Oleh : Sri Astuti Am.Keb
Kontributor media Lenteranyahati

"Bagai telur di atas tanduk", tampaknya pribahasa tersebut sangat tepat menggambarkan kondisi ekonomi global, terutama bagi Indonesia.

Karut marut dampak Covid-19 tidak terlepas dari persoalan ekonomi. Secara langsung hal tersebut semakin menambah berat beban rakyat di saat pandemi.

Kabupaten Tangerang sebagai salah satu kota yang banyak berdiri perusahaan industri. Bupati Kabupaten Tangerang, A. Zaki Iskandar menegaskan. Sekitar 13 perusahaan mengalami kebangkrutan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)  tidak bisa dihindari, tercatat 14.000 pekerja terpaksa di PHK (merdeka.com, 6/7/2020)

Apa itu Resesi Ekonomi dan Indikatornya?

Kondisi ekonomi yang semakin merosot ini dikenal sebagai resesi ekonomi. Dimana ketika kondisi pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal secara berturut-turut (atau lebih dari setahun).
Adapun indikator resesi ekonomi antara lain.

Pertama, adanya ketidakseimbangan antara produksi dengan konsumsi. Dunia ekonomi tidak terlepas dari produksi dan konsumsi, maka ketika nilai konsumsi lebih rendah dibandingkan dengan nilai produksi maka yang akan terjadi adalah penumpukan produk.

Kedua, pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan bahkan merosot dalam dua kuartal berturut-turut. Tolak ukur ekonomi global adalah pertumbuhan ekonomi. Jika suatu negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka kondisi ekonomi suatu negara dalam kondisi baik.

Ketiga, nilai impor lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspor. Saat produksi mengalami penurunan namun permintaan justru meningkat maka negara akan melakukan impor guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Keempat, tingginya inflasi dan deflasi. Daya beli masyarakat yang rendah dari produksi mengakibatkan terjadinya inflasi. Begitupun deflasi turut mempengaruhi resesi ekonomi, karena rendahnya daya beli masyarakat berdampak pada keuntungan perusahaan.

Kelima, jumlah pengangguran semakin banyak.  Tenaga kerja lokal merupakan faktor utama dari penggerak ekonomi, lapangan pekerjaan yang bisa memperkerjakan pekerja lokal semakin berkurang. Maka angka pengangguran semakin bertambah. Demi memenuhi kebutuhan hidup, angka kriminalitas semakin tinggi.

Penyebab Resesi Ekonomi

Akar masalah terjadinya resesi ekonomi global adalah penerapan sistem kapitalisme-liberal. Solusi yang diharapkan adalah berupa tambahan hutang pada IMF.

Dilansir dari katadata.co.id, 17/03/2020. IMF telah menyediakan dana pinjaman bagi negara yang terdampak Covid-19 sebesar 15.000 triliyun.

Skenario tersebut telah dibaca dengan baik oleh IMF. Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak Covid-19 dan berada pada lingkaran ekonomi kapitalis.

Lingkaran gelap sistem ekonomi kapitalisme bersandar pada pilar yang sangat rapuh. Seperti, pertama, penggunaan uang kertas yang mengacu pada dollar. Kedua,  sistem ekonomi ribawi dan invetasi pasar modal.
Ketiga sandaran tersebut seakan-akan mengokohkan perekonomian namun sebenarnya kosong. Oleh karena itu, simpanan dana yang dimiliki oleh negara pun tidak ada. Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, semakin berat beban negara dalam mengatasi resisi ekonomi. Hal ini membuktikan sistem ekonomi kapitalis adalah sistem yang rusak dan rapuh.

Maka sudah seharusnya paradigma kehidupan bernegara dalam tatakelola sistem kapitalis sekuler segera disudahi. Sebab jika masih mengambil sistem ini untuk mengatur kehidupan bernegara, maka resesi dan kelesuan ekonomi tak dapat dihindari.

Islam Atasi Resesi Ekonomi

Berkaca pada sistem ekonomi Islam, tidak menjadikan ketiga pilar yang rapuh di atas menjadi sandaran. Pertama, mata uang dalam Islam tidak menjadikan dollar sebagai acuan. Yang menjadi alat tukar adalah emas dan perak sebagai simpanan nilai tukar.

Kedua, dalam sistem ekonomi Islam tidak ada unsur ribawi.

Ketiga, investasi pasar modal tidak ada dalam sistem ekonomi Islam.
Sistem ekonomi Islam menjadikan sektor ekonomi yang riil, sehingga pengelola pendapatan negara menjadi jelas. Perekonomian negara berdiri di atas kaki sendiri, tidak akan bisa diintervensi oleh negara lain.

Sumber daya alam dan sumber daya manusia, dikelola dengan baik sesuai bagaimana tuntunan syariat Islam. Resesi ekonomi global tidak akan bisa mempengaruhi.

Sistem ekonomi Islam harus terintegrasi dalam tatanan kehidupan bernegara. Bersumber pada aturan negara yang menjadikan hukum syariat sebagai acuan kebijakan.

Sistem negara Islam adalah satu-satunya institusi yang mampu mewujudkan integritas negara yang ideal untuk dapat diterapkan hukum-hukum syariat Islam.
Sebagaimana firman Allah Swt.,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. al-Maidah ayat 50)
 
Top