Oleh : Kunthi Mandasari
Pegiat Literasi

Dilansir dari CNN Indonesia, (12/07/2020), Umat Muslim Bosnia menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica pada Sabtu (11/7) waktu setempat, di tengah pandemi virus Covid-19.

Meski jumlah peserta menurun dari tahun-tahun sebelumnya, tapi tak sedikit pelayat yang berani menentang aturan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran Covid-19 demi menghadiri peringatan tersebut. Peringatan tahun ini sekaligus menjadi upacara penguburan sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir.

Genosida ini bermula ketika Yugoslavia terpecah menjadi Bosnia Herzegovina dan Serbia Bosnia. Genosida yang dilakukan terhadap umat Muslim oleh pasukan Serbia Bosnia selama Perang Bosnia merupakan salah satu dari beberapa konflik yang terjadi pada tahun 1990-an.

Republik Sosialis Bosnia dan Herzegovina, seperti yang diketahui ketika itu adalah bagian dari Yugoslavia, adalah wilayah multi-etnis Bosniak Muslim, Serbia Ortodoks dan Kroasia Katolik. Orang-orang Bosniak sebagian besar adalah Muslim keturunan dari Slavia Bosnia yang mengadopsi Islam di bawah pemerintahan Turki Ottoman pada Abad Pertengahan. (republika.com, 11/07/2020)

Kejadian ini bermula ketika Bosnia Herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1992 setelah referendum. Tidak lama kemudian diakui oleh pemerintah AS dan Eropa.

Namun, kelompok Serbia Bosnia dengan tegas menolak referendum tersebut. Tak lama kemudian, pasukan Serbia Bosnia yang didukung oleh pemerintah Serbia datang untuk menyerang. Mengeluarkan Bosniaks (kaum muslim Bosnia) dari wilayah itu untuk menciptakan "Serbia Raya". Kebijakan ini dikenal sebagai pembersihan etnis.

Demi sebuah kawasan pembantaian kaum muslim yang tak berdosa dilakukan.
Bahkan selain melakukan pembantaian, pasukan Serbia juga melakukan tindak pemerkosaan terhadap para muslimah. Tidak tanggung-tanggung ribuan nyawa harus tewas mengenaskan. Hal ini menjadi sejarah kelam yang melingkupi Eropa setelah Perang Dunia kedua.

Berdasar pada Daftar Awal Orang-Orang yang Hilang atau Dibunuh di Srebrenica yang disusun oleh Komisi Orang Hilang Federal Bosnia sedikitnya 8.373 jiwa menjadi korban dalam peristiwa tersebut (detik.com, 10/07/2020). Namun, bisa jadi jumlah sesungguhnya melebihi  ini. Mengingat upaya pembersihan telah dilakukan sejak tahun 1992 hingga 1995. Tak hanya di Srebrenica saja, pembantaian ini juga merambat ke desa-desa sekitarnya.

Sayangnya Serbia sendiri justru berkelit dan enggan mengakui bahwa penyerangan yang dilakukan adalah sebuah genosida. Kemudian kesalahan tersebut hanya dilimpahkan pada Jenderal Republik Serbia, Ratko Mladic. Setelah perang pada tahun 1995 komandan itu sempat bersembunyi dan tidak ditemukan sampai tahun 2011. Saat itu, ia diketahui berada di rumah sepupunya di Serbia Utara. Kemudian pada tahun 2017, pengadilan PBB di Den Haag menghukum Komandan Mladic atas genosida dan kekejaman lainnya. (bbc.com, 11/07/2020)

Sangat memilukan. Negara yang melakukan pembantaian secara keji bebas melenggang. Sedangkan para korban dan kelurga yang selamat masih menderita trauma yang mendalam. Kasus genosida Srebrenica merupakan bukti nyata lemahnya kaum muslim tanpa adanya junnah. Keberadaan kaum Muslim tak segan-segan dibantai secara sadis demi mengamankan teritori. Kondisi umat Muslim lain pun tak kalah miris, sebut saja Uighur, Palestina, Rohingya, Kashmir dan beberapa daerah lainnya.

Pasukan penjaga perdamaian PBB yang menugaskan ratusan pasukan Belanda diam seribu bahasa melihat pembantaian yang berkobar. Serangan udara NATO yang dipanggil untuk membantu tidak memberikan efek apapun. Bahkan yang dilakukan pasukan Belanda saat itu sangat melukai kaum Muslim dan menuai kritik. Demi 14 pasukan keamanan 5.000 pengungsi diserahkan pada pasukan Serbia Bosnia untuk dihabisi.

Lantas sebenarnya keberadaan pasukan PBB untuk apa? Jika PBB terbukti bersalah siapa yang akan menghukum?

Keberadaan pasukan PBB sebagai pasukan perdamaian seolah sebagai umpan pancingan untuk menarik kaum Muslim. Umat muslim yang terpecah-pecah inilah yang menjadikannya lemah. Mudah dijadikan sasaran empuk bagi para penjajah. Kaum muslim yang tidak memiliki pelindung dengan mudah terkecoh dan masuk dalam perangkap.

Padahal negara yang menghabisi kaum Muslim secara brutal hanyalah negara berlabel pecundang. Karena untuk memuluskan aksinya mereka mencari dukungan dan bergandengan tangan. Tentunya perlawanan yang berlangsung tidak pernah seimbang. Tak jarang pula peperangan yang berlangsung diwarnai dengan pelanggaran. Konvensi Jenewa yang mengatur tentang peperangan mendadak kehilangan fungsinya. Rumusan perjanjian ini dibidani oleh mereka dan akhirnya diingkari pula oleh mereka. Keberadaan perjanjian hanyalah sebagai simbol kemunafikan. Oleh karenanya, mereka (negara) yang melanggar tak pernah mendapatkan hukuman. PBB pun yang turut andil dalam genosida tak pernah dibubarkan.

Kutukan maupun kecaman yang terlontar tak akan pernah mampu menghentikan pembantaian. Genosida yang dilakukan oleh sebuah negara harus dilawan melalui kekuatan sebuah negara pula. Dan negara itu adalah khilafah. Negara yang mampu menyatukan kekuatan umat Muslim di seluruh penjuru dunia.

Keberadaan khilafah akan menjadi penjaga nyawa kaum Muslim. Khilafah juga tidak akan membiarkan kaum muslim tertindas. Jangankan hingga ribuan korban, seorang muslimah yang memanggil nama khalifah saja mampu membuat ribuan pasukan menyerbu untuk meluluh lantakkan. Karena seorang khalifah dalam khilafah berperan sebagai junnah.

Rasulullah saw. bersabda:
”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan lain-lain)

Wallahu a'lam bish shawwab.
 
Top