Oleh : Septimar Prihatini, M.Pd
Praktisi Pendidikan dan Penulis Buku Uniknya  Asesmen Ilahiyah

Membaca fakta terbaru yang diberitakan jateng.idntimes.com (22/07/2020), 240 siswa SMA di Kabupaten Jepara berbondong-bondong mengajukan permohonan dispensasi nikah selama periode Januari-Juni 2020. Karena kedapatan hamil di luar nikah, sehingga ritual pernikahan dianggap satu-satunya jalan untuk menutupi kasus tersebut.

Siapapun yang membaca berita tersebut, akan memberikan komentar yang hampir sama.  Marah, miris, menyayangkan dan sejenis reaksi lainnya. Namun inilah kenyataan hari ini yang ada di  hadapan kita. Gambaran potret buram remaja yang masih harus melakukan perjalanan panjang menuju cita dan asa.  Namun suguhan kejadian-kejadian yang membuat miris dihati tak kunjung usai,  yang namanya permasalahan remaja dengan segala jenisnya kerap menjadi berita media. Ini hanyalah satu kasus dari banyak kasus lainnya, dan kasus serupa kerap terjadi.

Pergaulan remaja era kini, memang menjadi catatan penting bagi semua pihak.  Bukan hanya sekolah, namun orang tua dan bangsapun memiliki andil yang sangat penting. Kehidupan siswa di sekolah masih dibatasi waktu jam belajar, di rumah dan lingkungan yang memiliki sistem pengaturan saat ini, jauh lebih lama waktu para siswa-siswa ini bersosialisasi.

Dan yang lebih mengenaskan, kasus ini muncul di tengah-tengah suasana yang serba terbatas masa pandemi.  Bukannya menjadi lebih tertib menjaga diri, namun malah menjadi peluang untuk bergaul di luar batas kewajaran.

Pergaulan siswa-siswi ini harus menjadi perhatian, jika diinginkan mereka tumbuh menjadi generasi yang siap dengan misi kehidupan serta siap memegang estafet kepepimimpinan dikemudian hari.  Terlebih lagi masa-masa Pandemi, Covid-19 masih menjadi kendala untuk pelaksanaan  belajar secara offline (tatap muka) di kelas.  Belajar Dari Rumah (BDR) menjadi alternatif agar pelajaran bisa tersampaikan. 
Belajar dilakukan secara daring-online.  Dengan model tersebut alat komunikasi  sebagian menggunakan laptop dan hand phone. Keduanya sama-sama ada resiko, terbuka konten porno baik sengaja atau tidak saat "mem-browse" materi yang dicari.  Sisi lain pemicu peluang memunculkan perilaku yang mengarah kepada pergaulan seks bebas.

Nampaknya minim pengetahuan dan kepekaan karakter para siswa-siswi menjadi pendorong mereka salah pemanfaatan teknologi dan alat komunikasi genggam ini.   Bukan lagi sebagai sarana belajar semata, namun dijadikan sebagai pengantar akses untuk kebebasan dalam pergaulan, menonton situs tayangan porno, komunikasi antar lawan jenis yang mengarah kepada bergejolaknya birahi menjadi pengalihan bagi mereka dengan kejenuhan belajar yang tidak dibangun dari kesadaran. Dan kesempatan mereka bertemu di saat kerja kelompok dan berkumpul dimanfaatkan untuk menyalurkan hasrat yang harusnya terlarang bagi mereka. Rumah menjadi tempat mereka melaksanakan tingkah laku yang tidak senonoh ini, terutama di saat orangtua tidak di rumah loss pengawasan. 
Perzinaan  menjadi puncak kemaksiatan para muda-mudi yang rentan dan labil dalam membentengi dirinya.

Menilik banyaknya kasus serupa atau pergaulan yang rentan menuju pintu perzinaan dikalangan remaja, membuat miris dan disesalkan.  Karena harusnya remaja menjadi ujung tombak peradaban bangsa dan siap melanjutkan estafet kepemimpinan.  Berbakti kepada orangtua, serta menjaga agama. Usia remaja SMA bukan lagi usia anak-anak, mereka sudah aqil baligh dan memiliki kewajiban mengikuti aturan syariat dalam hidupnya.

Pembentukan karakter pada peserta didik menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari proses pembelajaran.  Cerminan akhlak yang baik, sikap penjagaan diri yang tepat, bagaimana adab dengan guru, orang tua bahkan bagaimana aturan pergaulan sehat sesama lawan jenis.  Pembelajaran ini termasuk salah satu kunci kesuksesan masa depan peserta didik. Bukan hanya kemampuan intelektual semata, namun kemampuan sikap menjadi sangat penting dibangun agar melahirkan pribadi-pribadi tangguh beriman dan bertakwa.  Menjadi visi pendidikan nasional.

Kembali kepada kasus, seperti yang terjadi di Jepara jika pemberian dispensasi nikah sebagai solusi, maka tidak  menutup kemungkinan tuntutan yang sama akan terjadi bagi siswa-siswa dan orangtua di tempat yang lain.  Bahkan legalitas terhadap tindakan yang sudah jauh menyimpang dari norma-norma agama. Legalitas perzinahan akan membuka pintu kemaksiatan selebar-lebarnya. Kita bisa bayangkan ke depan seperti apa kacaunya  pergaulan bebas semakin menjadi kebiasaan (biah) para peserta didik di negeri ini. Saya tentunya sebagai praktisi pendidikan  sangat menyayangkan fakta ini.  Hilangnya fokus konsentrasi belajar bagi siswa-siswi sebagai salah satu indikator kegagalan proses belajar mengajar.

Siapa yang bertanggung jawab dalam hal ini? Perlu disadari pendidikan menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Keluarga dan orangtua adalah elemen pertama dan utama dalam membangun karakter anak, sekolah sebagai lembaga formal memberikan edukasi berdasarkan kurikulum pendidikan berbasis agama saat ini masih sangat terbatas, serta peranan negara dalam memberikan pengaturan lingkungan pendidikan menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.

Baik pendidikan rumah, sekolah ataupun negara, sehemat saya sudah menjadi tugas bersama memikirkan dan merancang strategi pendidikan yang berpengaruh pada karakter generasi muda umat ini.  Agar beberapa masa ke depan kita tidak kehilangan generasi yang menyisakan generasi labil, permisif dan sekuler dalam berfikir. Jika agama tidak dijadi pondasi yang harus dibangun dengan kokoh, walhasil kekacauan zaman karena huru-hara kaum milenial ini akan berkepanjangan.  Harus menjadi renungan bersama, proses pembentukan dan sistem belajar tidak bisa dipisah dengan nuansa agama yang akan membuat jiwa-jiwa tangguh yang kokoh dengan tantangan zaman.

Jangan sampai generasi muda bangsa ini, kehilangan karakter diri yang sesungguhnya.  Mampu membangun ide-ide kreatif, inovatif, mampu berkarya dengan tingkat intelektual tinggi namun memilikiki sosok pribadi-pribadi mandiri. Memiliki sakhsiyah yang islami dengan cara berfikir dan bersikap sesuai Islam.  Saya pikir sudah saatnya mulai merancang pola didik yang mengarah pada pembentukan yang seperti ini.

Dalam buku terakhir yang saya susun diterbitkan  dengan judul: "Uniknya Asesmen  Ilahiyah", melalui proses pengamatan,  pembelajaran, proses  pengukuran serta evaluasi saya mencoba menggambarkan betapa pentingnya penjagaan setiap amal. Ternyata setiap saat diakses oleh Allah Swt. melalui pencatatan malaikat Raqib-Atid.  Semua catatan ini akan dimintai pertanggung jawaban kelak.  Manusia manapun tidak dibiarkan lari dari tanggung jawabnya.

Anak-anak yang sudah terbebani taklif hukum, pahala dan dosa sebagai konsekwensi amalnya.  Maka orangtua akan ditanya kelak tentang tanggung jawab pendidikan yang sudah ditanamkan pada anak-anaknya.  Apakah mereka sudah mengajarkan agama dan membangun karakter sholeh-sholehah? Begitupun sekolah para guru akan diminta pertanggung jawaban selama mendidik siswa-siswi apakah sudah mengajari mereka dengan nilai-nilai kepahaman yang dibangun dengan Asesmen Ilahiyah yang tepat? Pun negara yang memiliki kewenangan penuh dalam menentukan arah pendidikan  akan diminta pertanggung jawaban kelak dengan landasan aturan dan sistem apa pendidkan bangsanya dibangun? Semua akses ini akan saling berhubungan satu sama lain.

Untuk itu, sebagai sikap bijak mari kita bersama-sama meningkatkan kepedulian, menata ulang seluruh komponen hidup ini dengan penataan yang telah dirancang Sang Pencipta yaitu Allah Swt.  Sehingga seluruh kehidupan bisa berjalan normal dengan kehendak aturan Allah, khususnya pendidikan bisa menghasilkan generasi hebat yang sanggup memimpin  bangsa ini dengan karakter dan pribadi tangguh.  Memiliki kepedulian yang peka terhadap nasib bangsa.  Selain terpatri dalam jiwanya kelak Allah akan mengases amalnya, dan malaikat tidak pernah lengah dalam pengawasan. 

Melahirkan generasi Rabbani memiliki karakter diri menjadi tanggung jawab bersama.  Sehingga pelaksanaan tugas ini kelak akan menjadi hujjah saat bertemu dengan Allah Swt. saat hari perhitungan.   Allah Swt. dengan Asesmen Ilahiyah-Nya akan menanyakan apa yang telah diusahakan manusia selama hidup di dunia.

"Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya.  Tidak ada yang dirugikan pada hari ini.  Sesungguhnya Allah maha cepat hisab-Nya." (TQS. al-Mukmin [40]: 17)
 
Top