Oleh : Nur Ilmi Hidayah
Praktisi Pendidikan, Member Akademi Menulis Kreatif

Fenomena LGBT di Indonesia sungguh sangat memprihatinkan. Menurut survey CIA (2015), jumlah populasi LGBT di Indonesia adalah kelima terbesar di dunia setelah Cina, India, Eropa dan Amerika. Data statistik terakhir mengatakan 3%  penduduk Indonesia adalah gay. Itu berarti ada pertumbuhan gay di Indonesia tiap tahunnya.

Perilaku seks bebas yang menyimpang ini tidak bisa terlepas dari pengaruh LGBT tingkat global dan proyek sekularisme. Jaringan LGBT yang cukup luas tidak bisa dilepaskan dari pandangan dunia sekuler, salah satu proyek sekularisme dalam bidang moral adalah melepaskan ikatan ajaran dan norma agama dalam perilaku dan gaya hidup. Sekularisme berusaha sedapat mungkin mendalilkan konsep biak dan buruk berdasarkan kesepakatan dan konstruksi bersama.

Artinya, baik dan buruk perilaku adalah berdasarkan kontrak sosial, bukan lagi berdasarkan dalil agama. Karena, agama sudah tidak dianggap lagi relevan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Pandangan yang menyatakan LGBT adalah abnormal, sakit mental, atau bahkan berperilaku yang menyimpang dari kodrat kemanusiaan adalah pandangan yang usang dan tidak lagi sesuai dengan dunia temporer. Yang mengusung kehendak bebas dan penghargaan pada perilaku eksistensial individu masing-masing.

Upaya untuk menghalangi atau mendiskriminasi pilihan hidup seseorang dianggap penodaan dan penghinaan atas harkat dan martabat kemanusiaan. Bagi sekularisme, tidak ada lagi batasan moralitas, tapi yang ada adalah nihilisme moral, segalanya serba boleh.

Upaya kaum LGBT mengejar legalitas dan keberanian adalah bentuk liberalisasi perilaku atas nama Hak Asasi Manusia (HAM), jelas ini adalah produk sekularisme yang merusak pelaku dan pendukung LGBT. Kaum LGBT sudah tidak berempati lagi kepada anggota keluarga yang menjadi korban LGBT, pedofilia, kumpul kebo, dan lain-lain. Mereka tidak peduli berapa yang mati karena menderita HIV/AIDS, tidak sedikitpun mereka mampu melihat bahwa itu adalah akhir dari ulah berat mereka.

Padahal jelas sekali bahwa LGBT adalah paham sekularisme/radikalisme karena kebebasan ekstrim yang terkandung di dalam ide ini, yaitu membuat individu yang tidak peduli dengan kemaslahatan orang banyak. Apalagi generasi masa depan, merusak kehidupan, menyebarkan penyakit menular dan mengancam peradaban manusia.

Dari sekian banyaknya pelaku penyimpangan seksual dalam tatanan hidup manusia, yang menjadi wasilah bermunculannya LGBT, maka Islam memberikan solusi yang sangat baik.

Kembali pada Ajaran Islam

Islam secara lantang telah menyuarakan keharaman LGBT dengan menggambarkan bagaimana kaum Nabi Luth diazab oleh Allah Swt., yang mana tidak saja menyapu bersih pelakunya dan juga masyarakat di sekitarnya. Secara institusi negara, maka khalifah akan menjatuhkan hukuman bunuh bagi pelaku liwaat (homoseksual), pelaku As Sahaaq (lesbian) baik subyeknya maupun obyeknya, dirajam bagi pelaku zina yang sudah menikah.

Allah telah menciptakan rasa suka pada lawan jenis dalam setiap diri manusia dengan tujuan melestarikan jenisnya. Karena, rasa suka kepada lawan jenis ini punya potensi baik dan buruk. Allah mengatur penyalurannya hanya melalui pernikahan. Jika manusia mengambil jalan di luar itu, inilah yang dimaksud kekejian nyata. Terlebih jika rasa suka disalurkan kepada sesama jenis, dalam masyarakat sekuler, tujuan penciptaan rasa tersebut tidak menjadi fokus utama. Justru yang menjadi fokus adalah mendapatkan kenikmatan sebanyak-banyaknya, sehingga mereka tidak peduli kepada siapa disalurkan nafsu syahwatnya.

Akibatnya, generasi akan punah karena pernikahan yang terjadi tidak menghasilkan keturunan dan generasi yang ada akan rusak secara mental karena perilaku LGBT ini akan menularkan melalui pembiasaan sikap.

Islam menganjurkan seorang muslim untuk memelihara kehormatannya, meninggikan derajat dan martabatnya untuk beriman dan bertakwa. Dengan penjagaan ini, manusia tidak akan melakukan perbuatan yang dilaknat Allah Swt.

Karena LGBT sangat dilarang Allah, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Abbas r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai 3 kali.” (dihasankan Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth)

Manusia dipromosikan surga jika mereka bertakwa dengan segera. Sebagaimana firman Allah Swt., “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali 'Imran : 133)

Islam memiliki metode yang dapat mencegah perbuatan LGBT agar tidak dapat menular ke lainnya. Islam mengharamkan perbuatan tersebut karena merusak akal manusia. Oleh karena itu, Islam juga memberikan sanksi yang tegas bagi pelakunya.

Negara pun harus memberantas sarana-sarana maksiat yang mengarah pada penyimpangan seksual beserta sarana-sarana yang menghantarnya, seperti tontonan, lokalisasi, diskotik, dan sebagainya. Tidak akan ada sarana-sarana yang dapat memanfaatkan untuk memudahkan bermaksiat.

Oleh karena itu, sangatlah penting umat manusia melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

- Hilangkan pemikiran-pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat yang mengatasnamakan kebebasan pribadi dan berekspresi penyimpangan seksual tersebut tetap mendapat tempat.

- Secara individual, menjauhi hal-hal yang dapat mengundang hasrat untuk melakukan penyimpangan seksual. Islam sangat memperhatikan fitrah manusia sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut, begitu juga janganlah perempuan  tidur dengan perempuan dalam satu selimut.” (HR. Muslim)

- Hilangkan berbagai hal di tengah masyarakat yang dapat merangsang orang untuk mencoba-coba. Misalnya, hentikan pornografi terkait LGBT. Kini, di dunia maya tengah berkeliaran promosi tentang itu. Tantangan penyimpangan seksual pun dengan mudah ditonton di media sosial. “Rasulullah saw. melarang laki-laki meniru perempuan, dan perempuan meniru laki-laki.” (HR. Bukhari)

Pemerintah dalam aturan Islam harus mengeluarkan aturan tegas terkait dengan perilaku LGBT tersebut. Bagi pelaku LGBT, terapkan hukuman buatnya. Bila berbagai langkah percobaan telah dilakukan, tetapi tetap juga terjadi aktivitas LGBT, maka pengadilan dalam pemerintahan Islam menerapkan hukuman sesuai syariah terhadap mereka.

Perbuatan tersebut dikategorikan perbuatan kriminal. Bila pengadilan menemukan bukti dan diputuskan di pengadilan, maka hukuman bagi pelakunya adalah hukuman mati. Hal ini disarakan pada sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (liwath), maka hukum matilah baik yang melakukan maupun yang diperlakukan.” (HR. Al-Khomsah kecuali Nasa’i)

Demikianlah, tidak ada aturan yang lebih baik dibandingkan dengan aturan dari Dzat yang telah menciptakan manusia, yang mampu menyelesaikan permasalah LGBT di tengah zaman sekularisme ini.

Wallaahu a’lam bishshawab.[]
 
Top