Oleh : Sri Gita Wahyuti, A.Md
Aktivis Pergerakan Muslimah dan Member AMK 

Dalam ceramahnya yang disiarkan TVRI, Senin 11 Mei 2020, Wapres Ma'ruf Amin mengatakan bahwa negara berpenduduk mayoritas Muslim sulit berkembang. Menurutnya paham Islam merupakan paham yang konservatif. Untuk membangun kembali peradaban Islam yang kuat maka perlu adanya paham Islam moderat.

"Cara berpikir konservatif menjadi salah satu penyebab mengapa negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim masih tergolong undevelopment country dan mengalami ketertinggalan dalam ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya," demikian ujar Ma'ruf Amin, seperti dikutip dari Antara, Selasa (12/5).

Sejalan dengan apa yang disampaikan Wapres tersebut,  Kemenag telah menghapus konten yang dianggap radikal dalam 155 buku agama Islam, sebagai bagian dari program penguatan moderasi beragama.

“Kami telah melakukan review 155 buku pelajaran. Konten yang bermuatan radikal dan eksklusivis dihilangkan. Moderasi beragama harus dibangun dari sekolah,” ujarnya.

Istilah “moderat”, atau jalan tengah  mulai dikenal luas pada masa abad pencerahan di Eropa. Dimana pada saat itu terdapat konflik antara pihak gerejawan yang menginginkan dominasi agama dalam kehidupan rakyat dengan kaum revolusioner yang menginginkan penghapusan peran agama. Hal ini kemudian menghasilkan sikap kompromi atau sekularisme. Yakni pemisahan agama dari kehidupan publik.

Sementara itu, istilah Islam Moderat muncul dari sebuah dokumen lembaga think tank AS, RAND Corporation yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, yang ditulis Cheryl Benard pada 2003, dan Building Moderate Muslim Network pada 2007.

Dalam dokumen tersebut, umat Islam dikelompokkan menjadi Islam radikal/fundamentalis, Islam moderat/sekuler, Islam modernis, dan Islam tradisionalis. Karakter Islam moderat adalah mendukung demokrasi, pengakuan terhadap HAM, menghormati sumber hukum yang nonsektarian dan menentang terorisme. Sedangkan karakter Islam radikal/fundamentalis  diasosiasikan pada sosok intoleran, radikal, brutal, memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kaffah melalui tegaknya Khilafah Islamiyah, menolak demokrasi dan anti-Barat.

Tiga kelompok Islam, tradisionalis, sekuler/moderat dan modernis ini kemudian dibenturkan dengan kelompok ke-4 yakni fundamentalis. Ini dilakukan dengan tujuan membendung bibit kebangkitan Islam, termasuk membendung persatuan umat Islam. Artinya, kemunculan Islam Moderat vs Islam Radikal dan berbagai isu mengenai hal itu adalah by design.

Barat menyadari akan adanya kebangkitan Islam. Sehingga wajar jika kemudian  berupaya menyerang kelompok yang disebut radikal dan gencar melakukan moderasi Islam. Dilakukan melalui anteknya dari kalangan kaum muslimin sendiri.

Persatuan kaum muslimin adalah modal kebangkitan. Pengotakkannya  menjadi empat kelompok adalah strategi Barat untuk mengunggulkan yang satu dan menghancurkan yang lain, mengadu domba antar sesama muslim, hingga mereka tidak bisa  membedakan mana saudara dan mana musuh yang sebenarnya.

Barat berambisi agar kaum muslimin mau menerima bahkan jika perlu memperjuangkan ideologi, nilai-nilai, dan sistem hidup mereka. Akan tetapi bagi kaum muslimin, hal ini tentu saja bertentangan dengan akidah Islam yang mengharuskan kaum muslimin untuk terikat dengan aturan-aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

Jadi jelaslah bahwa moderasi Islam akan mengancam persatuan kaum muslimin, menghambat kebangkitan Islam, menciptakan islamophobia, mengancam akidah Islam dan menjauhkan kaum muslimin dari keislaman mereka. Oleh karena itu, upaya-upaya yang dilakukan untuk memoderasi Islam harus dicegah.

Wallahu a'lam bish shawwab
 
Top