Oleh : Mila Sari, S.Th.I
Kontributor Media, Pegiat Opini, Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif

Pendidikan adalah hak semua orang yang mesti dipenuhi oleh Negara agar sebuah bangsa dan peradaban bisa maju menyaingi serta menandingi negara lainnya. Sebab pendidikan merupakan unsur terpenting yang harus diperhatikan pemerintah terhadap rakyatnya. Negara bertanggung jawab penuh mencerdaskan seluruh rakyatnya dengan memberikan jaminan disertai sarana dan prasarananya agar tujuan pendidikan bisa tercapai.

Bahkan agama pun, mendukung dan menganggap pendidikan merupakan suatu hal yang penting dan sebuah kewajiban yang mesti dijalankan oleh seorang muslim. Sungguh Allah Swt. telah menjanjikan ketinggian derajat bagi orang-orang yang bertakwa, berilmu dan beramal shalih sebagai ganjaran yang pantas atas usaha yang telah mereka lakukan. Manusia harus senantiasa taat dan patuh akan perintah Allah Swt. dan Rasulullah saw. agar terhindar dari sifat sombong yang tidak boleh dipakai oleh seorang hamba. Semua itu akan selalu terjaga bila kita rintis jalan mencari ilmu.

Sedangkan orang-orang yang berilmu pengetahuan akan ditinggikan derajatnya beberapa derajat oleh Allah Swt, hal ini sesuai dengan apa yang tersurat dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.

Artinya : Wahai Orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian “ luaskanlah tempat duduk “ di dalam majelis-majelis, maka luaskanlah (untuk orang lain), maka Allah Swt. akan meluaskan untuk kalian dan apabila dikatakan “berdirilah kalian” maka berdirilah, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat, Allah Maha Mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan.(QS. Al-Mujadilah: 11)

Itu hanyalah salah satu kemuliaan yang Allah Swt berikan bagi sang pecinta ilmu yang beriman, tentu masih banyak lagi kemuliaan lainnya yang kita dapatkan dalam merintis jalan menuju ilmu.

Hal ini tampaknya sesuai dengan apa diungkapkan oleh imam Asy-Syafi'i :

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”

Mencari dan menyelam samudera ilmu tidak pandang usia dan status sosial sebab itu juga merupakan kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. Siapa saja, kapan saja, apapun pekerjaannya, kaya, miskin tak ada  satu pun yang terbebas dari kewajiban ini. Maka dari itu cintailah ilmu sampai akhir hayat kita. Hal ini selaras dengan nasehat para ulama terdahulu yang harus kita ambil hikmahnya, nasehat itu berbunyi:

اُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ

Artinya : "Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat."

Maknanya menuntut ilmu itu tak pandang usia dan batas waktu, hingga ajal menjemput kewajiban menuntut ilmu harus kita tunaikan.

Namun, bagaimana bila upaya menuntut ilmu dan mengenyam pendidikan ditikung oleh berbagai hal? Layaknya di Indonesia, problem pendidikan boleh dikatakan hampir komplit mulai dari kurikulum yang dipakai, biaya pendidikan yang tinggi, tenaga pengajar honorer yang gaji dan jasanya tidak sebanding, sarana prasarana pendidikan dan lain sebagainya.

Terakhir, akan diberlakukan sistem zonasi usia bagi calon peserta didik. Seperti berita yang dilansir dalam media vivanews.com (Rabu/28/06/20) disebutkan bahwa Komnas anak desak PPDB DKI Jakarta diulang karena dinilai bertentangan dengan Permendikbud No 44 tahun 2019. Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019 di tempat yang lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Batam, Riau, itu tidak bermasalah, karena dia menerapkan Pasal 25 ayat 1 yang mengedepankan afirmasi zonasi, jarak dan paling akhir nanti usia untuk kuota berikutnya," ujar Arist. "Jadi tidak masuk akal, oleh karena itu saya katakan batalkan itu (PPDB DKI Jakarta) dan ulangi lagi supaya berkeadilan," tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana mengatakan pemenuhan kuota atau daya tampung terakhir pada seleksi PPDB menggunakan usia peserta didik yang lebih tua berdasarkan surat keterangan lahir atau akta kelahiran.  Menurut Nahdiana, penetapan zonasi berbasis kelurahan dan irisan kelurahan dengan mempertimbangkan keunikan demografi Jakarta, mulai dari tingkat kepadatan penduduk yang tidak sama setiap kelurahan, bentuk hunian vertikal yang banyak di Jakarta, hingga sebaran sekolah yang tidak sama di setiap kelurahan. Begitu juga daya tampung sekolah yang tidak sama di tiap sekolah dan jumlah sekolah asal serta banyaknya atau tersedianya moda transportasi bagi anak sekolah. Penetapan zonasi berbasis kelurahan di DKI Jakarta itu, menurut dia, sudah berlaku sejak pelaksanaan PPDB DKI pada 2017. "Berdasarkan evaluasi dan kajian pelaksanaan PPDB, penggunaan usia sebagai kriteria seleksi lebih dapat mengakomodasi calon peserta didik baru dari seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.

Berita yang sama juga termuat dalam Detiknews.com (Minggu, 28/06/20) yang menyebutkan bahwa, "LBH Jakarta menghimbau kepada Gubernur Provinsi DKI Jakarta untuk memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk mencabut atau setidak-tidaknya merevisi Keputusan Kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nomor 501 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020/2021 karena bertentangan dengan Peraturan Menteri Nomor 44 Tahun 2019 tentang PPDB pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan dan peraturan yang lebih tinggi lainnya. Selain itu juga menjadwal ulang proses penerimaan dengan aturan yang baru nantinya tersebut sebagai akibat dari aturan yang berlaku saat ini," kata anggota LBH Jakarta Nelson dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/2020).

Inilah dampak yang diakibatkan bila sebuah negara tidak menyadari betapa besar peran pentingnya dalam memenuhi hajat hidup rakyat, termasuk masalah pendidikan. Padahal, pendidikan tidak hanya kebutuhan bagi rakyat tapi juga kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap individu muslim.

Islam menjamin hak pendidikan setiap rakyatnya dari hasil pengelolaan sumber daya alam dan pemasukan negara sehingga rakyat tidak terbebani lagi dengan mahalnya biaya pendidikan. Tidak hanya itu, negara juga menyediakan seluruh fasilitas baik sarana dan prasarana pendidikan seperti universitas-universitas, laboratorium, perpustakaan dan segala hal yang dibutuhkan sebagai penunjang kemajuan dalam dunia pendidikan. Sehingga wajar, di masa kejayaannya, Dunia Islam berhasil menjadi mencusuar bagi dunia termasuk dalam bidang pendidikan yang melahirkan ilmuan-ilmuan muslim yang tidak hanya ahli dalam satu bidang ilmu saja tapi menjadi pakar dalam banyak bidang ilmu. Dimana hasil karya dan pemikiran mereka terpakai hingga saat ini. Semua tak terlepas dari peran negara yang memahami betul peran dan tanggung jawabnya terhadap rakyatnya dalam memenuhi segala kebutuhan rakyat.

Tentu kita tidak lupa dengan al-Khawarizmi sang penemu angka nol, yang dengan jasanya kita mengenal android, laptop, bilangan rumit yang hitungannya butuh penyelesaian dan logaritma. Atau Ibnu Sina, Bapak Kedokteran pertama di dunia yang dengan karyanya "Al-qanun" sebagai kitab wajib para dokter dalam bidang medis. Fatimah Al-fihri, tokoh pertama yang mendirikan universitas dan masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan muslim dan muslimah lainnya yang jasa dan karya mereka tidak tersebutkan satu persatu. Semua karena dorongan keimanan, berbuat demi kemajuan dan kemaslahatan umat sehingga jasa dan setiap karya mereka bermanfaat hingga saat ini.

Untuk itu, sudah saatnya kita memperjuangkan sistem pemerintahan dan sistem kehidupan yang akan menyejahterakan umat manusia, memberikan hak-hak rakyat dengan adil serta memudahkan segala urusan kita, yakni Khilafah Islamiyyah. Sebuah tatanan kehidupan yang sesuai fitrah manusia, sesuai akal dan membawa ketentraman bagi setiap jiwa.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top