Oleh : Anis Nofitasari

Hampir enam bulan lamanya, Indonesia dirundung duka. Pasalnya, wabah covid-19 masih menyelimuti negeri. Bukan berkurang dan berangsur membaik, keberadaannya yang tak kasat mata kian melonjak tak terkendali. Layaknya jamur di musim hujan. Yang diharapkan pergi dan tak kembali.

Dilansir dari Vivanews. Sabtu, 4 Juli 2020, jubir khusus pemerintah untuk penanganan covid-19, Achmad Yurianto, menyampaikan data terkini bahwa hingga hari ini saja, penambahan jumlah positif baru covid-19 mencapai 1447 kasus, sehingga total kasus positif mencapai 62.142. Yang dinyatakan sembuh 28.219 dan meninggal 3.089. Sedangkan berdasarkan wilayah, penyebaran di Jawa Timur masih tertinggi dengan 413 kasus baru, DKI Jakarta 223 kasus baru, Sulawesi Selatan 195 kasus baru, Jawa Tengah 110 kasus baru, Bali 91 kasus baru, dan Jawa Barat 88 kasus baru.

Penambahan jumlah kasus di Indonesia, khususnya di beberapa daerah tentu tak terjadi begitu saja. Beberapa hal yang memicu bertambahnya angka kasus diantaranya kurang dijalankannya himbauan dan protokol kesehatan dari para tenaga medis di berbagai lapisan  masyarakat.
 "Masih ada orang lain yang rentan tertular karena tidak menggunakan masker, jaga jarak dan tidak cuci tangan secara sering menggunakan sabun, ini titik lemah yang selalu terjadi dan ini yang sebabkan dari hari ke hari kasus masih saja terjadi", ungkap Yuri.
Minimnya kesadaran membuat semakin banyak yang meremehkan bahaya yang  sewaktu-waktu mengancam.  Ditambah lagi  dengan kebijakan pelonggaran oleh pemerintah, yang ditandai dengan penerapan  new normal.

New normal berarti berlangsungnya kembali aktifitas sehari-hari  di seluruh bidang seperti sedia kala. Layaknya tak terjadi apa-apa meski data yang ada telah menjawab semuanya. Pasar, mall, swalayan, tempat hiburan dan rekreasi kembali dibuka. Anak-anak aktif kembali ke sekolah dan TPA. Jalanan ramai oleh pesepeda dan pelancong, serta aktifitas lain yang memicu keramaian. Meskipun masa isolasi sudah diakhiri, baik secara pribadi maupun kolektif di masing-masing wilayah, tak dapat dipungkiri kekhawatiran tetap dirasakan oleh siapapun yang menyadarinya. Di masa new normal, himbauan dan protokol kesehatan harus selalu diperhatikan dan dijalankan dimanapun dan oleh siapapun.
"Ini prasarat utama kalau kita ingin aman dari covid-19. Kami ingatkan penularan dari hari ke hari yang masih kita temukan adalah gambaran dari masih adanya orang yang bawa virus ini namun dia tidak mampu melindungi orang lain karena tidak menggunakan masker dan tidak jaga jarak," tegas Yuri.

Prosentase kenaikan tersebut mengisyaratkan bahwa keadaan saat ini masih rentan dan belum aman. Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa dampak covid-19 telah merubah seluruh tatanan. Mulai dari personal hingga kolektif. Status sosial maupun jabatan. Semua berubah tak terkendali. Angka pengangguran meningkat tajam, PHK massal dilakukan, sekolah berganti haluan, yang sebelumnya dominan via tatap muka secara langsung, kini beralih via online.

Segala bidang mengalami dampaknya. Terutama bidang ekonomi. Arus uang seolah macet dalam peredarannya. Mata pencaharian manusia terkena imbas dari wabah yang ada. Meski tak semua merasakannya, mayoritas dan sebagian besar penduduk mengalaminya. Terkendalanya peredaran uang menyebabkan banyak pabrik, perusahaan dan produsen gulung tikar, PHK massal dimana-mana. Hal itu memicu pengangguran, menambah angka kemiskinan. Yang kreatif dalam beradaptasi tak akan kebingungan bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru. Namun yang memiliki keahlian dalam satu bidang saja tentu akan kelabakan dalam memenuhi kebutuhannya. Mengingat bahwa semakin lama kebutuhan manusia bukan semakin berkurang, namun semakin bertambah. Tentu itu merupakan suatu permasalahan baru yang harus dipecahkan dengan solusi yang tepat.

Pelonggaran di era new normal merupakan salah satu solusi yang diberikan oleh pemerintah di masa pandemi ini. Namun pada hakikatnya hal itu bukanlah satu-satunya solusi yang tepat. Penyelamatan dengan pelonggaran ketika kasus bertambah tentu bukanlah perkara yang sepenuhnya bisa dibenarkan. Kebijakan pelonggaran harus dikoreksi dan dipertimbangkan kembali. Tinjauan ulang terhadap aturan yang dijalankan harus menjadi fokus perhatian bagi pemerintah.

Produktif pada masa pandemi memang sangat dibutuhkan siapapun dalam masa-masa sulit ini. Apalagi ketika hampir seluruh dunia dikuasai sistem kapitalisme, sistem yang menomorsatukan asas keuntungan, bukan keselamatan. Upaya untuk tidak mengalami kerugian tetap dilakukan tanpa peduli dengan apa yang terjadi, tanpa memikirkan siapa yang dirugikan. Bahkan nyawa manusia siap dipertaruhkan. Padahal nyawa seorang muslim sangatlah berarti.
Rasulullah bersabda, yang artinya :
"Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak."(HR. Nasa'i 3987, Turmudzi 1455 dan dishahihkan al-Albani)

Sistem kapitalisme yang diterapkan oleh banyak negara menampakkan akal terbatas manusia. Yang lebih dikuasai oleh hawa nafsu. Tidak akan bisa menciptakan kemaslahatan selama mereka mencampakkan aturanNya. Dimana dalam dirinya lebih didominasi oleh dua kemungkinan. Baik atau buruk. Mengikuti hawa nafsu ataukah titah Ilahi (yang didasarkan melalui akal sebagai pedoman berfikir). Begitupun dengan kebijakan-kebijakan yang dirumuskan. Apabila dasarnya bukanlah apa yang berasal dari Sang Maha Benar, maka tak layaklah untuk dipertahankan. Segala kebijakan dan aturan harus segera dikoreksi dan ditinjau ulang kembali.

Beda sekali ketika Islam dijadikan pedoman dalam melangsungkan seluruh aspek kehidupan. Ketika wabah melanda suatu negeri, maka negara benar-benar mengurus dan meriayah umatnya dengan semaksimal mungkin. Menerapkan sistem lock down tanpa melupakan tanggung jawab memenuhi kebutuhan rakyatnya baik lahir maupun batin. Menghentikan hubungan sementara antar negara, bahkan antar wilayah dalam negeri ketika wabah tak bisa dihindari. Memberi kelonggaran kepada umat ketika benar-benar sudah aman layaknya new normal, hingga dapat dipastikan bahwa wabah benar-benar telah menghilang.
Sudah saatnya kepemimpinan harus dikembalikan kepadaNya, mencampakkan kapitalisme dan kembali mengadopsi hukum-hukumNya. Menerapkan Islam kaffah dalam kehidupan umat, mulai bangun tidur, hingga bangun negara. Segala aspek kehidupan akan terjaga tanpa ada kekhawatiran sedikitpun dalam benak umat. Akal dan jiwa umat akan terlindungi dari hal-hal yang menjerumuskan. Kemuliaan akan dirasakan dan dipancarkan laksana wibawanya. Bak cahaya purnama yang menerangi kegelapan malam. Wallahu a'lam bishshowab.
 
Top