Oleh : Safiatuz Zuhriyah, S.Kom
Aktivis Dakwah Muslimah

Pandemi virus Corona, telah memporak-porandakan perekonomian dunia. Diperkirakan, tidak satu pun negara selamat darinya. Termasuk Indonesia. Diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini, perekonomian Indonesia akan mengalami kontraksi. Ditambah dengan isu resesi yang berada di depan mata, melihat negara tetangga Singapura sudah menelan pil pahit akibat pandemi.

Bahkan, dalam peluncuran laporan Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, disebutkan bahwa tak ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Ekonomi Indonesia bisa mengalami resesi jika infeksi Covid-19 terus bertambah banyak. Terlebih lagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali mengingatkan para menterinya soal ancaman tersebut.

Resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Setidaknya, ada 5 indikator ekonomi yang dijadikan acuan suatu negara mengalami resesi, yakni PDB riil, pendapatan, tingkat pengangguran, manufaktur, dan penjualan ritel.

Dilansir oleh cnbcindonesia.com tanggal 18 Juli 2020, di kuartal I-2020, perekonomian Indonesia hanya tumbuh 2,97% YoY (Year on Year), turun jauh dari kuartal IV-2019 sebesar 4,97%. Di kuartal ini, perekonomian berisiko semakin terpuruk karena penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mulai berlaku efektif di beberapa daerah. Sementara pada kuartal I lalu, kebijakan PSBB belum diterapkan. Akibatnya, roda perekonomian di kuartal II mengalami perlambatan signifikan, sehingga pertumbuhan ekonomi terancam merosot.

Data pengangguran, aktivitas manufaktur, serta penjualan ritel Indonesia sudah mengirim sinyal potensi terjadinya resesi. Pandemi Covid-19 membuat Pemutusan Hubungan Kerja terjadi dimana-mana. Per 12 Mei, total pekerja yang dirumahkan dan di-PHK sebanyak 1.727.913 orang.

Sektor manufaktur Indonesia juga merosot tajam, meski sedikit membaik di bulan Mei. Pada Selasa (2/6/2020), IHS Markit melaporkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia periode Mei adalah 28,6. Naik dibandingkan April yang sebesar 27,5.

PMI Indonesia di bulan April merupakan yang terendah sepanjang pencatatan sejak April 2011. Penurunan PMI ke posisi terendah sepanjang survei ini, dipengaruhi oleh penyebaran wabah Corona yang berimbas pada penutupan pabrik dan anjloknya permintaan, output, dan permintaan baru.

Sementara itu penjualan ritel atau eceran juga menurun drastis. Dalam rilis terbaru Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, penjualan ritel bulan April 2020 tercatat minus 16,9% YoY. Ini merupakan kontraksi paling dalam sejak Desember 2008.

Hampir seluruh pos penjualan ritel mengalami kontraksi. Pos yang paling dalam kontraksinya adalah penjualan bahan bakar -39% YoY, barang budaya dan rekreasi sebesar -48,5% YoY dan barang lainnya seperti sandang sebesar -68,5% YoY.

Mirisnya, untuk menghadapi resesi, para ahli hanya menyarankan untuk berhemat dan menyiapkan pekerjaan cadangan mulai dari sekarang. Seperti yang diungkap oleh ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira. Ia mengatakan bahwa masyarakat harus berhemat untuk menyiapkan dana darurat selama resesi. Sebab tidak ada yang mengetahui akan berlangsung sampai kapan jika resesi benar terjadi.

"Kurangi juga belanja yang tidak sesuai kebutuhan dan fokus pada pangan serta kebutuhan kesehatan. Jadi jangan latah ikut gaya hidup yang boros. Pandemi mengajarkan kita apa yang bisa dihemat ternyata membuat daya tahan keuangan personal lebih kuat," kata Bhima kepada detikcom, Jumat (17/7/2020).

Benarkan ancaman resesi bisa dihadapi hanya dengan berhemat? Bagaimana dengan masyarakat miskin, yang hidupnya pas-pasan bahkan seringkali kurang? Bagian mana lagi yang harus dihemat?

Resesi dan Kapitalisme

Dalam sistem ekonomi kapitalis, resesi adalah hal yang nyata dan akan terus berulang dalam beberapa periode. Negara sekelas Amerika Serikat (AS) -yang merupakan pakar ekonomi kapitalis- saja sudah mengalami puluhan kali resesi. Melansir Investopedia, AS, negara dengan nilai ekonomi terbesar di muka bumi ini, sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854. Sementara jika dilihat sejak tahun 1980, Negeri Paman Sam mengalami 4 kali resesi termasuk yang terjadi saat krisis finansial global 2008.

Pada dasarnya, sistem ekonomi kapitalis adalah sistem yang rapuh. Sistem ini dibangun berbasis sektor moneter atau keuangan yang merupakan sektor non riil. Keuntungan ekonomi tidak diperoleh dari kegiatan investasi produksi barang dan jasa. Keuntungan itu diperoleh melalui investasi spekulatif dalam sektor non riil. Misalnya, melalui kredit perbankan, bursa saham, jual beli surat utang (obligasi), asuransi, dan lain-lain. Dengan ekonomi berbasis moneter seperti ini, kapitalisme tidak bisa dilepaskan dari riba.

Riba adalah pengambilan tambahan dari modal atau harta pokok secara batil, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam. Adanya riba, menyebabkan penggelembungan ekonomi yang berpotensi meledak sewaktu-waktu. Hal ini justru akan membahayakan sistem keuangan secara keseluruhan. Misalnya ketika IHSG turun, ada obligasi dan klaim asuransi yang tidak dibayar (default), kredit macet, dan lain-lain.

Selain itu, ekonomi kapitalis adalah ekonomi berbasis fiat money atau kurs mata uang mengambang melalui penggunaan uang kertas. Sejak dolar AS tidak lagi dikaitkan dengan logam mulia pada tanggal 18 Agustus 1971, mata uang yang berlaku hanya berlandaskan pada kepercayaan. Karena tidak ditopang dengan logam mulia, nilai intrinsik  uang kertas tidak sama dengan nilai nominalnya. Akibatnya, nilai uang mudah berubah karena persepsi publik. Bahkan karena hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan masalah ekonomi.

Apabila Bank Sentral suatu negara memutuskan untuk memasukkan lebih banyak uang ke dalam sirkulasi pasar dan berharap meningkatkan pertumbuhan ekonomi, nilai uang dapat jatuh karena perubahan persepsi publik tentang nilai mata uang yang mendasarinya. Akibatnya, devaluasi ini akan memaksa harga barang naik karena fakta bahwa setiap unit mata uang sekarang bernilai lebih rendah.

Terakhir, ekonomi kapitalis menerapkan ekonomi berbasis utang. Utang yang dilakukan oleh negara-negara pengemban kapitalis maupun negara-negara berkembang dari tahun ke tahun terus meningkat. Ketika utang negara meningkat, pemerintah memiliki dua pilihan: mereka dapat menaikkan pajak atau mencetak lebih banyak uang untuk melunasi utang.

Kenaikan pajak akan menyebabkan pelaku bisnis bereaksi dengan menaikkan harga barang yang diproduksi untuk mengimbangi peningkatan tarif pajak perusahaan. Harga barang-barang akan menjadi mahal dan tidak terjangkau masyarakat. Alternatifnya, pemerintah bisa memilih opsi kedua, yaitu mencetak lebih banyak uang. Kabar buruknya, hal ini akan langsung mengarah pada peningkatan jumlah uang beredar, yang pada gilirannya akan menyebabkan devaluasi mata uang dan kenaikan harga juga.

Singkatnya, ketika pemerintah memutuskan untuk mencetak mata uang baru, mereka pada dasarnya mengurangi nilai uang yang sudah beredar dan terjadilah inflasi. Inflasi yang terus-menerus, bisa menyebabkan kontraksi ekonomi di berbagai sektor sehingga terjadi resesi.

Dengan demikian, selama sistem ekonomi kapitalis diterapkan di negeri ini, maka akan selalu dibayang-bayangi oleh inflasi dan resesi. Oleh karena itu, bila kita ingin menghentikan resesi, maka hanya ada satu jalan yang bisa dilakukan. Yaitu dengan cara mengganti sistem ekonomi kapitalis dengan sistem ekonomi yang tahan terhadap resesi.

Sistem Ekonomi Islam

Berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang bertumpu pada riba, Islam justru mengharamkan riba sama sekali. Allah Swt. berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir." (QS. Ali 'Imran [3] : 130)

Islam melarang pemeluknya untuk menumpuk-numpuk harta tanpa dizakati. Allah Swt. berfirman: "Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (QS. at-Taubah : 35)

Di antara hikmah zakat adalah untuk menyucikan harta pemiliknya dan menggerakkan perekonomian rakyat miskin karena harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja.

Apabila ada yang mempunyai harta berlebih, maka Islam mewajibkan umatnya untuk berinvestasi di sektor riil dengan cara meminjamkan modal kepada yang membutuhkan atau melakukan syirkah. Syirkah adalah kerjasama antara pemilik modal dan pemilik tenaga, ada potensi untung dan rugi di sana. Bukan menginvestasikan hartanya di sektor moneter seraya berharap keuntungan datang setiap bulan tanpa bekerja karena hartanya telah bekerja untuknya (menghasilkan keuntungan tanpa risiko rugi).

Selain itu, syariat Islam juga mewajibkan negara menggunakan mata uang emas dan perak. Kedua logam ini disebut logam mulia dan merupakan bahan paling berharga melebihi zat lain. Terbukti, dengan standar emas dan perak, mata uang lebih tahan terhadap inflasi. Dunia telah menggunakannya selama berabad-abad sampai tahun 1971, yaitu ketika AS memaksakan diberlakukannya fiat money di seluruh dunia dan menjadikan nilai dolar AS sebagai standar kurs mata uang internasional.

Terakhir, negara Islam memiliki bermacam-macam sumber pendapatan yang telah ditentukan oleh asy-Syari'. Yaitu berupa jizyah, kharaj, anfal, ghanimah, fai, khumus, rikaz, usyr, harta sitaan, dan zakat. Islam juga mengharuskan negara mengoptimalkan pengolahan sumber daya alam untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat.
Sistem ekonomi Islam tidak menjadikan utang luar negeri sebagai sumber pendapatan negara.

Dengan demikian, penerapan sistem ekonomi Islam akan melahirkan negara yang tahan terhadap resesi dan independen, tidak tergantung kepada negara lain. Sudah saatnya kita terapkan Islam dalam seluruh segi kehidupan, agar negeri ini menjadi
baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top