Oleh : Silmi Kaffah
(Pemerhati Sosial)

Kasus baru Covid-19 tembus di atas seribu per hari. Pemerintah mencatat ada penambahan 1.624 kasus berdasarkan data yang dihimpun dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 59.394 kasus. CNNIndonesia.com (02/07/2020)

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menuturkan sikap gegabah penguasa dalam membuka kembali sembilan sektor ekonomi dan penerapan AKB menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat. Hermawan berpendapat sejumlah masyarakat pada akhirnya menganggap langkah itu menunjukkan kondisi yang sudah kembali normal seperti sebelum adanya pandemi Covid-19. Inilah risiko pembukaan sektor-sektor tersebut, kita sekarang mengalami kenaikan kasus secara konsisten di atas 1.000 per hari. Lonjakan ini terjadi di berbagai wilayah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah yang cukup signifikan". Dia meminta penguasa untuk kembali mengevaluasi kembali pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau keputusan untuk membuka kembali sentra ekonomi dan aktivitas masyarakat secara luas. (Kompas.com, 21/6/2020)

Akar Masalah

Berdasarkan fakta di atas, dengan jumlah kasus positif yang masih sangat tinggi, maka penerapan new normal sebenarnya berisiko tinggi bagi masyarakat, sebab penyebaran virus Corona di negeri ini akan semakin masif. Penguasa seharusnya mengacu pada persyaratan yang ditetapkan oleh WHO dalam penerapan new normal ini, jika jumlah kasus tidak naik selama dua minggu, maka new normal boleh diterapkan. Bahkan ada beberapa negara yang menetapkan penerapan new normal jika jumlah kasus positif sudah menurun selama satu bulan. Jadi, jika melihat kondisi peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia yang justru semakin meningkat setiap harinya, maka new normal seharusnya tidak diterapkan.

Sekalipun penguasa saat ini mulai melonggarkan sejumlah aturan terkait PSBB demi perbaikan ekonomi, akan tetapi upaya penekanan kasus positif Covid-19 harusnya lebih diprioritaskan oleh penguasa daripada memprioritaskan perbaikan ekonomi. Akibatnya, kebingungan dan ketakutan justru melanda masyarakat sebab bekerja di luar rumah berpotensi terkena Covid-19 dan berdiam diri di dalam rumah pun dapat menyebabkan anggota keluarga kelaparan. Jika demikian adanya, maka akan sulit mengembalikan situasi normal seperti sebelumnya.

Tak dipungkiri, inilah buah dari penerapan sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. Dimana segala kebijakan yang ditetapkan oleh penguasa hanya berlandaskan pada materi dan tentunya sesuai keinginan pemilik modal. Bahkan kewajiban negara dalam melakukan pemenuhan kebutuhan masyarakat selama pandemik pun tak dilakukan secara sungguh-sungguh dan menyeluruh, buktinya masih banyak masyarakat yang terdampak Covid-19 mengeluhkan tidak memperoleh bantuan yang diberikan oleh penguasa. Bagaimana mungkin kehidupan normal kembali dijumpai jika penanganan pandemik masih seperti ini?

Keputusan penguasa menerapkan new normal semakin menurunkan harapan masyarakat kepada penguasa untuk mengatasi Covid-19 secara benar. Selain itu, masyarakat juga berharap agar penguasa berkata jujur dan transparan terkait perkembangan kasus ini. Karena ini bukan tanggung jawab individu dan masyarakat saja, akan tetapi ini merupakan tanggung jawab negara untuk melakukan segala upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tak hanya itu, kewajiban negara pula dalam mencari jalan keluar jitu bagi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak Covid-19 agar tak terbebani dengan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Semestinya kelesuan ekonomi yang dialami para kapitalis tidak menjadi pendorong kuat penguasa memberlakukan new normal dengan risiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas. Sebab, penguasa yang bijaksana pastilah akan mengutamakan keselamatan dan kesehatan rakyat dibandingkan dengan yang lainnya.

Solusi Islam

Sungguh tak diragukan jika aturan Islam diterapkan di negeri ini, sebab akan melahirkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat. Karena aturan yang diterapkan berasal dari Allah Sang Pencipta manusia dan seluruh alam semesta. Maka, setiap kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang pasti mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat. Apatah lagi dalam pencegahan penyebaran wabah agar tidak menelan korban jiwa terlalu banyak.  Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ berikut ini: “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Dalam Islam, satu nyawa manusia itu sangat penting dan begitu berharga. Sehingga segala kebijakan yang dikeluarkan sebisa mungkin tidak merugikan masyarakat apalagi sampai menghilangkan nyawa. Jika demikian yang dilakukan oleh penguasa, maka new normal sesungguhnya akan dengan cepat kita rasakan. Tak ada rasa takut pun tak ada kekhawatiran di tengah masyarakat akan tertular virus, sebab negara telah menjamin dan memastikan musnahnya virus sebelum memutuskan melakukan kebijakan new normal.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top