Oleh: Amey Bunda Hafidz (Aktivis Dakwah)

"Nak, besuk kalau sudah besar mau jadi apa?" Mungkin seperti itu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang tua kepada anaknya yang masih dalam pengasuhannya. Oleh karenanya banyak diantara mereka yang akan rela banting tulang demi menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang bisa menghantarkan mereka untuk meraih cita-cita. Terlebih, tatkala kaum muslim saat ini benar-benar berharap bahwa sekolah mampu menciptakan generasi yang bisa mewujudkan peradaban cemerlang. Lantas apakah semua sekolah yang ada sudah bervisi untuk bisa mewujudkannya?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, memiliki mimpi dalam lima tahun ke depan Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK akan diminati orangtua siswa dan siswa itu sendiri. Saking tingginya minat itu, dia ingin melihat kepala sekolah SMK menolak peserta didik karena membeludaknya para pendaftar. Mendikbud Nadiem sedang menggalakkan upaya kerja sama dunia industri dengan dunia pendidikan di Tanah Air yang dia ibaratkan dengan perkawinan massal. Perkawinan massal dimaksud ialah sebuah simbiosis mutualisme antara sektor pendidikan dan dunia industri. (https://theworldnews.net, 27 Juni 2020).

Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memulai gerakan ‘Pernikahan Massal’ (Link and Match). Program tersebut akan menikahkan pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI). Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto, Ph.D, pun menjelaskan tujuan utama Program Penguatan Program Studi (Prodi) Pendidikan Vokasi Tahun 2020 tersebut. “Program ini diluncurkan agar kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja,” tutur Wikan kepada Kagama, Selasa (26/5/2020).

Wikan menambahkan, sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ditargetkan melakukan pernikahan massal pada tahun 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri. Kemudian, lanjut dia, program ini akan diteruskan dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya dengan melibatkan lebih banyak prodi vokasi. “Jadi, di masa pandemi ini, kita akan melakukan (semacam) perjodohan massal, bukan satu dengan satu, tetapi satu kampus vokasi dengan banyak industri,” ujar Wikan. Wikan pun mengaku optimistis program ‘Pernikahan Massal’ ini akan menguntungkan banyak pihak. Menurutnya, pihak industri dan dunia kerja jelas akan diuntungkan dengan skema pernikahan ini. (http://kagama.com, 26 Mei 2020).

Jika dicermati lebih dalam, dari kebijakan yang diambil oleh Mendikbud nampak jelas bahwa negara yang berparadigma sistem sekuler kapitalis neoliberal memang tak mungkin serius menjadikan pendidikan sebagai jalan kemuliaan mewujudkan peradaban cemerlang. Karena dalam sistem rusak ini, pendidikan justru harus menjadi salah satu instrumen pengokoh hegemoni kapitalis global, yang bersembunyi di balik kata investasi korporasi dan revolusi industri.

Dan faktanya, kebijakan pendidikan hari ini nampak selalu kental dengan hitung-hitungan ekonomi. Seperti demi peningkatan kemampuan produksi. Demi mendorong investasi dan industrialisasi. Dan semacamnya. Padahal, berbicara proses produksi, investasi dan industrialisasi pada hari ini, sejatinya berbicara tentang hegemoni kaum kapitalis yang tampil dalam bentuk korporasi.

Inilah yang sekarang kita lihat. Negara begitu fokus mendorong tumbuhnya institusi-institusi pendidikan vokasi. Gencar menggagas pendidikan berbasis 'link and match' dengan industri. Begitu pula, negara nampak begitu bersemangat memfasilitasi berbagai kerjasama penelitian antara institusi pendidikan dan korporasi.

Bahkan upaya-upaya negara mendorong perguruan tinggi untuk mengejar target world class university, serta wacana Revolusi Industri 4.0 di tengah wacana kampus merdeka, nyatanya sejalan dengan proses kapitalisasi dan liberalisasi ekonomi. Dimana rezim penguasa berparadigma sekuler kapitalis liberal, lazim berkolaborasi dengan kekuatan korporasi.

Walhasil arah pendidikan dalam sistem berparadigma rusak yang diterapkan hari ini, memang tak lebih dari mesin pensuplai kebutuhan pasar tenaga kerja bagi industri raksasa milik negara-negara adidaya. Bukan sebagai pilar membangun peradaban cemerlang. Dan dampaknya akan terus membuat negeri ini terposisi sebagai objek penjajahan. Tak berdaulat dan jauh dari kemandirian.

Sehingga satu-satunya jalan untuk mengubahnya adalah dengan mencampakkan sistem pendidikan sekuler berikut sistem politik yang menerapkannya. Dan di saat yang sama, menerapkan sistem pendidikan Islam berikut sistem politik yang menaunginya. Sistem pendidikan Islam ini tegak di atas asas akidah Islam yang sahih lagi kokoh. Yakni berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala. Dan bahwa apa yang ada sebelum kehidupan dunia, serta apa yang ada setelahnya, berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia di dunia. Yakni dalam bentuk hubungan penciptaan dan pertanggungjawaban (hisab).

Akidah inilah yang menjadikan kehidupan ini tak hanya bersifat profan. Tapi punya dua dimensi yang satu sama lain saling menguatkan. Yakni dimensi keduniawian dan keakhiratan. Maka dalam konteks sistem pendidikan, akidah ini mengarahkan visi pendidikan Islam sebagai washilah untuk melahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan. Yakni sebagai hamba Allah yang berkepribadian Islam dan sebagai khalifah yang punya skill dan kecerdasan untuk pembangun peradaban cemerlang.

Visi inilah yang kemudian diturunkan dalam kurikulum pendidikan Islam di setiap tingkatannya, berikut metoda pembelajarannya. Yang dalam penerapannya didukung penuh oleh negara dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang. Termasuk para pendidik yang punya kapasitas dan kapabilitas mumpuni.

Bahkan dukungan negara sedemikian maksimal. Hingga para guru, para ilmuwan dan peneliti diapresiasi dengan gaji dan insentif yang tinggi. Begitupun dengan para siswanya. Merekapun diberi fasilitas serba gratis, yang membuat mereka benar-benar fokus dalam tugasnya masing-masing. Baik sebagai pendidik dan arsitek generasi, maupun sebagai pembelajar yang siap berkhidmat untuk umat saatnya nanti.

Kondisi ideal ini sangat niscaya. Karena sistem pendidikan Islam didukung oleh sistem-sistem lain yang menjamin tercapainya visi pendidikan.
 
Top