Kebijakan Zonasi Bukan Solusi
Oleh: Ummu Zulfa
(Muslimah Subang)

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia. Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw telah mewajibkan setiap muslim untuk mencari ilmu. Orang yang berilmu akan ditinggikan kedudukannya beberapa derajat dibandingkan dengan ahli ibadah sekalipun. Ini yang mendorong Islam agar menyediakan pendidikan bermutu bagi warga masyarakatnya. Dorongan ruhiyah yang dilandasi keimanan yang tinggi. Namun hari ini, kewajiban menuntut ilmu tidak bisa dirasakan oleh semua orang. Apalagi dengan adanya sistem zonasi membuat para siswa kesusahan untuk mencari sekolah yang diinginkan, bahkan terhambat dengan usia yang belum memadai.

Pada tanggal 23 Juli lalu, orang tua murid berunjuk rasa di kantor Gubernur DKI Jakarta memprotes aturan PPDB zonasi di wilayah Jakarta. Mereka protes karena prioritas penetapan PPDB berdasarkan usia. (www.kompas.tv 27/6/2020) 

Komisi Nasional Perlindungan Anak juga meminta Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta tahun ini dibatalkan atau diulang. Komnas anak mendapat banyak laporan dan protes dari orang tua siswa terhadap mekanisme pembatasan usia pada sistem PPDB, sehingga menuntut agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membatalkan proses PPDB DKI Jakarta dan mengulang kembali proses penerimaan murid. Hal ini berdampak pada psikologi anak, yang menjadi tidak percaya pada pemerintah karena merasa sia-sia telah belajar keras. Selain itu banyak siswa yang tidak mendapatkan sekolah padahal siswa tersebut memiliki nilai akademik yang tinggi. (www.vivanews.com 28/6/2020) 

LBH Jakarta juga menghimbau kepada Gubernur provinsi DKI Jakarta untuk memerintahkan kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk mencabut atau setidak-tidaknya merevisi Keputusan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nomor 501 Tahun 2020 tentang petunjuk teknis (juknis) Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020/2021 karena bertentangan dengan Peraturan Menteri Nomor 44 Tahun 2019 tentang PPDB pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan dan peraturan yang lebih tinggi lainnya.
Zonasi usia yang menjadi prioritas dalam PPDB tahun ini, memicu kekacauan karena banyak yang tidak diterima di sekolah yang dekat dengan rumah dan kemungkinan besar akan diterima di sekolah yang jauh jaraknya dari rumah. Padahal prinsip dari Permendikbud 44/2019 adalah mendekatkan domisili peserta didik dengan sekolah. (news.detik.com 28/6/2020) 

Kebijakan zonasi usia sebenarnya tidak menjadi solusi atas sembrawutnya pendidikan di Indonesia. Kebijakan ini menunjukkan ketidakmampuan pemerintah untuk memberikan pendidikan yang merata bagi seluruh rakyatnya.
Setiap orang harusnya mendapatkan pendidikan yang baik dan merata.

Hal ini belum dirasakan oleh rakyat Indonesia. Masih banyak mereka yang tidak bisa sekolah karena biaya yang mahal. Ini merupakan potret nyata kegagalan negara menjamin layanan pendidikan.
Selain itu, pendidikan hari ini juga tidak mampu mencetak generasi yang handal dan sekaligus memiliki komitmen yang tinggi dengan nilai keagamaannya. Maka tak heran kalau sistem ini mampu melahirkan seorang sekelas profesor yang menghalalkan zina, atau dosen yang terindikasi homoseksual.
 
Pendidikan di dalam Islam merupakan kebutuhan mendasar bagi seluruh warganya. Pendidikan adalah hal penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan juga merupakan investasi masa depan. Maka negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya. Seharusnya negara mampu mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Seorang imam (khalifah/ kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Islam juga mempunyai paradigma dasar dalam sistem pendidikan, yaitu :
Pertama, islam meletakkan prinsip kurikulum, strategi dan tujuan pendidikan berdasarkan aqidah Islam. Pada aspek ini diharapkan terbentuk sumber daya manusia terdidik dengan pola berfikir dan pola sikap yang Islami.

Kedua, pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal saleh dan ilmu yang bermanfaat. Prinsip ini mengajarkan pula bahwa di dalam Islam yang menjadi pokok perhatian bukanlah kuantitas, tapi kualitas pendidikan.

Ketiga, pendidikan ditujukan untuk membangkitkan dan mengarahkan potensi-potensi, baik yang ada pada diri setiap manusia dan meminimalisir aspek yang buruknya.

Keempat, keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pendidikan. Dengan demikian sentral keteladanan yang harus diikuti adalah Rasulullah saw.

Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka untuk mengenal Allah swt. Ilmu dikembangkan untuk diambil manfaatnya dalam rangka ibadah kepada Allah swt dan untuk kemaslahatan umat manusia. 
Maka dengan penerapan sistem pendidikan Islam akan terwujud generasi umat terbaik.

“ Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS Ali Imran: 110). 
 
Wallahu 'alam bishawab.
 
Top