kalian. Padahal kalian mengetahui.” (QS. al-A’raf : 27)

Menurut Ibnu Abbas ra ayat di atas bermakna “Janganlah kalian mengkhianati Allah dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban-Nya. Janganlah mengkhianati Rasul dengan meninggalkan sunnah-sunnahnya. Janganlah kalian bermaksiat kepada keduanya.” (Al-Qinuji, Fath al-Bayan, 1/162)

Di antara sekian banyak amanah-amanah, yang paling penting adalah amanah kekuasaan. Rasulullah saw. bersabda :

“Pemimpin yang memimpin rakyat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.” (HR. Al-Bukhari)

Sesuai dengan sabda di atas, siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan atau kekuasaan, pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. di akhirat nanti.

Generasi muslim pada masa lalu amat paham tentang betapa beratnya amanah kepemimpinan dan kekuasaan ini. Banyak nash yang menegaskan demikian. Rasulullah saw. bersabda :

“Penguasa mana saja yang diserahi tugas mengurus rakyat, lalu mengkhianati mereka, dia masuk neraka.” (HR. Ahmad)

Terkait dengan hadits ini, Imam Fudhail bin Iyadh menuturkan, hadits ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah Swt. untuk mengurus urusan kaum muslim baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepada dirinya, maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariat Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudud (hukum-hukum Allah). Penelantaran juga bisa berwujud pengabaikan terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka, dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka.

Adil dan Amanah

Sejarah peradaban Islam dalam sistem kekhilafahan selama berabad-abad telah melahirkan banyak pemimpin yang adil dan amanah. Khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shidiq ra misalnya, adalah sosok penguasa yang terkenal adil dan amanah. Beliau orang yang sabar dan lembut, namun beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas. Tatkala sebagian muslim menolak kewajiban zakat, beliau segera memerintahkan kaum muslim untuk memerangi mereka. Kemudian khalifah Umar bin al-Khatab, terkenal adil dan amanah. Beliau penguasa yang tegas dan disiplin, tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang ditenggarai berasal dari jalan yang tidak benar (lihat Tarikh al-Islam, II/388, Tahdzib at-Tahdzib, XII/267). Pada masa khakifah Umar, Gubernur Mesir Amr bin ‘Ash pernah menerapkan sanksi hukum (had) minum khamr terhadap Abdurrahman bin Umar (putra khalifah Umar). Pelaksanaan sanksi hukum semacam ini biasanya diselenggarakan di lapangan umum dengan tujuan memberikan efek jera bagi masyarakat. Namun Gubernur Mesir menerapkan hukuman di dalam rumah, ketika informasi ini sampai kepada khalifah Umar dan dengan segera mengirimkan sepucuk surat kepada Gubernur untuk mengulang sanksi hukum cambuk yang seharusnya dilakukan di depan publik.

Begitulah sikap Khalifah Umar dengan berpegang teguh pada syariat Islam. Beliau menerapkan kebijakan berupa persamaan di hadapan hukum. Meskipun itu putranya sendiri, ketika melakukan kesalahan, makan hukum Islam ditegakkan, tak ada nepotisme dan intervensi hukum. Dalam kisah lainnya, dalam kitan Siyar al-Muluk diceritakan ketika penguasa Bani Saljuk yang menenggak minuman keras bersama punggawanya, mereka pun dihukum cambuk oleh Qadhi Hisbah sebanyak 40 kali cambukan.

Selain adil dan amanah, para pemimpin Islam pada masa lalu juga amat hati-hati dengan harta negara. Seperti yang ditunjukkam Umar saat menjadi khalifah, beliau pernah dihadiahi minyak wangi kesturi dari penguasa Bahrain. Beliau lalu menawarkan kepada para sahabat, siapa yang bersedia menimbang sekaligus membagi-bagikan minyak wangi tersebut kepada kaum muslim. Saat itu, istri bernama Atikah menawarkan diri. Namun beliau dengan lembut menolaknya. Sampai tiga kali istri beliau menawarkan diri, akan tetapi khalifah tetap menolak dan berkata: Aku hanya tidak suka jika engkau meletakkan tanganmu di atas timbangan, lalu engkau menyapu-nyapukan tanganmu yang berbau kesturi itu ke tubuhmu. Dengan begitu berarti aku mendapatkan lebih dari yang menjadi hakku yang halal. (Al-Kandahlawi, Fadha’il ‘Amal, hal 590)

Keadilan hanya bisa diwujudkan di negara khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kafah di tengah-tengah masyarakat. Keadilan seperti inilah yang didambakan tak hanya oleh umat Islam, bahkan oleh orang-orang non muslim sekalipun. Begitulah sikap khalifah, jangankan korup sekadar kecipratan minyak wangi yang bukan haknya pun tak sudi.

Jelaslah hanya Islam yang bisa mendorong para pemimpin atau penguasa untuk selalu bersikap adil, amanah dan tidak korup. Sayangnya, pemimpin adil, amanah dan tidak korup tidak mungkin lahir dari sistem demokrasi sekuler yang memang kufur. Sistem zalim ini hanya akan melahirkan pemimpin zalim, khianat dan korup.

Pemimpin adil, amanah dan tidak korup hanya mungkin lahir dari rahim sistem yang bertumpu pada Al-Qur'an dan Sunah. Itulah sistem Islam yang diterapkan dalan institusi pemerintahan Islam. Itulah khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Wallahu a’lam bish shawab
 
Top