Oleh : Sri Rahayu
(Narasumber Kajian Online MQ Lovers Bekasi)

Pak cipak pak preman preman.. owhoo.
Pak cipak pak metropolitan
Di zaman resesi dunia pekerjaan sangat sukar juga pendidikan.
Di sudut-sudut jalanan banyak pengangguran jadi preman 'tuk cari makan... 
(Preman, Ikang Fauzi)

Sepenggal bait lagu lawas ini ternyata masih relevan dengan realitas saat ini. Sekarang jamak dilihat, pekerjaan susah di dapat. Pendidikan sulit dinikmati. Pengangguran jadi masalah tanpa solusi. Kriminalitas terus meninggi. Kondisi tersebut merupakan dampak dari kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik. Terlebih dengan adanya wabah Covid-19, ekonomi dunia semakin parah. Bibit krisis ekonomi yang sudah muncul sebelum wabah merebak, berbuah resesi di berbagai negara setelah berbulan-bulan bertarung melawan pandemi. 

Semenjak kuartal pertama 2020, banyak negara yang harus terjun bebas ke jurang resesi. Italia dan Perancis, dengan PDB turun sebesar 4,7% dan 5,8%, telah mengumumkan negaranya mengalami resesi. Disusul Jerman di bulan April 2020. Begitupun Hongkong dan Jepang, tidak luput terseret badai resesi. Yang teranyar adalah Singapura dan Korea Selatan. Secara resmi masuk resesi di kwartal kedua tahun 2020. Dua negara ini tentunya bukan yang terakhir. Karena diperkirakan ke depan masih banyak negara yang mengikuti langkah negara-negara tersebut. Tidak terkecuali Amerika Serikat, sang adidaya ini pun terancam memasuki era resesi. (cnbcindonesia.com, 19/07/20)

Resesi adalah kondisi dimana Produk Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Indikatornya secara umum dapat dilihat dari pendapatan masyarakat kian turun, PHK meningkat, daya beli menurun, kelas menengah mengerem belanja dan bantuan sosial terus mengalir. 

Ancaman resesi untuk Indonesia sendiri juga telah di depan mata. Terlihat dari kian banyaknya indikator resesi yang nampak di negeri ini. Di kuartal I 2020, perekonomian Indonesia hanya tumbuh 2,97% per tahun. Pembatasan Sosial Berskala Besar memperlambat laju perekonomian hingga di kuartal II tahun ini. Turut menguatkan sinyal potensi resesi, International Monetary Fund/IMF dalam rilis terbarunya yang berjudul A Crisis Like No Other, An Uncertain Recovery juga memprediksi PDB Indonesia akan minus 0,3% di tahun ini.  Pengaguran akibat pekerja yang dirumahkan dan PHK mencapai 1.727.913 orang per 12 Mei.  Sektor manufaktur Indonesia juga menurun. Begitu juga penjualan ritel atau eceran pun merosot tajam ke angka -16,9% per tahun. (cnbcindonesia.com, 18/07/20)

Menyikapi ancaman resesi, banyak pakar memberikan saran antisipatif. Bhima Yudhistira, ekonom INDEF ini mendorong masyarakat hemat dan menabung. Hal senada juga disampaikan  Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. (finance.detik.com, 19/07/20). Tidak sedikit pula dorongan mencari alternatif pekerjaan. Untuk berjaga bila resesi akan berlangsung lama.

Hemat, menabung ataupun mencari alternatif pekerjaan menjadi keharusan bagi masyarakat ketika resesi di ambang terjadi. Namun apakah semata langkah antisipatif yang dibutuhkan masyarakat saat ini? Tidakkah masyarakat butuh langkah solutif yang tidak hanya membuatnya mampu bertahan terhadap hantaman resesi. Namun juga dapat keluar dari badai resesi yang terus berulang.

Dalam sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan di dunia saat ini, resesi merupakan hal yang biasa terjadi dan terus berulang. Sekalipun tingkat keparahannya berbeda-beda namun tetap saja dampak buruknya sangat dirasakan masyarakat. Dilansir dari Investopedia, negara sebesar Amerika Serikat saja, telah mengalami 33 resesi sejak tahun 1854. Sejak 1980 hingga sekarang, mengalami 4 kali resesi. Indonesia sendiri selepas krisis moneter di tahun 1998, pernah mengalami resesi singkat di tahun 2008. Karena Corona yang belum usai, dikhawatirkan terjadi di kwartal ketiga tahun ini. Berulangnya krisis dan resesi ini disebabkan penerapan sistem kapitalisme yang memang batil dari lahir. Dengan sistem ekonominya yang bertumpu pada ekonomi non riil. Dimana perputaran uang terjadi di pasar saham atau di pasar uang. Dalam pasar saham kepemilikan perusahaan yang diperjualbelikan dalam rangka mendapatkan keuntungan. Begitupun pasar uang, uang diperdagangkan dalam rangka meraup keuntungan. Bukan sebagai alat tukar dan pengukur semata. Inilah kebatilan dari sistem ekonomi kapitalisme. Terlebih lagi, ekonomi non riil ini, sangat rentan dengan isu. Sehingga wajar bila isu pandemi yang sangat berpengaruh pada perekonomian dunia ini mampu mempercepat terjadinya resesi. 

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam. Dengan prinsip dasar keadilan, ekonomi Islam menghindari maysir (spekulasi), gharar (ketidakpastian) dan riba (bunga). Ketiga hal ini sangat dilarang dalam Islam. Perekonomian yang didasari dengan prinsip-prinsip tersebut, pastinya akan lebih aman dan mampu bergerak beriringan dengan sektor riil dan sektor keuangan. Sistem ekonomi Islam sudah terbukti tangguh dan tidak rentan resesi. Sudah saatnya segera menerapkan sistem ekonomi Islam sebagai solusi tuntas resesi ekonomi. 

Wallahu a’lam
 
Top