Oleh : Oom Rohmawati
Ibu Rumah Tangga dan Member AMK

Saat ini di negeri kita tercinta pemerataan pendidikan masih menjadi masalah yang besar dan butuh penanganan serius. Bukan hanya dari siswa dan fasilitas-fasilitas yang kurang memadai, tapi dari tenaga pengajar pun belum merata. Seperti yang menimpa Sekolah Kampung Cimekar Indah, Desa Cibiru Hilir, Cileunyi, Kabupaten Bandung. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ini dilayani tenaga honorer. Kepala sekolah SDN Tirtayasa Cicih Yuningsih, mengakui kendati siap menempati gedung baru, SDN Tirtayasa dihadapkan pada masalah kurangnya tenaga pengajar SDN tersebut. (Pikiran rakyat.com 25/7/2020) 

Usai tahu kabar SDN Tirtayasa, Bupati Bandung Dadang M Naser, langsung mengintruksikan Dinas Pendidikan dan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Bandung, untuk segera memperhatikan sekolah-sekolah yang kekurangan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Tidak hanya di SDN Tirtayasa, tetapi sekolah lain juga harus diperhatikan. Harus ada keseimbangan antara guru honorer dan guru tetap," kata Dadang saat ditemui di rumah dinasnya, Soreang Kabupaten Bandung, Selasa 30 Juni 2020.

Oleh karena itu Dadang menegaskan agar sejumlah guru yang masih bertumpuk di wilayah perkotaan,  sebagian ditarik dan disebar ke pedesaan. Dengan begitu terjadi keseimbangan antara guru honorer dan guru PNS di semua wilayah Kabupaten Bandung.

Ketimpangan ini terjadi, karena negara tidak hadir untuk mengatur  seluruh sistem pendidikan. Negara hanya mengatur yang berkaitan dengan kurikulum saja, seperti akreditasi sekolah, metode pengajaran dan bahan-bahan ajarannya, tetapi  kurang mengupayakan agar tenaga pengajar merata dan seimbang jumlahnya.

Begitu juga dengan keberadaan guru dan peranannya, menjadi satu hal yang sangat penting. Bukan saja sebagai penyampai materi pelajaran, tapi sebagai orang yang mampu memberikan uswah (keteladanan) yang baik bagi peserta didiknya, dan guru pun harus memiliki akhlak yang baik agar menjadi panutan. Baik honorer maupun PNS, tidak ada bedanya.

Namun dalam negara yang menganut sistem kapitalis sekuler begitupun di sistem sosialis komunis tidak akan pernah terwujud. Kenapa demikian? Karena dalam masyarakat yang bertumpu pada ideologi   kapitalisme  sekularisme, sistem pendidikan hanya akan menghasilkan SDM (peserta didik) yang berpikiran pada materi dan ekonomi semata. Sebab penanaman ideologi sekuler (pemisahan agama dan kehidupan) akan mendorong masyarakat mengambil keputusan yang berpotensi menyimpang dari ajaran atau nilai-nilai agama (Islam). Juga tidak akan berpikir tentang halal haram. Misalnya dari sisi tenaga pengajar, tidak semua bersedia baik PNS atau guru honorer untuk ditempatkan di wilayah-wilayah yang terpencil, maka peluang untuk bermaksiat terbuka. Mereka akan melakukan praktek sogok-menyogok dan dalam sistem kapitalis sekuler ini akan berlaku siapa kuat pasti dapat, dimana ada manfaat aku embat.

Akan berbeda dengan pendidikan dalam sistem Islam, yang akan menghantarkan manusia pada perilaku yang berpedoman pada syariat Islam. Bentuk pendidikan yang dihasilkan dapat membawa manusia kepada keimanan, ketundukan dan amal shaleh. Sistem Islam akan membentuk manusia yang berkepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam, menguasai ilmu-ilmu, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), menguasai keterampilan tepat guna dan berdaya guna.

Ini berdasarkan Sirah Nabi Muhammad Saw dan tarikh Daulah khilafah Islam (al-Baghdadi,1996). Negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahap lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang memadai.

Begitupun dengan kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan oleh negara dan merupakan tanggung jawab negara yang diambil dari kas Baitulmal. Sistem pendidikan  bebas biaya tersebut didasarkan pada ijmak sahabat yang memberikan gaji kepada para pendidik dari Baitul mal dengan jumlah tertentu.

Sebagai contoh adalah Madrasah al-Muntashiriah yang didirikan Khalifah al-Muntashir Billah di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4.25 gram emas). Kehidupan mereka sehari-hari dijamin sepenuhnya oleh negara, fasilitas sekolah: perpustakaan, rumah sakit, pemandian disediakan oleh negara. Begitu pula dengan madrasah an-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad 6 H oleh Khalifah Sultan Nuruddin Mahammad Zanky, selain fasilitas buat siswa disediakan pula perumahan untuk para staf pengajar, mulai dari tempat peristirahatan, para pelayan serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Demikian apa yang dipaparkan di atas, menunjukkan betapa Islam sangat mementingkan dan mengutamakan pendidikan baik siswa ataupun pendidiknya. Tujuan utama dari pendidikan semata-mata hanya untuk memperoleh Ridha Allah Swt. Karena itu, negara yang menjalankan sistem Islam betul-betul memperhatikannya. Penguasanya akan dengan amanah menjalankan fungsinya sebagai pengurus/raa'in.

"Seorang imam Khalifah/kepala negara adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu a'lam bish shawab.
 
Top