Oleh: Mulyaningsih, S.Pt
Pemerhati Masalah Anak, Remaja dan Keluarga

Jagad maya kini dihebohkan dengan kasus yang kembali mencuat ke permukaan. Ialah Unilever Global yang saat ini sedang menggandeng kaum pelangi dan memberi dukungan kepada mereka. Sontak saja hal itu mengundang reaksi dari para netizen. Seruan aksi boikot produk pun akhirnya menggema ke seluruh penjuru negeri.

Aksi ini dipicu kekecewaan netizen saat Unilever Global mengunggah logo barunya yang bercorak pelangi. Logo baru ini diduga sebagai bentuk dukungan Unilever kepada kaum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ+) (Wartakota.com, 26/6/2020)

Tak terkecuali dari MUI yaitu Ketua Komisi Ekonomi Azrul Tanjung menyatakan akan mengajak masyarakat Indonesia memboikot produk-produk Unilever jika perusahaan Unilever tersebut tidak berhenti mendukung LGBT. (republika.co.id, 26/06/2020)

Pihak Unilever sendiri memiliki alasan perihal peluncuran logo baru tersebut. Dikutip dari wartakota.com, mereka berdalih tindakan tersebut adalah agar pihak LGBTQ sebagai kolega Unilever merasa bangga. “Kami berkomitmen untuk membuat kolega LGBTQI+ bangga pada kami karena mereka. Itulah sebabnya kami mengambil tindakan kebanggan ini,” tulis akun Instagram @unilever.

Kasus yang kembali mencuat ke permukaan, ini adalah bukan kali pertama kaum pelangi itu mendapat dukungan dari perusahaan ternama. Sebelumnya, Facebook juga melakukan hal yang sama. Yaitu mendukung alias pro terhadap aktivitas kaum pelangi tersebut. Pemboikotan pun sempat dilakukan, namun yang terjadi mereka makin eksis dan tetap saja beraktivitas seperti biasa. Dengan boikot saja nyatanya tak mampu menghentikan bahkan memutus rantai pergerakan kaum pelangi tersebut.

Semua itu patut diduga karena sebuah sistem yang melindungi mereka. Sebut saja liberalisme yang berteman akrab dengan sekular telah mampu mengayomi serta memelihara kaum pelangi tersebut. Sehingga dapat kita ambil satu benang merah, ketika masin bercokol liberalisme dan sekularisme dalam kehidupan manusia, maka mereka akan mendapat perlindungan secara nyata. Kebebasan berekspresi yang lahir dari sekularisme memandang bahwa penyimpangan seksual adalah pilihan dan dilindungi HAM (Hak Asasi Manusia). Jadi sah-sah saja jika ada orang yang memiliki kelainan ini, tanpa memperhatikan efek kerusakan yang ditimbulkan. Contohnya banyak terjadi pedofil, sodomi, penyakit menular, pembunuhan dan lain-lain. Sungguh ngeri dampak yang akan ditimbulkannya.

Jika kita serius ingin menghentikan arus peredaran kaum pelangi ini, maka yang perlu diboikot adalah sistem yang menaungi serta melindunginya. Tak lain adalah liberalisme yang berkawan akrab dengan sekularisme. Ganti sistem fasad tersebut dengan sebuah sistem yang shahih. Berasal dari Sang Pencipta manusia itu sendiri yaitu Islam. Seyogyanya Islam bukanlah sebatas agama ritual belaka, namun melingkupi sistem aturan hidup manusia. Sehingga persoalan kaum pelangi ini, Islam punya pemecahannya.

Dalam sistem pendidikannya, Islam mempunyai segala prasarana dan sarana dalam pendidikan yang akan memberikan edukasi kepada seluruh pelajar. Dalam Islam, ide dan perilaku LGBT jelas menyimpang dan haram. Perilaku tersebut akan mendapatkan dosa dan murka Allah Swt. Dari sinilah bekal pemahaman akan didapatkan. Tak lupa kontrol sosial di masyarakat akan berjalan dengan baik, sehingga tak ada warga yang akhirnya melakukan perilaku menyimpang (LGBT) tadi. Di satu sisi, negara akan memberkkan sanksi tegas kepada para pelaku. Ini dilakukan agar tak ada lagi yang akan meniru dan membuat efek jera pelaku. Itulah indahnya Islam, mencegah dan menebus kesalahan di dunia.

Rasulullah saw bersabda :
"Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual) (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).

فَلَمَّا جَآءَ اَمْرُنَا جَعَلْنَا عَا لِيَهَا سَا فِلَهَا وَاَ مْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَا رَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ ۙ مَّنْضُوْدٍ ۙ 

"Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkir-balikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar," (QS. Hud 11: Ayat 82)

Pada saat Abu Bakar ra. menjabat sebagai Khalifah. Panglima perang (Khalid bin Walid) mengirim surat kepada Abu Bakar, dalam surat tersebut memberitahukan bahwa sebagian wilayah ada pelaku zina suka dengan sejenis. Lalu Abu Bakar ra. bermusyawarah dengan para sahabat. Ali ra. berkata "sesungguhnya perilaku ini adalah perbuatan dosa yang tidak pernah dilakukan kecuali oleh satu umat (kaum), yaitu Nabi Luth as. dan sesungguhnya Allah Swt. Telah memberikan sanksi hukumannya. Aku berpendapat agar pelakunya dibakar hidup-hidup dengan api". Lalu Abu Bakar menulis surat kepada Khalid Ra. "Bakarlah dia dengan api". Lalu Khalid membakarnya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلزَّا نِيَةُ وَا لزَّا نِيْ فَا جْلِدُوْا كُلَّ وَا حِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَّلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ ۚ وَلْيَشْهَدْ عَذَا بَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ


"Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman." (QS. An-Nur 24: Ayat 2)

Bagi pelaku yang sudah menikah maka pelakunya dirajam sampai mati atau dikubur hingga leher dan kepalanya dilempari batu hingga mati. Sungguh, begitu luar biasanya penjagaan Islam terhadap manusia. Ketegasan yang tampak akan membuat jera dari para pelaku penyimpangan seks. Bisa kita bayangkan, jika tak ada ketegasan yang mutlak, maka apa jadinya akan generasi berikutnya? Ditambah lagi tentunya akan mengundang murka Allah.

Ketika Islam diterapkan dalam kehidupan manusia, maka keimanan menjadi pondasi untuk manusia melakukan sesuatu. Semuanya berstandar pada Islam 'hukum Syara'. Jika tidak sesuai maka tak akan dijalankan. Sehingga dapat dipastikan bahwa seluruh insan manusia tentunya akan berkata dan berbuat sesuai dengan Islam atau ketetapan dari Allah Swt. bukan yang lain. Wallahu a'lam.
 
Top