Oleh : Tri Sundari
Pendidik Generasi dan Member AMK

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, memiliki mimpi dalam lima tahun ke depan Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK akan diminati orangtua siswa maupun siswa itu sendiri.

Nadiem juga berharap agar ke depannya para siswa SMK mendapatkan keuntungan bukan hanya pelatihan keahlian, melainkan juga sertifikat guna melanjutkan ke jenjang berikutnya, seperti D3 ataupun D4. (The World News, 27/6/2020)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini juga, sedang menggalakkan upaya kerjasama dunia industri dengan dunia pendidikan di dalam negeri.

Dilansir oleh Antara news, 27/05/2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memulai suatu gerakan yang dinamakan "pernikahan massal" atau penyelarasan antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI).

Menurut  Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kemendikbud, Wikan Sakarinto, tujuan utama dari gerakan ini agar program studi vokasi di perguruan tinggi vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. Diharapkan dengan adanya "link and match" tersebut, lulusan pendidikan vokasi juga akan semakin dihargai oleh industri dan dunia kerja bukan semata-mata karena ijazahnya, melainkan karena kompetensinya yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat yang harus difasilitasi oleh pemerintah. Pemerintah memiliki sejumlah peran dalam dunia pendidikan, yakni sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Seharusnya pemerintah dapat lebih mengoptimalkan peran-peran tersebut, sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. 

Dunia pendidikan sejatinya bukan hanya memberikan bekal ilmu pengetahuan, dan mencetak tenaga kerja bagi industri, akan tetapi juga harus mencetak generasi yang mempunyai akhlak yang baik.

Gerakan "pernikahan massal" yang menjadi salah satu program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hanya sekadar mengutamakan ilmu dan penguasaan keterampilan, yang diperlukan oleh para pemilik modal, di dalamnya tidak menyentuh aspek penanaman akhlak yang baik. Sehingga saat ini kita sering mendapati perilaku yang menyimpang dari para peserta didik, misalnya kurangnya adab seorang peserta didik kepada gurunya, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar dan lain-lain. Oleh karena itu diperlukan adanya pendidikan tentang akhlak di berbagai jenjang lembaga pendidikan.

Orientasi pendidikan yang ada saat ini hanyalah untuk menghasilkan generasi pekerja dan budak teknologi. Karena yang memiliki teknologi adalah para kapitalis, sehingga hal ini tentunya akan sangat menguntungkan bagi para kapitalis tersebut.

Pendidikan yang semestinya bervisi membangun kepribadian secara utuh, yaitu  manusia sebagai hamba Allah, khalifah fil ardhi, saat ini dikerdilkan hanya mencetak manusia bermental buruh.

Pendidikan dalam Islam merupakan upaya untuk membentuk manusia yang memiliki: pemikiran Islam, kepribadian Islam, mampu menguasai ilmu-ilmu terapan seperti: ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Sistem pendidikan berdasarkan ideologi kapitalis-sekuler, hanya akan menghasilkan sumber daya manusia (peserta didik) yang berpikir profit oriented dan menjadi economic animal.

Hal ini tidak sesuai dengan fitrah, oleh karena itu, sistem pendidikan yang berdasarkan ideologi kapitalis-sekuler harus segera digantikan dengan sistem pendidikan berdasarkan ideologi Islam.

Kurikulum yang dibangun berdasarkan akidah Islam, akan menghasilkan sumber daya manusia (peserta didik) yang mempunyai
keimanan dan keterikatan dengan syariat Islam.


Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top