Oleh: Faizah Khoirunnisa'Azzahro (Aktivis Dakwah)

Pendidikan Indonesia makin bercorak kapitalisme, setelah Kemendikbud memulai gerakan "pernikahanl" atau penyelarasan antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja. Tujuan gerakan ini agar program vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan dunia industri dan dunia kerja. Rencananya program ini akan di targetkan pada 100 prodi vokasi di PTN dan PTS yang akan bertambah di periode berikutnya. (www.antaranews.com, 27-05-2020)

Senada dengan program tersebut, dalam lima tahun ke depan, Nadiem Makarim memiliki mimpi SMK akan diminati orangtua siswa dan siswa itu sendiri. Bahkan ia ingin melihat kepala sekolah SMK menolak peserta didik karena membeludaknya para pendaftar. Mendikbud mengatakan industri seharusnya melihat SMK ataupun vokasi sebagai lembaga pelatihan kerja dengan keuntungannya bahwa lulusan dari SMK maupun vokasi memiliki harga yang kompetitif sehingga industri tak terbebani  biaya yang besar untuk merekrut dan mempekerjakan mereka. (www.theworldnews.net, 27-06-2020)

*Lagi, Kapitalis yang Untung*

Sebagai sebuah sistem yang saat ini menghegemoni dunia, tentunya Kapitalisme ingin agar arah pendidikan juga menguntungkan para pemilik modal. Melalui kekuatan regulasi , para kapitalis ingin penguasa yang sudah terjerat kapitalisme menyediakan SDM murah yang bisa membantu industrinya terus menghasilkan pundi-pundi keuntungan.

Sebelum program "pernikahan" vokasi-industri ini muncul, sudah ada program Triple Helix of University-Industry-Government Relations yang juga berorientasi pada industri dan bertujuan agar lembaga pendidikan menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dalam persaingan pasar.

Dengan program ini, pemerintah kian mengokohkan peran Lembaga Pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja  bagi industri.

Jika sistem kapitalisme ini dipertahankan, arah pendidikan Indonesia selalu  tak jauh dari mencetak generasi yang kelak akan menjadi budak industri dan jauh dari visi pendidikan yang bermutu tinggi.

*Pendidikan Dalam  Islam Menebar Rahmat dan Manfaat*

Dalam Islam, pendidikan semestinya bervisi membangun kepribadian seseorang sebagai hamba Allah sekaligus sebagai manusia yang mengemban misi sebagai khalifah fil ardhi. Sebaliknya, kapitalisme mengerdilkan peran pendidikan hanya untuk mencetak manusia bermental buruh yang menyesuaikan kebutuhan pasar.

Pendidikan berbasis sekulerisme, yang mengesampingkan pembentukan aqidah dan syaksiyah yang benar, akan menghasilkan kerusakan di berbagai sektor. Dampak nyatanya adalah kerusakan moral, perilaku hedonis materialistis, eksploitasi SDM dan SDA, serta perilaku korupsi yang merajalela.

Sekulerisme selalu mengukur kesusksesan dari kekayaan materi, sehingga orientasi mayoritas lulusan pendidikan sekuler adalah  bagaimana ia diterima bekerja di perusahaan yang bergengsi dan bergaji tinggi. Tak terpikir olehnya, bagaimana ilmunya bisa bermanfaat bagi banyak orang bahkan untuk agamanya.

Hal ini berbanding terbalik dengan pendidikan Islam yang menstandarkan keksuksesan ada pada ridho Allah SWT. Aplikasinya  terlihat dari kurikulumnya yang meletakkan pembentukan akidah sebagai yang pertama dan utama sebelum mempelajari hal lainnya. Dengan demikian, pendidikan Islam menghasilkan lulusan yang selalu ingat perannya sebagai hamba dan sebagai Khalifah di muka bumi yang harus selalu  menebar rahmat dan manfaat bagi alam semesta, dimanapun nantinya ia berperan di masyarakat.
 
Top