Oleh : Marsitin Rusdi Sst.FT.ftr
Praktisi Klinis

Allah memerintahkan manusia untuk selalu berfikir dan mengingat Allah dalam segala keadaan sebagaimana firman-nya dalam surat ali-Imran [3]:191, yang artinya:"yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.


Sudah bukan rahasia lagi jika janji - janji kampanya tidak akan terealisai karena memang hanya semacam iklan biar laku dagangannya. Janji tidak untuk ditepati janji hanya bunga atau pemanis saja dalam suatu rencana. Pandemi saat ini menggagalkan rencana kapitalis sekaligus merencanakan langkah strategisnya. Tidak akan  habisnya membicarakan masalah negeri ini karena pasti ada sisi yang menggelitik untuk dibicarakan. Apapun jenis permasalahnnya saat ini hampir semua berawal dari pandemi. Jadi pandemi ini adalah alat pemicu semua unsur, mulai dari masalah yang berkelas negara, pulau, propinsi, wali kota, kabupaten, kecamatan, desa, RT, RW hingga masalah dapur kasur sumur para rakyat jelata. Semua terdampak pandemi. Berubah total semua kebiasaan pola hidup rakyat seluruh dunia karenanya. Tidak hanya pandemi ini saja sebenarnya, beribu permasalahan yang timbul baik berupa rencana, kegagalan, musibah adalah alat, yakni alat untuk bergeser pada sesuatu yang normal menjadi abnormal, atau sebaliknya dari abnormal menjadi normal.


Ini semua disebabkan kurangnya pemahaman ilmu, karena segala sesuatu pasti didasarkan pada keilmuan yang mendasar. Apapun bentuk permasalahan yang timbul dalam kehidupan individu, golongan,  negara bahkan dunia sekalipun, bila sudah menguasai ilmu tentang kehidupan maka akan mudah menyelesaikan masalah. Semua tidak serta merta simsalabim, namun dibentuk dari karakter generasi-generasi suatu wilayah dari nenek moyang hingga sekarang. Semua harus konsisten dan terus menerus memperhatikan keilmuan dengan penelitian dan riset-riset yang bisa merubah paradikma pemahaman suatu bangsa. Kecerdasan dan kekuatan suatu bangsa, terletak pada kemampuan pola fikir rakyatnya.


Ilmu yang benar adalah dilalui dengan segala upaya agar terbentuk seluruh komponene yang menjadi kan ilmu sebagai rujukan, bukan sekedar label. Komponen ilmu bukan hanya otak saja, otak hanya mesin saja, perilaku, habit, lingkungan, asal rujukan, pendidikan keluarga sangat membantu berkembangnya pola pikir. Sehingga mempunyai legalitas yang bisa dipertanggung jawabkan karena memang mengerti dan memahami tahapan dalam belajarnya. Bukan legalitas yang bisa dibeli dengan uang, jabatan, atau kekuasaan, yang akan melahirkan generasi karbitan dan tidak menguasai bidang yang dipilihnya. Karena dia belajar bukan agar mengerti, tidak ingin mengaplikasikan ilmunya, namun hanya ingin mengedepankan prestiesnya, ingin punya, jabatan, ingin dihormati sesuai dengan nafsunya. Sehingga terlahir generasi pecundang, yang hanya ingin merusak bersama golongan yang sama dengan pola pikirnya, sering melakukan hal- hal yang hina, korupsi, nepotisme, melanggar hukum, sudah dianggap biasa karena tidak mengerti dan tidak mau belajar tentang kebenaran yang hakiki, hanya kebenaran yang umum menurut mereka tanpa landasan dan rujukan yang benar menurut fitrah yakni hukum syara’. Akan terlihat jelas generasi- generasi hasil pendidikan sekuler itu, mereka melihat masalah hanya dari kacamata nafsunya saja.


Kali ini Jubir Istana bidang sosial Angkie Yudistia mengatakan fajar lonjakan tagihan listrik , karena konsumsi lebih saat masyarakat banyak di rumah. Analisa yang membuat ia terperosok pada kehinaan karena terlalu kurang cerdas dalam menganalisa. PLN punya pemerintah tidak seharusnya mengeluh carry over hanya selama tiga bulan untuk menjaga lonjakan tagihan akibat pemakaian yang lebih saat PSBB. Ini merupakan pernyataan yang tidak berbobot dari seorang juru bicara kepresidenan, yang memperlihatkan ketidak pedulian pada kebutuhan rakyat. Bila generasi negeri ini diisi oleh orang-orang  muda seperti ini, negeri  ini sebentar lagi akan ambruk. Karena  dia akan memberi analisa sama pada setiap permasalah yang timbul. Selalu ngeles atau menghindar dari fakta yang sudah menyengsarakan rakyat. Ngeles bukan solusi menyelesaikan suatu persoalan, malah akan dijadikan tertawaan oleh rakyatnya, karena dia tidak punya solusi untuk menyelesaikan permasalahan.


Bukan hanya kelas milenia saja, kelas kyai juga bicara tidak mendidik umat karena jabatan yang ia sandang.Pada tahun 2015 MUI memfatwakan bahwa BPJS kesehatan itu haram dalam kontek syari’ah secara substansi maupun prosedural tidak sesuai syari’ah, waktu itu yang menjabat ketua MUI adalah kyai yang sama. Hingga sekarang  fatwa itu belum dicabut. Selanjutnya seorang profesor Jaih Mubarok(30 Juli 2015 ) menyatakan bahwa ini adalah ijtimaki komisi fatwa MUI keputusannya bukan haram tapi BPJS yang sekarang berjalan tidak sesuai syari’ah, trus apa bedanya haram dengan tidak sesuai syariah ?
 Sekelas Profesor  tidak malu memlintir pernyataan untuk umat.


Akhirnya sekarang setelah sang kyai dilantik menjadi pejabat negara, menyatakan bahwa BPJS halal karena bagian tolong menolong yang dianjurkan oleh syari’at islam. Sekelas kyai dan profesor kebijakannya mencla- mencle. Nanti bila ada yang protes pasti jawabnya diskinformasi atau tidak sengaja bicara. Begitulah pendidikan dan kehidupan dalam sistem sekuler.


Barbeda pula generasi dimasa lalu , generasi yang senantiasa dipaksa untuk menempa dirinya menjadi sosok yang tangguh, mandiri, bisa berhujah dengan hukum dan landasan yang bisa menyelesaikan persoalan, meskipun dalam kepungan bermacam-macam permasalahan dan resiko. Dua puluh dua hari Murad II mengepung Konstantinopel dari arah barat, namun benteng paling kokoh di zamannya selalu melumpuhkan para penentang, sabagaimana ia telah melumpuhkan pasukan muslim selama delapan abad. Namun mimpinya tidak mati, inspirasinya diberikan kepada anaknya Muhammad II hingga mengalir di  jiwanya dan darahnya lalu menjadi tujuan hidupnya.


Cerita ini bagi penulis adalah pikiran besar dibalik penaklukan kota Konstantinopel yang ternyata diawali dari pokok pemikiran besar dari orang tuanya. Ahmad bin Ismail al - Kurani adalah guru pertamanya, sang pejuang” aku dikirim ayahmu untuk pendidikanmu, bahkan jika diperlukan pukulanpun aku keluarkan kalau kamu gemar membangkang,”. Muhamaad II kecil tertawa mendengar gurunya, hingga sang guru besar benar-benar memukulnya. Pukulan itu yang meruntuhkan tameng kewibawaan mental istana, hingga Muhammad II mulai memahami makna menjadi orang biasa bukan anak raja. Pendidikan masa kecil itulah cetakan awal karakter Muhammad II yaitu mental seorang ilmuan.


Murad II memulai dari ibukota “Usmaniyah, ia desain pendidikan dengan konsep masjid dan institusi pendidikan terbaik, masjid untuk pendidikan dan institusi pendidikan yang berspirit masjid. Karena kendala umum dilingkungan istana dan borjuis adalah keangkuhan, termasuk anaknya sendiri, karena kelimpahan fasilitas, kekuasaan, keluarga, dan posisi di tangannya yang merupakan racun bagi anaknya. Sang ayah menyelesaikan fase ini sebelum belajarnya sang putra Muhammad II dimulai. Tidak hanya untuk Muhammad II tapi untuk pemuda segenerasi putranyanya, karena kebangkitan tak ditopang seorang pahlawan tunggal, tapi sebuah generasi berpengetahuan.


Ada tujuh bahasa pengantar yang diajarkan kepada Muhamad II oleh guru bahasanya, yaitu Arab, Turki, Persia, Yunani, Serbia, Italia, Latin, diselesaikannya tujuh bahasa itu diusia remaja. Maka di usia 14 tahun ditunjuk menjadi gubernur. Diusia 22 tahun menjadi sultan di Edirne dan hanya 2 tahun ia melunasi hadis Nabi yang selama delapan abad belum pernah dituntaskan oleh generasi-generasi terdahulu. Rombongan ulama besar yang tinggal disana dikerahkan seluruhnya untuk misi besarnya ini. Namun mereka tidak dikerahkan untuk mendatangi Muhammad II, namun Muhammadlah yang harus mendatangi pintu guru-guru besar setiap hari bersama anak-anak jelata lainnya. Jadi ilmu para pakar tidak tersaji dilapangan hijau istana , namun Muhamad II harus mencari dan mendatangi walau harus melewati padang pasir yang tandus.


Tempaan yang luar biasa menjadikan Muhammad bisa cepat menghafal Al-Qu’an sebelum usia delapan tahun, dan ilmu-ilmu syariat pun dilahapnya setelah itu. Dipelajarinya tentang kemenangan dan kekalahan serta strategi, maka diusia 14 tahun sang ayah mengujinya dengan memberikan jabatan  gubernur terhadap Muhamad II. Siapapun yang pernah mengunjunginya, akan mengakui kapasitas kepemimpinannya dlm mengelola kota, management adminidtrasi, membangun tentara, mendesain konsep sekolah , membangun simbol-simbol sejarah, bahkan sudah menjadi panglima perang diusia muda belia.


Maka sistem Islam akan senantiasa mencetak generasi berpengetahuan tingkat tinggi di zaman yang akan dilalui peradaban ini, bukan hanya petarung, atau manager, atau sastrawan, atau ahli fikih atau panglima, atau ahli strategi, tapi pengetahuan mencapai tingkat kepakaran nyaris disemua bidang. Sehingga Muhammad al-Fatih beserta generasinya bisa menakhlukkan konstantinopel dan menjadi model perjuangan saat itu yang harus kita tauladani.

Wallahu a'lam bishsawwab
 
Top