Oleh : Anna Ummu Maryam
(Pegiat Literasi Aceh)

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly menyebut Maria Pauline Lumowa, buron kasus pembobolan BNI, diborgol selama perjalanan dari Serbia menuju Indonesia. Maria diekstradisi dari Serbia setelah kurang lebih 17 tahun menjadi buronan.

"Selama perjalanan menggunakan pakaian tersebut (pakaian tahanan) dan dalam keadaan tangan diborgol, karena kita di udara, mencegah hal-hal yang mungkin saja membahayakan penerbangan," ujar Yasonna menyelipkan kata maaf seperti dalam tayangan televisi nasional, Kamis (9/7/2020).

Setelah penantian selama 17 tahun, akhirnya aparat keamanan berhasil menangkap buronan bank BNI ini. Buronan ini begitu berani hingga dapat keluar negeri dan hidup nyaman di sana.

Maria Pauline Lumowa merupakan pembobolan kas BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank Negara Indonesia (BNI) mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Selama buron, Maria sempat bolak balik Singapura-Belanda. Maria diketahui sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979. Pemerintah Indonesia juga sempat meminta Kerajaan Belanda untuk mengektradisi Maria, akan tetapi ditolak.

Maria akhirnya ditangkap di Serbia oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla Serbia pada 16 Juli 2019.

"Penangkapan itu dilakukan berdasarkan red notice Interpol yang diterbitkan pada 22 Desember 2003. Pemerintah bereaksi cepat dengan menerbitkan surat permintaan penahanan sementara yang kemudian ditindaklanjuti dengan permintaan ekstradisi melalui Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham," kata Yasonna.

Artinya proses hukum ini dilalui berhasil setelah kesepakatan timbal balik buronan. Dimana sebelumnya pemerintah indonesia mengabulkan permintaan Serbia untuk mengekstradisi pelaku pencurian data nasabah Nikolo Iliev pada 2015.

Langkah yang diambil oleh pemerintah pada sejatinya belumlah dianggap berhasil karena masih banyak lagi buronan Indonesia yang kabur keluar negeri tanpa sedikitpun tersentuh hukum. Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Sulitnya Menangkap Buronan

Kesulitan dalam penangkapan setiap buron Luar negeri tidak terlepas dari baik dan buruknya hubungan dengan pihak luar negeri. Yang sejatinya mereka juga punya kepentingan tertentu dalam memberikan sebuah keputusan.

Akan beda halnya jika sebuah negara memiliki pengaruh yang kuat dan negara yang kuat, tentu hal ini membuat negara tersebut tidak dipandang sebelah mata dan dianggap lemah.

Begitu pentingnya peran negara dalam mengamankan negaranya tentu harus menjadi perhatian. Karena negara yang lemah sejatinya tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan dalam negeri apalagi di luar negeri.

Pelemahan peran negara ini berasal dari sistem yang diambil dan diterapkan pada kehidupan bernegara. Sistem lemah ini adalah sistem kapitalis liberal sekuler. Sistem ini dibangun atas dasar pemikiran manusia yang sarat akan kepentingan dan manfaat.

Maka setiap interaksi yang dilakukan memungkinkan terjadi negosiasi kepentingan, sehingga sebuah peraturan tidak bisa baku dan tetap. Peraturan dalam sistem ini akan berubah sesuai siapa yang memegang  tampuk kekuasaan.

Maka, wajar kita dapati pelaku kejahatan tidak merasa takut dengan kejahatan yang dilakukannya. Dan hal itu kian terbukti dengan banyaknya yang berhasil mereka lolos dari jerat hukum dan hidup sejahtera di luar negeri Padahal kerugian yang dialami oleh negara cukup fantastis yaitu milyaran bahkan triliunan. Tapi uang sebesar itu dapat raib entah kemana.

Negara dalam sistem kapitalis liberal sekuler sering tertipu oleh muslihat para buron yang lebih dulu memiliki strategi dalam proses pelarian mereka, karena mereka tahu begitu lemahnya peraturan di negeri tersebut.

Kembalikan Kekuatan dan Keamanan Negara

Islam hadir sebagai sebuah agama yang sempurna. Hal itu terlihat dari kemampuannya membuat manusia beribadah secara benar yaitu hanya kepada Allah Swt. semata. Dan tidak hanya sampai di situ, bahwa Islam juga menyiapkan peraturan dalam setiap sisi kehidupan manusia.

Begitu juga dengan tindakan kejahatan yang dilakukan manusia Islam pun mengaturnya sedemikian rupa agar dapat mencegah manusia melakukan kejahatan. Syaikh Abdurahman al Maliki dalam kitabnya Nidhomul ‘Uqubat menjelaskan tentang definisi kejahatan :

والجريمة هي الفعل القبيح ، والقبيح ما قبحه الشرع . ولذلك لا يعتبر الفعل جريمة إلا إذا نص الشرع على إنه فعل قبيح فيعتبر حينئذ جريمة

Kejahatan adalah perbuatan-perbuatan tercela. Tercela adalah apa yang Allah mencelanya pula. Itu sebabnya, suatu perbuatan tidak dianggap kejahatan kecuali jika ditetapkan oleh syara’ bahwa perbuatan itu tercela. Ketika syara’ telah menetapkan bahwa perbuatan itu tercela, maka sudah pasti perbuatan itu disebut kejahatan.

Bagi pencuri hukumannya telah ditetapkan oleh Allah Swt.

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [al-Mâidah/5:38]

Dalam pelaksanaannya pun dijelaskan
Allah Azza wa Jalla dengan memerintahkan untuk mengumumkan  dan melakukannya di hadapan manusia.

وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman." (an-Nûr/24:2)

Sistem sanksi ini bersifat tetap dan tidak berubah serta berlaku kepada siapapun tanpa kecuali. Peraturan ini berlaku bagi setiap warga negara Islam. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para khalifah sesudahnya.

Negara akan menutup setiap akses bagi pelaku kejahatan. Dan akan melakukan negosiasi cepat dengan negera tertentu agar pelaku kejahatan ditangkap dan dijatuhi hukuman di negeri Islam. Karena negara di luar Islam telah mengakui kehebatan dan mengetahui pengaruh yang besar jika mereka berani macam-macam kepada daulah Islam.

Sehingga mereka akan berupaya secara cepat dalam memulangkan buronan yang lari ke negara mereka.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top