Oleh : Anna Ummu Maryam
(Pegiat Literasi Aceh)

Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Papua dr.Silwanus Sumule mengungkapkan, sudah ada 140 tenaga medis yang terkonfirmasi positif Corona. Angka 140 itu didapatkan berdasarkan data yang dikumpulkan dari 10 rumah sakit yang ada di tiga wilayah Papua.

"Berdasarkan data yang kami kumpulkan untuk 10 rumah sakit yang ada di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom, sudah 140 petugas kesehatan yang dinyatakan positif Covid-19. Sebanyak 60 orang telah dinyatakan sembuh dan 80 orang masih dalam perawatan. Angka tertinggi di RS Jayapura dengan jumlah 63 orang," ujar Silwanus saat press conference, Kamis (detiknews.com, 2/7/2020).

Kondisi terkontaminasi para medis dengan virus Corona sebenarnya tidak hanya terjadi di Papua saja, tetapi juga terjadi pada paramedis di beberapa daerah yang tingkat penyebaran virusnya berada pada kondisi waspada.

Para pakar menyebut jumlah virus yang dihadapi pekerja medis selama pandemi Covid-19 adalah penyebab utama kerentanan mereka.

"Semakin banyak virus di dalam tubuh saya, semakin mungkin saya menularkannya kepada Anda," kata Profesor Wendy Barclay dari Departemen Penyakit Menular di Imperial College London. (kompas.com, 12/4/2020)

Oleh karena itu kepada setiap petugas medis yang bekerja merawat pasien  dihimbau untuk selalu menaati protokol kesehatan masa Covid-19, sehingga dapat menjaga stamina selama masa perawatan dan saat kontak langsung pada masa pengecekan.

Dampak terpaparnya Corona pada petugas medis sebenarnya bukan hal baru. Karena di awal mewabahnya Covid-19 ini, banyak pihak medis di berbagai daerah dan negara menjadi korban dari perawatan dan pengobatan pasien Covid-19.

Oleh badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) melaporkan ada lebih dari 22.000 petugas medis yang tersebar di 52 negara dan wilayah dinyatakan telah terinfeksi virus Corona (Covid-19).

Laporan itu dirilis pada Sabtu (11/4/20) berdasarkan data per Rabu (8/4/20). Dalam laporan itu menyebutkan, setidaknya ada 22.073 kasus Covid-19 yang merupakan petugas kesehatan.

Badan kesehatan dunia WHO mengungkapkan, jumlah tersebut sebenarnya jauh lebih besar mengingat tidak ada laporan sistematis mengenai infeksi di antara petugas kesehatan, seperti dilansir oleh thejakartapost.com.

Covid-19 Kian Mengancam

Pasca diberlakukan new normal penderita Corona kian mengalami kenaikan yang signifikan dan kian hari memakan korban. Bagaikan memakan buah simalakama, begitulah nasib paramedis hari ini.

Kekhawatiran dari pihak medis kian bertambah. Dari satu sisi naluri mereka terpanggil dalam memberikan perawatan dan pengobatan pada pasien, akan tetapi pada satu sisi yang lain mereka juga harus bersiap berujung pengabdian kepada kematian.

Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia Prof. David S. Perdanakusuma membenarkan, kekhawatiran itu karena melihat kondisi yang ada saat ini.

"Karena memang tugas dokter berhadapan dengan penyakit. Namun, dalam kondisi tidak terkendali secara jumlah makin meningkat, obat dan vaksin belum ada, menjadikan situasi sangat mengkhawatirkan," ujar David, saat dihubungi secara terpisah, Selasa (19/5/2020).

Artinya, pihak medis merasa jika tidak disikapi dengan tepat terkait penetapan pemerintah new normal bagi setiap wilayah tentu akan menimbulkan masalah baru dan semakin banyak yang positif Corona.

Tanpa solusi yang tepat, nasib paramedis pun kian terancam karena semakin banyak pasien yang akan dirawat dan kemungkinan terkontaminasi dengan virus pun semakin besar. Harapannya jangan sampai perjuangan pihak medis dalam merawat masyarakat menjadi tidak efektif dan efisien.

Kebijakan pemerintah dalam menetapkan solusi di masa pandemi terkesan latah dan terburu buru tanpa mempertimbangkan secara efisien dampak yang akan ditimbulkan bagi masyarakat.

Dan itu terbukti dengan makin bertambah pula penyebaran virus Corona ini. Sejatinya kebijakan ini berdasarkan sistem kapitalis liberal. Dimana kepentingan yang paling diperhitungkan adalah faktor ekonomi dan keuntungan kaum liberal saja.

Sehingga kemaslahatan dan  keselamatan masyarakat kurang mendapatkan perhatian. Begitupun dengan pihak medis yang mati-matian merawat pasien. Minimnya alat dan pelayanan kesehatan amat dirasakan. Sehingga banyak rumah sakit dan paramedis merasa amat kualahan dengan perawatan pasien.

Pergantian kebijakan yang terjadi berulang-ulang dalam mengambil kebijakan, telah menjelaskan kepada kita bahwa sistem kapitalis liberal yang menjadi aturan adalah sistem negara hari ini adalah lemah dan tidak mampu dalam menyelesaikan permasalahan.

Sistem ini telah menjadikan negara terfokus pada pandangan manfaat dan kepentingan pihak tertentu saja, bukan kemaslahatan rakyatnya. Sistem ini pula telah menjadikan perjuangan pihak medis semakin berat saja. Mereka hidup di bawah bayang-bayang kematian tanpa adanya sebuah penghargaan atas jasa mereka.

Islam Punya Solusi Tuntas

Islam sejatinya memberikan solusi yang menyeluruh terhadap seluruh persoalan kehidupan tak terkecuali masalah wabah ini.

Islam bukan hanya agama spiritual semata tapi Islam punya peraturan hidup dalam menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi pada manusia.

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS. al Anbiya : 107)


إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا ﴿۹﴾

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. al-Isra’ : 9)

Langkah Islam dalam menghentikan penularan virus bagi paramedis adalah :

Pertama, menganalisa dan memetakan kembali wilayah mana yang bisa diberlakukan new normal dan mana wilayah yang harus dilakukan lockdown. Sehingga jelas pasien yang dirawat positif Corona yang sudah dikarantina.

Tindakan ini juga dapat memudahkan memetakan berapa jumlah tenaga medis yang akan dikerahkan pada wilayah tersebut. Sehingga akan lebih efisien.

Kedua, memfalisitasi pihak kesehatan dalam penyediaan tempat, obat, dan peralatan medis lainnya guna percepatan penyembuhan pasien yang terkena virus oleh negara.

Ketiga, meminta pandangan pihak medis terkait langkah apa yang harus ditempuh selanjutnya. Meminta para ahli kesehatan melakukan riset dalam rangka menemukan obat yang efektif guna penyembuhan pasien lebih cepat.

Keempat, setiap paramedis ditanggung segala kebutuhannya dan keluarganya selama bertugas oleh negara. Dan dijamin keselamatannya dengan alat pengaman yang digunakan selama bekerja.

Kelima, memahami bahwa keselamatan dan kemaslahatan masyarakat dan medis adalah sama.  Sehingga sama-sama harus diprioritaskan. Sehingga pelayanan dan tindakan medis diperlakukan sama.

Semua hal di atas sangat bisa dilakukan, apabila peraturan yang diterapkan adalah aturan Islam. Karena dalam aturan Islam segala permasalahan sudah memiliki solusinya.

Islam menjadikan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab sebagai pelayan dalam segala urusan rakyat dan pengawas pelaksanaan hukum syariat di tengah manusia. Maka, negara dalam mengeluarkan kebijakan senantiasa demi kemaslahatan masyarakatnya.

Sehingga, akan melakukan segala langkah untuk memberikan kehidupan yang aman dan kesejahteraan ada pada setiap warga negara.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top