Oleh : Ummu Nadiatul Haq
(Member Akademi Menulis Kreatif)

"Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri", Buya Hamka.

Kemendikbud luncurkan gerakan "pernikahan massal" vokasi dan industri atau penyelarasan antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Tujuan utama dari gerakan ini agar program studi vokasi di perguruan tinggi vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.  Target dari program penguatan itu adalah sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) agar melakukan pernikahan massal pada 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri.
(antaranews.com, 27/5/2020)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, dalam peresmian pembukaan Konferensi Forum Rektor Indonesia (FRI) yang digelar secara virtual pada Sabtu, 4 Juli, mendorong upaya membangun ‘perjodohan’ atau kerjasama antara perguruan tinggi dengan industri, agar perguruan tinggi dan industri bisa terkoneksi saling memperkuat keduanya. Menurut Nadiem, kampus bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dunia usaha. Sedangkan pemerintah, kata Nadiem, memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian.
(lensaindonesia.com, 4/7/2020)

Terlihat jelas pengambil kebijakan berupaya untuk merumuskan peraturan dunia pendidikan yang berbasis pada kepentingan bisnis semata sebagaimana diinginkan oleh para pemodal/kapital. Hal yang wajar terjadi dalam sistem kapitalis.

Kebijakan ini semakin menunjukkan bahwa sistem pendidikan di negeri ini kian kehilangan visi pendidikan.  Kurikulum yang berubah mengikuti keinginan dunia industri, serta penyelenggaraan pendidikan yang disesuaikan dengan kepentingan bisnis telah mengaburkan cita-cita keilmuan para intelektual.  Ilmu yang digambarkan sebagai penerang bagi gulita kebodohan di tengah masyarakat, sedikit demi sedikit akan sirna.

Kebijakan ini semakin memperjelas mandulnya negara dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayan rakyatnya. Seluruh proses pendidikan, pengajaran juga pengabdian kepada masyarakat seharusnya dibiayai penuh oleh negara dan dimanfaatkan seluruhnya untuk kepentingan masyarakat. Bukan sebaliknya, menyerahkan ke dunia industri yang jelas-jelas ditujukan bagi kepentingan para pemodal dan dikomersilkan pada masyarakat.

Tujuan pendidikan faktanya hanya untuk mencetak output bermental buruh, bukan mencetak para pemikir. Para ahli ilmu yang disebutkan dalam Al-Qur'an memiliki kedudukan beberapa derajat lebih tinggi dibanding kaum awam, tak akan kita temui dalam sistem kapitalis seperti saat ini. Mereka menjadikan harta sebagai tujuan utama ketika menduduki bangku pendidikan tinggi dan tergiur dengan iming-iming harta yang tentu tidak akan mengangkat derajat sang ilmuan.  Padahal jelas dalam Al-Qur'an disebutkan “Allah meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  TQS. Al - Mujadalah: 11)

Kebijakan ini juga akan mengikis ketertarikan generasi muda negeri ini terhadap ilmu. Karena semua akan berakhir di dunia industri yang tidak perlu pendidikan tinggi.

Ilmu yang orientasinya hanya untuk kalangan industri, tidak akan tercetak generasi intelektual yang menjadi tumpuan masyarakat dalam menyelesaikan masalahnya, karena para ahli sibuk melayani kepentingan korporasi.  Tidak muncul di tengah-tengah umat para pakar ilmu pengetahuan yang arif, pemimpin yang ikhlas, para mujtahid dan fukaha, ahli tafsir, ahli teknik, dan engineering yang mendalami berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ini tidak akan ditemui dalam sistem pendidikan Islam. Dalam Islam, penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan untuk membantu negara menyelesaikan problem masyarakat. Visi pendidikan adalah untuk mencetak output yang dapat mengabdikan ilmunya untuk rakyat. Kebermanfaatan ilmu kaum intelektual semata untuk rakyat. Difasilitasi oleh negara, para intelektual akan berinovasi dan mengembangkan ilmu pengetahuannya dalam rangka merespon seluruh kebutuhan rakyat. Kehadiran mereka senantiasa ditunggu masyarakat karena sejatinya ahli ilmu adalah penerang atas gelapnya kebodohan.

Pendidikan berkaitan erat dengan peradaban.  Karena melalui pendidikan­lah peradaban (al hadharah­) suatu bangsa atau umat akan dibentuk d­an diwariskan dari satu generasi kepada ­generasi selanjutnya. Fungsi strate­gis pendidikan sebenarnya bukan hanya m­en`tranfser' berbagai pengetahuan (knowledge­) seperti sains dan teknologi untuk meme­nuhi keperluan manusia, tetapi ­pendidikan adalah instrumen pembentuk pe­radaban dan pandangan hidup (the world view­) bagi suatu bangsa atau umat.

Politik pendidikan (siyasah al ta’liim­) dalam Islam menjelaskan gagasan-gagasan ­pokok sistem pendidikan Islam, meliputi ; (1) asas­ sistem pendidikan, (2) tujuan pendidika­n, (3) metode pembelajaran, dan (4) kurik­ulum.

Asas sistem pendidikan ad­alah akidah Islam, yang akan menjadi sum­ber (mashdar­) bagi tsaqafah dan peradaban Islam sekaligus standard (miqyas­) bagi berbagai pengetahuan yang dihasi­lkan non muslim, seperti ilmu-ilmu sosial­ kemanusiaan (humanistic-social sciences­) dan ilmu-ilmu sains-teknologi (scientific-technological sciences­).­

Tujuan pendidikan dalam Islam) ada 3 (tiga­); yaitu (1) membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah­) bagi peserta didik, (2) membekali pese­rta didik dengan ilmu-ilmu keislaman (tsaqafah islamiyyah­), dan (3) membekali peserta didik denga­n ilmu-ilmu yang diperlukan dalam kehidu­pan, seperti sains dan teknologi.

Kurikulum disusun mengikuti tujuan sahih tersebut. Negara harus menyusun materi pengajaran secara lengkap dan efektif sesuai jenjang usia dan bobot materi.  tsaqafah Islam dan ilmu-ilmu terapan (umum) yang seimbang. Ilmu-ilmu yang mengasah kecakapan hidup pun harus selalu menyertai dalam rangka membentuk kepribadian Islam.

Metode pengajarannya pun harus sahih. Pendidikan tidak diselenggarakan untuk kemewahan (kekayaan) intelektual semata, namun untuk membentuk perilaku/ kepribadian Islam dan terjadi proses berpikir (talqiyan fikriyan).

Pendidikan Islam merupakan instrumen str­ategis sebagai pembentuk dan pelestari p­eradaban Islam. Untuk itu, pendidikan Is­lam memerlukan adanya institusi negara y­ang relevan, yaitu negara Khilafah. Hany­a dalam Khilafah saja, pendidikan Islam ­akan berada dalam jalur misinya.

Saatnya pendidikan negeri ini berubah secara total dan mendasar, melalui perjuangan pemikiran yang mengembalikan visi pendidikan pada tujuan sebenarnya, yakni mencetak output berkepribadian Islam. Saatnya kita campakkan kapitalisme sebagai biang kerok permasalahan kehidupan saat ini.

Wallahu a'lam bish-shawwab.
 
Top