Oleh : Luluk Kiftiyah 
Akademi Menulis Kreatif 


Sampai saat ini virus Covid-19 masih mengkhawatirkan di negeri ini. Trend kasus positif  dan kematian Covid-19 semakin menunjukkan peningkatannya.

Indonesia, per 5 Juni 2020 mencapai 29.521 kasus. Total sementara data pasien yang sembuh 9.443 orang. Sedangkan total jumlah pasien yang meninggal menjadi 1.770 orang. (compas.com, 5/6/2020)

Anehnya, pemerintah tetap saja akan menerapkan new normal. Apalagi pada tanggal 13 Juni nanti, sekolah akan dibuka. Padahal, kurva yang positif Covid-19 tak kunjung landai bahkan masih menunjukkan peningkatan.

Saat ini, Indonesia tercatat menjadi negara nomor dua terbanyak se Asia,  dengan jumlah kasus positif Covid-19 pada anak-anak sebanyak 831 jiwa. (viva.co.id, 28/5/2020)

Usia anak yang tertular dari usia 0 sampai 18 tahun. Jadi, statement virus Covid-19 yang hanya menjangkiti usia tua atau rentan tidaklah benar. Virus ini bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang usia tua atau muda.

Berdasarkan Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan, ada 129 anak meninggal dunia dengan status pasien dalam pengawasan (PDP). Dari jumlah 3.400 anak yang dalam perawatan dengan berbagai penyakit, ada 584 anak terkonfirmasi positif dan 14 anak meninggal dengan status positif Covid-19. (okezone.com, 27/5/2020)

Oleh karena itu, keputusan pemerintah dalam menerapkan new normal dinilai terlalu gegabah, karena sangat beresiko untuk para guru dan siswa. Keadaan ini menimbulkan beberapa kontroversi dari sejumlah kalangan.

Menurut Dr Hermawan Saputra, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Sebab temuan kasus baru masih terus meningkat. Jika new normal ini dijalankan, dikhawatirkan akan menjadi klaster baru. Sedangkan dilihat dari kesiapan pemerintah, terlihat belum ada kesiapan yang matang dalam menjalankan new normal.

Lebihnya lagi, pemerintah belum memenuhi setidaknya empat kriteria dasar dalam melakukan new normal, diantaranya;

- Pertama, harus sudah terjadi perlambatan kasus.
- Kedua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB.
- Ketiga, masyarakatnya sudah lebih mawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing.
Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal, tambahnya.

Pertanyaannya, apakah empat kriteria tersebut sudah dilakukan? Rasanya belum, karena faktanya, kurva belum menunjukkan landai.  Kasusnya cenderung naik, bahkan belum melewati puncak pandemi.

Apalagi, masih banyak yang melanggar PSBB.  Bahkan, pemerintah sendiri tidak konsisten dalam menjalankan aturan yang dibuatnya. Salah satunya seperti mengadakan konser tanpa menerapkan protokol Covid-19.

Tidak hanya itu, dampak dari perbincangan new normal belakangan ini, seakan memberikan pandangan lain bagi masyarakat. Statement new normal ini  membuat sebagian masyarakat yang tidak paham fakta menjadi lebih ceroboh. Mereka tidak lagi berhati-hati dalam beraktifitas. Sehingga, keadaan ini berpotensi menyebarnya virus Covid-19 secara masif.

Padahal, new normal adalah perilaku baru, budaya baru, dan juga ada fasilitas maupun kebijakan yang baru, baik dari sisi masyarakat maupun pemerintah berdasarkan kedisiplinan. Sedangkan, yang terjadi tidaklah demikian. New normal yang terkesan dipaksakan, akan memakan banyak nyawa yang hilang. Bahkan nyawa anak-anak pun jadi korban.

Inilah bentuk kegagalan pemimpin negeri yang menjalankan pemerintahan sistem kapitalis. Minim dalam menjamin keselamatan jiwa rakyatnya. Gambaran pemimpin ruwaibidhah, yaitu saat orang-orang bodoh mengurusi urusan umat.

Imam as-Syathibi menjelaskan makna ruwaibidhah adalah, "orang bodoh yang lemah, yang membicarakan urusan umum. Dia bukan ahlinya untuk berbicara tentang urusan khalayak ramai, tetapi tetap saja dia menyatakannya". (As-Syathibi, al-I'tisham, II/681)

Maka wajar saja, jika kebijakan yang dikeluarkan oleh rezim saat ini sering inkonsisten. Kebijakan yang diambil cenderung memaksakan, bahkan tidak memberikan solusi yang tepat atas persoalan rakyat.

Berbeda dengan Islam, sosok pemimpin yang dipilih adalah pemimpin yang memiliki kapabilitas ri'ayah (mengurusi) umat. Sehingga dia akan fokus memberikan solusi serta pelayanan yang tepat atas kebutuhan rakyatnya.

Apabila terjadi wabah seperti saat ini, seorang pemimpin yang bertakwa pada Allah Swt akan hadir di garda terdepan untuk menyelamatkan jiwa rakyatnya dari wabah. Kebijakan yang di ambil, adalah kebijakan yang menyegerakan penanganan wabah. Seperti, segera mungkin menghentikan penularan wabah sebagaimana sesuai tuntutan syariat,  yakni memberlakukan lockdown di awal munculnya wabah.

Menjamin pelayanan kesehatan dengan kualitas terbaik untuk mengobati pasien korban wabah. Mendukung berbagai riset penemuan vaksin dan obat-obatan untuk menghentikan wabah. Menanggung secara penuh keperluan masyarakat yang terdampak wabah.

Namun semua ini hanya akan terwujud, jika negara menerapkan Islam secara totalitas di bawah kepemimpinan Khilafah Islam.

Wallaahu a'lam bishshawab
 
Top