Oleh : Khansa Al Hakiimah
Ummu Warrabatul Bayt dan Pegiat Dakwah

Lebih dari  tiga bulan pandemi Covid-19 yang menyebar di seluruh Indonesia pada bulan Maret lalu hingga kini belum juga usai. Bahkan di beberapa daerah masih dalam zona merah yang terus meningkat. Jangankan menurun, melandainya grafik pasien terdampak Covid-19 pun belum juga menampakkan tanda-tandanya namun sikap pemerintah yang kini memberlakukan New Normal sungguh sangat disayangkan.

Pemberlakuan New Normal atau kenormalan baru selama pandemi virus corona yang direncanakan pemerintah dinilai belum tepat. Sebab Indonesia masih belum aman dari penyebaran Covid-19. Dikutip dari laman cnnindonesia.com, pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dr. Iwan Ariawan menyampaikan "Dengan jumlah kasus yang masih terbilang tinggi maka penerapan New Normal beresiko tinggi terhadap makin masifnya penyebaran virus corona. Seharusnya, mengacu persyaratan WHO, kalau kondisi jumlah kasus tidak naik selama dua minggu baru bisa dilonggarkan bahkan ada beberapa negara yang menetapkan pelonggaran dilakukan kalau sudah menurun selama satu bulan. Jadi sekarang kondisi di Indonesia belum aman untuk keluar dan bergerak, risikonya masih tinggi," katanya. Hal tersebut dikatakan Iwan dalam diskusi virtual yang diadakan oleh Para Syndicate, Minggu (21/6).

Jumlah kumulatif kasus virus corona sudah tembus 40 ribu lebih dalam kurun waktu tiga bulan sejak kasus pertama diumumkan 2 Maret 2020. Terhitung dari 1 Juni sampai 16 Juni lalu, jumlah kasus positif virus corona bertambah 13.927 kasus. Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dr. Panji Fortuna Hadisoemarto, juga menilai pemerintah seharusnya fokus pada menekan angka kasus virus corona dahulu ketimbang berpikir melonggarkan aturan demi ekonomi. Menurut Panji, perekonomian Indonesia pun akan sulit berjalan kalau wabah belum diatasi karena kesehatan masyarakat perlu diperkuat lebih dulu. Sepakat dengan hal itu, Iwan menambahkan, pemerintah seharusnya memikirkan kesehatan masyarakat terlebih dulu ketimbang ekonomi.

Peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 di sejumlah daerah maupun tingkat nasional juga tak bisa dilepaskan dari kapasitas pemeriksaan sampel di tengah masyarakat yang kian masif. Diikuti dengan melonjaknya angka pengangguran pasca badai pemutusan hubungan kerja (PHK). Dampaknya, kemiskinan dan kelaparan semakin mendera sebagian rakyat. Mirisnya, maksud ingin menyelesaikan persoalan pandemi hingga tuntas namun  pemerintah malah menyerukan kebijakan New Normal  demi berjalannya roda perekonomian global.

New Normal dimaknai bahwa rakyat harus berdamai dengan virus Corona dan menjalankan aktivitas biasa layaknya dalam kehidupan normal meski virus ini telah menginfeksi jutaan orang di dunia.  Tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan dalam penanggulangan dan pemberantasan Covid-19 hingga mempertaruhkan nyawa dalam pengabdian ini. Namun pasca New Normal diberlakukan di berbagai daerah, mereka kecewa karena kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah.

Begitulah wajah asli tatanan sistem yang memisahkan agama dari kehidupan (sekuler), perekonomian adalah proyek yang harus diutamakan dibanding upaya riil penyelamatan nyawa manusia dan memberi perlindungan kepada rakyatnya. Menurunnya perekonomian yang dialami negara kapitalis tidak menjadi pendorong kuat hingga memberlakukan New Normal  dengan risiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas. Kini kapitalisme benar-benar menghilangkan nilai nyawa manusia.

Di dalam Islam, kehidupan manusia dipandang tak ternilai, menyelamatkan satu orang sama besarnya dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” [TQS. Al-Maidah: 32]

Sistem Islam adalah solusi segala bahaya yang menimpa rakyat serta problematika yang  dialami saat ini.  Solusi terbaik yang dapat menyelamatkan rakyat dari sistem bernegara hari ini telah terbukti gagal mengatasi pandemi, gagal menyelamatkan nyawa manusia, dan gagal memberi kesejahteraan untuk rakyatnya.

Yakinlah dengan penerapan syari’at Islam yang telah terbukti mampu mengangkat harkat dan martabat manusia baik muslim, maupun non muslim yang hidup dalam naungan syariah Islam kaffah.

Wallaahu a'lam bi ash shawwab
 
Top