Erin Azzahroh
(Aliansi Penulis Rindu Islam)

Unilever menjadi topik perbincangan yang panas. Melalui akun Instagramnya pada 19 Juni lalu, perusahaan yang berbasis di Belanda ini resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LGBTQ+ (Lesbian Gay Biseksual Transgender Queer). Lagi-lagi HAM menjadi landasan atas tindakan mereka.

Unilever bahkan menandatangani deklarasi Amsterdam, serta menggandeng Stonewall utk mengaudit kebijakan dan mengukur tindakan Unilever. Stonewall, lembaga amal untuk kaum LGBT.

Menyikapi hal ini, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Dr. Anwar Abbas, angkat bicara. Anwar Abbas menegaskan jika mendukung gerakan LGBT merupakan perbuatan dosa. Ia menyebut Tuhan melarang umatnya tolong menolong dalam perbuatan dosa. Karena itu ia heran jika ada perusahaan yang mendukung gerakan LGBT di mana mendapatkan uang salah satunya dari bangsa Indonesia yang merupakan bangsa beragama (republika.co.id, 8/7/2020).

Sebelum deklarasi oleh Unilever, Starbucks telah mendahului di tahun 2017. Dukungan Starbucks terhadap kaum pelangi ini berujung pada boikot oleh kumunitas kristen di Amerika.

Tak hanya itu, ternyata kampanye pro LGBT juga didukung oleh 20 perusahaan kelas multinasional. Diantaranya yaitu Apple inc, Microsoft Corp, Google, Walt Disney, Yahoo, Facebook, Youtube, Instagram, Chevron, Nike, Symantec, Mastercard. Kaum ini juga mendapatkan dukungan dari lembaga internasional PBB, UNDP, USAID, dan lainnya.

Mengapa demikian? Ternyata ada dua penyebab yang melatarbelakanginya.

Pertama, adanya anggapan bahwa kebebasan dalam berorientasi seksual merupakan bagian dari HAM. Selama ini LGBTQ+ merasa sebagai kelompok marginal yang didiskriminasi lantaran dianggap abnormal. Sehingga mereka merasa sah saja memperjuangkan komunitas mereka.

Kedua, tingginya kemampuan membeli komunitas LGBT di Amerika. Yaitu senilai 830 miliar dolar pada 2013. Meningkat menjadi 917 miliar dolar di tahun 2016. Inilah yg menjadi incaran dari perusahaan-perusahaan yg berbasis di Amerika. Bahkan, University of Georgia’s Selig Center for Economic Growth menyebutkan bahwa kemampuan membeli kelompok pelangi merupakan nomor tiga di antara kelompok minoritas Amerika Serikat lainnya.

Dari dua latar belakang ini, tentu kemudian muncul pertanyaan. Seberapa efektifkah tindakan boikot yang diserukan?

Pemboikotan Unilever memang berimbas pada menurunnya saham mereka sebesar 2, 71%. Namun jika diperhatikan, produk-produk Unilever saat ini telah menjadi raja di dalam maupun di luar negeri. Sehingga tentu saja hal tersebut tidak berpengaruh cukup signifikan pada eksistensi Unilever. Dan harus diakui bahwa kecil kemungkinan aksi boikot tersebut dapat melunturkan dukungan mereka kepada kaum pelangi.

Pemboikotan terhadap produk Unilever bisa dikategorikan sebagai upaya menegakkan kebenaran. Akan tetapi, tindakan tersebut tidak akan mampu mencabut akar permasalahan kaum menyimpang ini.

Ditambah dengan suburnya budaya kapitalisme-sekulerisme, yang darinya muncul gaya hidup permisif. Agama tidak akan pernah mendapatkan tempat di  sini. Sehingga perilaku yang tak normal akan senantiasa bermunculan dan didukung atas nama HAM.

Kesimpulannya, boikot terhadap produk Unilever tidak akan menghentikan eksistensi dari kaum pelangi. Sebab perilaku menyimpang ini keniscayaan yang lahir dari kebebasan ala sekulerisme. Apalagi mendukung komunitas LGBTQ+ menambah peluang keuntungan materi yang besar disebabkan tingginya daya beli mereka. Ini adalah sifat dari ideologi kapitalisme. Asal mendatangkan keuntungan, pasti akan diperjuangkan meskipun haram dan merugikan.

Sehingga permasalahan LGBTQ+ sebagai produk buruk dari ideologi global yang kufur, hanya akan bisa diselesaikan dengan aksi global pula. Yaitu aksi global yang bersumber dari ideologi Islam, suatu tatanan yang bersumber dari Sang Pencipta yang Maha Benar.
 
Top