Oleh : Wida Ummu Azzam
Aktivis Muslimah Peduli Negeri 

Para ahli berpandangan bahwa tingginya angka kasus baru Corona di berbagai daerah karena pelonggaran PSBB di tengah kondisi ketidaksiapan masyarakat. Karenanya semestinya program new normal dicabut.

Dilansir dari Bisnis.com sejumlah pakar dan praktisi kesehatan menduga pembukaan sembilan sektor ekonomi dan wacana adaptasi kebiasaan baru atau AKB di tengah masyarakat menyebabkan kenaikan kasus Covid-19 di atas seribu per hari pada sepekan terakhir.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menuturkan sikap gegabah pemerintah dalam membuka kembali sembilan sektor ekonomi dan penerapan AKB menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat ihwal pencegahan penyebaran transmisi lokal virus Corona.

Hermawan berpendapat sejumlah masyarakat pada akhirnya menganggap langkah itu menunjukkan kondisi yang sudah kembali normal seperti sebelum adanya pandemi Covid-19.(Bisnis.com 21/06/2020)

Sementara pihak pemerintah beralasan karena faktor tes masif dan pelacakan agresif yg dilakukan oleh pemerintah,
kasus baru Covid-19 tembus di atas seribu per hari.

Pada Sabtu (20/6/2020) pemerintah mencatat ada penambahan 1.226 kasus berdasarkan data yang dihimpun dalam 24 jam terakhir.
Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 45.029.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebut masih tingginya kasus baru Covid-19 karena pelacakan yang dilakukan secara agresif.(KOMPAS.com 20/06/2020)

Pemberlakuan new normal atau kenormalan baru selama pandemi virus Corona yang direncanakan pemerintah dinilai belum tepat. Sebab Indonesia masih belum aman dari penyebaran Covid-19.

Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dr. Iwan Ariawan menyampaikan, dengan jumlah kasus yang masih terbilang tinggi maka penerapan new normal beresiko besar terhadap kian masifnya penyebaran virus Corona.

Hal tersebut dikatakan Iwan dalam diskusi virtual yang diadakan oleh Para Syndicate, Minggu (21/6).(CNNIndonesia.com, 22/06/2020)

Dari awal pemerintah menerapkan kebijakan new normal ini memang tidak melibatkan para ahli yang memumpuni dalam bidang ini. New normal life hanya mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat memadai agar tidak menjadi masalah baru.

Alih-alih membangkitkan ekonomi, yang terjadi justru wabah semakin nyata mengintai dan membahayakan masyarakat.

Harusnya negara melakukan tes dan pelacakan agar memastikan individu terinfeksi tidak menularkan kepada yang sehat. Selain itu
Kewajiban negara juga harusnya mencari jalan keluar jitu yaitu memenuhi  kebutuhan dasar masyarakat apabila diterapkan karantina di tengah masyarakat.

Semestinya kelesuan ekonomi yang dialami para kapitalis tidak menjadi pendorong kuat pemerintah untuk memberlakukan new normal life ini. Yang justru berisiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas.

Solusi Islam

Secara historis pernah ada sebuah sistem yang berhasil dalam menangani wabah dan mampu menjaga stabilitas negara yaitu sistem Islam.

Islam dari awal memiliki solusi jitu dalam  menghadapi pandemi. Ketika permasalahan yang dihadapi, umat pun mampu menyelesaikan secara tuntas tanpa harus mengorbankan rakyat itu sendiri.

Melakukan deteksi dini kepada masyarakat pada saat pandemi dengan cara memisahkan orang sehat dan sakit. Ketika hal ini dilakukan bagi orang yang sehat tetap bisa melakukan aktivitas lain tanpa ada kekhawatiran tertular. Sementara yang sakit diobati dan dikarantina agar tidak terjadi penyebaran virus. Di samping itu, negara menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai dengan dukungan dari para ahli di bidang tersebut untuk meneliti virus yang mewabah.

Adapun terkait kestabilan ekonomi, sistem Islam mampu menanganinya dengan memanfaatkan sumber daya alam dan potensi kekayaan yang melimpah. Islam tidak mengambil sumber pemasukan dari riba dan pajak karena hal ini jelas-jelas dilarang. Lembaga keuangan yang ditunjuk adalah Baitulmal sebagai lembaga keuangan dalam sistem khilafah.

Di dalam sistem Islam adanya pandemi ataupun tidak, kestabilan ekonomi tetap terkontrol karena semuanya dilakukan sesegera mungkin tanpa pertimbangan untung dan rugi. Kemaslahatan pun terasa di seluruh negeri.
Hal ini justru berbanding terbalik dengan sistem kapitalis. Ketika menerapkan new normal justru menambah rumit masalah pandemi.

Dengan demikian tinggal bagi kita mau dan tidaknya hidup diatur dalam sistem Islam yang mampu mensejahterakan rakyatnya muslim dan nonmuslim.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top