Oleh : Faizah Khoirunnisa' Azzahro (Aktivis Dakwah)

Kementan baru saja meluncurkan produk kalung berbasis eucalyptus didesain dengan teknologi nano dalam bentuk serbuk yang dikemas dalam kantong berpori. Kalung keluaran Kementan ini mengundang kontroversi karena deskripsi pada bungkus yang bertuliskan " ANTI VIRUS CORONA" dan pernyataan Menteri Pertanian yang mengatakan kalung ini dapat mematikan Corona dengan kontak selama 15 menit yang bisa membunuh 42 persen Corona. Menurutnya, semakin lama, semakin banyak yang tereliminasi. (www.tirto.id, 06-07-2020)

Klaim tersebut dibantah oleh Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, bahwa eucalyptus bukanlah sebagai obat utama covid19, melainkan hanya mengobati gejalanya yang menyerang saluran pernapasan. Dalam riset terdahulu, eucalyptus memang diketahui mampu membunuh virus influenza dan Corona, namun yang dimaksud bukan SARS-Cov-2 alias Covid19.

Menanggapi kontroversi tersebut, beredar meme bernada cemoohan dari sejumlah netizen, berupa foto kalung minyak kayu putih botolan dan kalung sabun. Sekelompok masyarakat juga menduga, proyek kalung antivirus ini sekedar formalitas kementerian terkait sebagai bukti penggunaan anggaran penangan pandemi yang sudah digelontorkan pemerintah.

Kepala Balitbangtan merespon kontroversi tersebut dengan nada ngeles jikapun tak berkhasiat menangkal covid19, khasiat yang ditawarkan produk eucalyptus keluaran kementan, sama dengan produk minyak kayu putih, di antaranya pelega nafas dan pengencer dahak. (www.m.ccnindonesia.com, 06-07-2020)

Dengan anggaran untuk Covid19 yang melonjak hingga 905,1 triliun dari sebelumnya 677 triliun, alih-alih mengerahkan pikiran untuk menemukan obat utamanya, Kementan justru membuang waktu dan dana untuk mengeluarkan produk yang sudah bisa ditemukan di pasaran.Tak heran, muncul kekhawatiran jika tidak transparan dan akuntabel, anggaran sebesar itu rentan menjadi bancakan.

*Saatnya Beralih ke Sistem Islam*

Penanganan pandemi jika diserahkan kepada rezim kapitalis sekuler tidak akan efektif dan efisien karena yang menjadi mindset utama adalah untung-rugi. Keselamatan dan kesehatan rakyat bukan menjadi prioritas.

Sebesar apapun dana yang dianggarkan untuk menangani pandemi, jika tidak dikelola oleh penguasa dan sistem yang amanah, takkan bisa mengentaskan masalah, mengingat sistem politik hari ini dikuasai koruptor-koruptor di segala sektor.

Lawakan yang dipertontonkan rezim di sepanjang pandemi harusnya bisa membuka mata kita bahwa jika ingin pengelolaan negara berjalan baik, demokrasi tak bisa kita harapkan. Yang rakyat butuhkan adalah penguasa yang takut akan murka Allah jika kebijakan yang diambilnya mendzalimi rakyat. Sebagaimana sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang semalam suntuk menangis tersedu karena mengkhawatirkan amanah kekuasaan yang dipikulnya.

Lebih dari itu , negeri ini juga butuh  sebuah sistem yang berkomitmen menerapkan aturan Allah yang sudah pasti mendatangkan kebaikan untuk alam semesta. Aturan Allah berupa syariah Islam, mengharuskan pemimpin negara Khilafah untuk memberikan pelayanan terbaiknya kepada rakyat. Tak memandang ras, suku, dan agama, selama masih berada di wilayah kekuasaannya.

Dalam hal jaminan kesehatan, negara Islam wajib menyediakan fasilitas kesehatan dengan kualitas terbaik secara gratis, atau berbayar namun tidak memberatkan rakyat.

Di tengah pandemi yang obat dan vaksinnya belum ditemukan seperti saat ini, Khilafah mendorong para ilmuwan dan saintis untuk melakukan penelitian besar-besaran. Berapapun biaya yang dibutuhkan, Khilafah memiliki beberapa cara untuk meningkatkan pendapatan negara. Dengan demikian, rakyat memiliki rasa aman dan percaya karena diurus oleh negara yang mengayomi.
 
Top