Oleh : Hj. Yeni

Khilafah adalah sistem pemerintahan dalam Islam yang menerapkan hukum hukum Allah didalamnya. Kata-kata khilafah sudah tak asing lagi dinegara kita walaupun bagi penguasa khilafah ini sangat menakutkan, bahkan khilafah dituding sebagai ancaman bagi mereka. khilafah hanya dijadikan kambing hitam, atau sekedar pengalih perhatian dari ragam persoalan yang gagal diatasi oleh rezim ini. Kebencian mereka terhadap khilafah bukan terjadi dimasa sekarang saja pada masa penjajahan pun para penguasa sudah membencinya bahkan anti khilafah, mereka menentang 3 ajaran Islam sekaligus yang saling berkaitan yaitu : Jihad, Haji dan khilafah yang dituding sebagai pemicu pemberontakan kaum pribumi kepada Hindia Belanda.

Hubungan Indonesia dengan khilafah sudah ada sejak jaman penjajahan dulu terbukti dengan adanya dukungan dari khilafah Ustmani yang mengirimkan perwakilannya ke Batavia untuk menyokong gerakan-gerakan pribumi islam seperti yang diberitahukan oleh Sumatra post bahwa khilafah Turki Utsmani mengirim misi rahasia untuk mendukung kaum muslimin di nusantara. oleh karena itu wajar kalo penjajah sangat benci khilfah karena mereka mewakili ideologi kapitalis barat yang anti khilafah.

Karena hubungan itulah maka wajar tidak lama setelah keruntuhan khilafah, sejumlah tokoh muslim di Nusantara terlibat dalam upaya- upaya internasional untuk mengembalikan khilafah. Dan kaum komunis di Nusantara tidak suka, tapi tetep umat Islam di Nusantara menginginkan khilafah tegak kembali. Lalu mereka mengadakan pertemuan Kongres Al- Islam di Garut pada Mei 1924 yang diadakan oleh Sarikat Islam, Muhammadiyah dan Al Irsyad dua bulan setelah penghapusan khilafah. Dalam pidatonya KH.Agus Salim menempatkan permasalahan ini dalam kontek perjuangan Dunia Islam melawan pemerintahan kolonial.

Fakta lain eratnya hubungan khilafah dengan Nusantara dan adanya sumbangsih nyata bagi Nusantara yaitu adanya pengakuan dari kerajaan Sriwijaya di Palembang yang merupakan kerajaan Budha terhadap kebesaran khilafah yang dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirim raja Sriwijaya kepada khilafah pada zaman Bani Umayah. Selain kerajaan Sriwijaya pengakuan juga diberikan oleh kesultanan Yogyakarta yang merupakan penerus dari kesultanan Mataram Islam. Pengakuan ini di akui langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono x pada kongres Umat Islam Indonesia ke 6 di Yogyakarta. Hubungan khilafah dan Nusantara inilah yang menjadi faktor yang mengkonversi banyak kerajaan Hindu/Budha menjadi kesultanan Islam di Nusantara.

Khilafah Turki Utsmani menjamin keamanan bagi perjalanan ibadah haji kaum muslim di seluruh dunia, termasuk di nusantara, khilafah Utsmani mengamankan rute haji dari wilayah sebelah barat Sumatera dengan menempatkan angkatan lautnya. Fakta lain juga menuturkan bahwa penguasa Aceh Sultan Riyat al-Qahhar pernah mengirim utusannya ke Istambul untuk meminta bantuan militer khilafah Utsmani guna menghadapi Portugis, yang berlanjut terutama untuk menjaga keamanan Aceh dari serangan Portugis.

Dari fakta - fakta sejarah yang ada itu menunjukan eratnya hubungan antara khilafah dan Nusantara. Maka wajarlah jika kalangan muslim Nusantara menunjukkan kepedulian luar biasa saat khilafah Utsmani diruntuhkan tahun 1924. Keterlibatan kaum muslim di Nusantara dalam perjuangannya mengembalikan khilafah antara lain diwakili oleh Sarikat Islam, Muhammadiyah dan para kiai dari pesantren, mereka membentuk " komite khilafah " pada Oktober 1924 di Surabaya yang bertujuan untuk ikut menuntut pengembalian khilafah Ustmaniyah. Menegakkan khilafah wajib berdasarkan ijma sahabat maupun ijma ulama, khususnya ulama Ahlu Sunnah wal jamaah. Imam an-Nawawi rahimahullah tegas menyatakan : " mereka ( para ulama) telah bersepakat bahwa wajib atas kaum muslimin mengangkat seorang khilafah ( menegakan khilafah). Kewajiban ini berdasarkan syariat, bukan berdasarkan akal (syarh an- Nawawi'ala shahih Muslim, 12/205).

 
Top