Oleh : RAI Adiatmadja
Founder Komunitas Menulis Buku Antologi

Eksistensi LGBT

Kaum yang identik dengan simbol pelangi ini, tidak mungkin memiliki eksistensi tinggi jika tidak berbekal dukungan dari berbagai sisi. Termasuk perusahaan-perusahaan besar dari berbagai negara. Seperti: Apple, Google, Facebook, YouTube, dan Unilever yang baru-baru ini mengundang reaksi dan viral di dunia maya.

Dukungan dari lembaga internasional pun membuat kaum LGBT kian jemawa tak terkira. Bahkan Instagram–aplikasi berbagi foto– kian mengukuhkan dukungannya.

Melansir dari Economic Times, para pengguna di Instagram diminta memahami komunitas LGBT yang terdampak Covid-19.

Dijelaskan oleh Tara Bedi sebagai Manajer Kebijakan Publik dan Penjangkauan Komunitas Instagram, ia menginginkan aplikasi menjadi ruang aman bagi komunitas untuk mengekspresikan diri.

Dengan demikian, Instagram pun bekerja dengan Queer Muslim Project, sebuah seni visual dan dongeng untuk mempromosikan representasi komunitas, positif, dan interseksional yang positif terhadap jenis kelamin, termasuk meluncurkan panduan kesejahteraan bagi komunitas LGBT.

Beberapa waktu lalu pun perusahaan besar Unilever mendeklarasikan diri mendukung komunitas LGBT. Pernyataan itu diunggah lewat akun Instagram Unilever Global pada Jumat 19 Juni 2020.

Dalam upaya memberi dukungan atas kampanye tersebut, mereka sudah menandatangani deklarasi Amsterdam, bekerja sama dengan Open for Business untuk menunjukkan bahwa Unilever dengan inklusi LGBTQI+. Meminta Stonewall –lembaga amal untuk kaum LGBT– mengaudit kebijakan dan mengukur tindakan Unilever dalam bidang ini.

Meskipun di dunia Barat keputusan tersebut merupakan hal positif karena menjunjung tinggi hak asasi manusia, tetapi tentu saja hal itu di Indonesia menuai kontroversi.

Maraknya perusahaan multinasional yang mendukung LGBT bukanlah momen baru dan kali pertama. Laman huffingtonpost pada 2017 mengeluarkan daftar 20 perusahaan Global yang terang-terangan mendukung LGBT. Di antaranya: Google Inc, Walt Disney.co, Yahoo! Inc, Nike Inc, Chevron Inc, Mastercard, dan lain sebagainya. Beberapa di antara perusahaan besar tersebut tak asing lagi di Indonesia. Bahkan pernah mengalami nasib yang sama dengan Unilever, yakni ancaman pemboikotan. Salah satunya adalah Starbuck. Namun, semua tak membuahkan hasil, mereka tetap melenggang dengan dukungannya di berbagai kondisi.

Pemboikotan dan Solusi

Seruan boikot disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” kata Azrul saat dihubungi Republika, Ahad (28/6).

Apakah pemboikotan sebagai solusi signifikan? Jawabannya, LGBT ini lahir dan subur karena faktor ideologis. Negara Barat sebagai kafir penjajah yang memelihara keberlangsungan kaum satu ini, sehingga kekuatannya akan terus bertambah. Pemboikotan memang bisa merugikan produsen, tetapi tidak ada jaminan bahwa dukungan terhadap kebobrokan LGBT dihentikan. Kerusakan sistemik perlu dihentikan oleh sistem pula, tidak bisa terhenti menyeluruh jika hanya ditembus dengan langkah yang parsial.

Pengaruh pemboikotan itu tetap ada dengan turunnya saham sebesar 2,71% tetapi tentu tak akan menjadi masalah besar bagi perusahaan multinasional sebagai raksasa dunia, merajai berbagai macam produk yang tersebar hampir di seluruh negara.

Secara khusus menyoroti Unilever yang notabene sebagai anak induk perusahaan di Belanda, memberikan dukungan dengan komunikasi diplomatis untuk meredam arus kontroversi dalam negeri. Pemboikotan adalah salah satu usaha memerangi kemungkaran, tetapi semua belum bisa mencerabut kerusakan tersebut dari akarnya.

Kaum pelangi semakin merasa di atas angin. Mereka berhasil membuat suara dunia pro pada eksistensinya. Kegigihan dan nilai juang yang tak sebentar membuat mereka memiliki performa yang kian gencar melancarkan kampanyenya ke berbagai lini. Pada tahun 2008, PBB resmi mengakui hak-hak LGBT, maka sudah dipastikan melesatnya anak panah dari busur kebobrokan moral dan penyimpangan akhlak kian mendunia.

Tumbuhlah generasi-generasi penghamba nafsu syahwat menyimpang di seluruh dunia dengan dukungan dari perusahaan-perusahaan korporasi.
LGBT berdiri di atas asas kebebasan dengan bercokolnya pemahaman sekularisme. Tidak menerima aturan agama sebagai pembatas dan sekat dari maksiat. Penyimpangan dari fitrah manusia secara nyata. Mereka paling gencar memiliki suara sebagai korban diskriminasi dan kaum marginal, padahal jelas-jelas perilakunya abnormal. Selain menjadi sebuah pelanggaran yang besar, LGBT pun menjadi sumber dan sarang penyakit yang mematikan. Kita bisa cek data meningkatnya penderita HIV/AIDS.

Serangan secara lokal, tentu saja tidak seimbang jika harus melawan arus global. Butuh hal besar agar hegemoni Kapitalisme yang mencengkeram dunia pun bisa segera karam. Islam hadir bukan sekadar pedoman hidup, tetapi perwujudan ideologi yang memiliki fikrah dan tariqah shahih yang tentu saja bisa menggempur arus busuk borok-borok yang dilahirkan sistem Kapitalisme termasuk LGBT.

Idiom kaum pelangi tak akan lagi bisa sinergi dengan generasi. Mereka akan tuntas dan mati ketika sistem Islam/khilafah tegak berdiri dan tentunya menjadi satu-satunya sistem yang bisa membasmi segala bentuk virus penyimpangan yang mereka ciptakan.

Meskipun kini tak ada satu pun negara di dunia yang menganut sistem Islam secara menyeluruh. Tetapi kita harus membuka mata dan pemikiran. Akankah terus membiarkan sistem batil menguasai?

Dengan mentalitas yang lemah dan rusak, efek penyebaran virus LGBT secara terus menerus, dengan berbekal dukungan individu, negara, serta badan dunia, menjadi penyebab kerusakan. Semua aktivitas LGBT adalah hal-hal yang destruktif menjadi ancaman bagi masyarakat, generasi, dan negara. Bahkan keberadaan mereka adalah bagian utama penjajahan bagi dunia Islam.
Dalam menuntaskan setiap problematika umat, khilafah akan sangat detail mencerabut akar masalah dari berbagai sisi, sehingga didapatkan solusi yang menyeluruh dan sistemik. Khilafah akan mengarahkan setiap keluarga untuk senantiasa memiliki ruh bertakwa yang kafah sehingga celah penyimpangan ini tidak akan menggerogoti ketahanan keluarga. Pun mengoreksi keadaan lingkungan selain keluarga, yakni masyarakat dan negara.

Dalam kekhilafahan, penerapan ajaran Islam tidak parsial, dilaksanakan secara total dan maksimal. Sehingga jika ada hal yang menyimpang pun bisa dihitung dengan jari. Tentu keberadaannya akan sangat langka. Ketika ada kasus pun, khilafah akan dengan tegas memberikan hukuman yang jelas, agar setiap pengaruh buruk yang dilahirkan dari kemaksiatan tersebut segera tuntas. Bisa dipastikan dengan cara yang signifikan seperti itu, LGBT akan mudah dimusnahkan dari akar dan tidak akan bisa dijadikan alat utama penjajahan.

“Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas syariah (peraturan) dari urusan (agama) itu. Sebab itu ikutilah syariah itu dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (TQS. al-Jatsiyah: 18)

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top