Oleh : Rodlifatul Jannah
(Aktivis Muslimah)

Nampaknya, pemerintah sedang bingung untuk mengendalikan situasi dan kondisi rakyat. Mereka dibuat bimbang untuk menetapkan kebijakan terbaik. Sudah cukup banyak yang dilakukan, tapi seakan sia-sia. Tidak sedikit kebijakan yang manis dikata, pahit dirasa.

Kita semua tahu, kini pemerintah mencoba menerapkan alternatif baru, yakni era “New Normal Live”. Hidup berdampingan dengan Corona yang mematikan. Meski begitu, pemerintah tetap menghimbau masyarakat agar tetap mematuhi protokol yang berlaku.

Selain Indonesia, negara  Malaysia, Korea Selatan, Selandia Baru, juga telah menerapkan retriksi social. Akan tetapi, mereka memberlakukannya setelah kasus Covid-19 mengalami penurunan.

Peneliti Lembaga Biologi Molekular (LBM), Edjikman Pradibtajati Kusuma mengatakan bahwa di beberapa negara lain, pelonggaran retriksi sosial diberlakukan  karena jumlah kasus di negara mereka sudah berada di single digit setiap harinya sebelum new normal dijalankan. (CNBC.Indonesia, 27/5/20)

Sayangnya di negara ini, “New Normal Live” akan dijalankan saat kurva penyebaran Covid-19 masih sangatlah tinggi. Dengan fakta ini, pemerintah malah semakin mematangkan kebijakan formula untuk “New Normal” serta tahapan yang harus dipenuhi daerah dalam hidup berdampingan dengan ‘penyakit Covid-19’. Hal ini menyusul pernyataan WHO bahwa Covid-19 belum tentu bisa hilang dari muka bumi. (Kanal.Kalimantan.com 28/5/20)

Mengutip dari Kompas.Com, hingga 8 Juli, ada 32.033 kasus Covid-19 yang terkonfirmasi, di antaranya 1.883 meninggal, 19.246 dirawat dan 10.904 sembuh.

Pemimpin negeri ini sangatlah nekat, meskipun dengan prediksi kematian yang sangatlah besar. Menurut akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru, Dr. M. Ahsar Karim, berdasarkan perhitungan matematika atas skenario prediksi kematian. Dimana puncak kematian terjadi di pekan pertama Bulan Oktober 2020, jika 80% masyarakat beraktivitas normal. Atau diprediksi, sebanyak 16.491 jiwa akan meninggal akibat Covid-19. (Kanal.Kalimantan.com)

Keputusan “New Normal Live” sarat akan bau kepentingan ekonomi. Sebelumnya bersebab pemberlakuan PSBB, ekonomi Indonesia diambang kelumpuhan. Banyak para pebisnis yang terancam gulung tikar. Dan hal ini mungkin yang membuat para pebisnis dan korporat mendesak penguasa bertindak cepat. Agar mengikuti jalan negara-negara yang memilih retriksi social.

Situasi ini, menjadi semakin terpuruk dengan kenyataan pahit, bila para penguasa negeri ini adalah penganut ideologi kapitalisme. Para kapital hanya mendedikasikan dirinya hanya untuk uang, uang dan uang. Sehingga mau mengorbankan jiwa manusia ketimbang lembaran-lembaran kertas tak berguna.  

Padahal uang adalah kenikmatan dunia yang melenakan. Sebagai ujian bagi manusia, apakah ia akan memilih kekayaan ataukah terikat dengan hukum syari’at Islam. Karena pada faktanya, para kapitalis tak pernah mau terikat halal-haram dalam mencari harta duniawi. Sembarang cara dilakukan, tak peduli kanan-kiri, atas-bawah, tak peduli jika nyawa pun harus melayang.

Lantaran demikian, pemimpin negeri ini pun, juga tak peduli pada ancaman dari Alah Swt. atas kelakuan mereka mempermainkan nyawa manusia. Padahal nyawa seorang manusia itu sangat mulia di sisi-Nya. Allah menegaskan dalam firman-Nya di dalam kitabul karim bahwa membunuh seseorang tanpa haq disamakan dengan membunuh  manusia seluruhnya. (Lihat TQS. al-Maidah [5]:52)

Rasulullah saw. juga pernah bersabda:
“Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. an-Nasai at-Tirmidzi dan al-Baihaqi) 

Dalam hadits lain dikatakan:
“Tidak boleh (haram) membahayakan diri sendiri maupun orang lain” (HR. Ibn Majah dan Ahmad)

Hadits ini secara tidak langsung mengisyaratkan 2 hal jika dihubungkan dengan kondisi saat ini, yaitu:
Pertama, larangan bagi penguasa untuk membahayakan nyawa rakyatnya, demi tuntutan segelintir saja. Atau mengorbankan jiwa mereka, untuk mengembalikan ekonomi negara.

Kedua, kita sebagai warga negara Indonesia, serta seorang hamba Allah tidak boleh keluar dari rumah, kecuali adanya kebutuhan yang mendesak. Karena diluar, masih berseliweran Virus Corona yang membahayakan.

Pasti dibenak kalian muncul pertanyaan, jika kita selalu berdiam diri di rumah, lalu bagaimana cara untuk bisa memenuhi kebutuhan? Begitu pula, jika social distancing terus dilakukan, bukankah ekonomi masyarakat akan lumpuh, dan berimbas pada krisis ekonomi yang berkepanjangan?

Uniknya, pertanyaan-pertanyaan ini, dan mungkin yang serupa, telah dijawab oleh Islam lebih dari 12 abad yang lalu. Benar, sebelum adanya teknologi yang mutakhir untuk meneliti virus dan vaksinnya, Islam sudah mengetahui cara pengendalian dan pemusnahan virus yang mewabah. 

Solusi Islam sangatlah praktis dan terpercaya. Tak hanya menanggulangi dan menghentikan penyebaran serta mengurangi jumlah korban. Akan tetapi mekanisme dalam sistem Islam juga meniscayakan bila ekonomi akan tetap berjalan, meskipun semua warga ‘stay at home’.

Pertama, Islam mensyariatkan agar melakukan karantina atau ‘lock down’ saat menghadapi wabah. Pihak yang melakukan isolasi di rumah bukanlah seluruh rakyat daulah. Akan tetapi, mulai dari awal mula terjadi, daerah yang terkena sajalah yang dikarantina. Sehingga tak akan terjadi penyebaran keluar daerah.

Rasulullah bersabda:
“Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu.” (HR al-Bukhari)

Jika keadaannya sudah separah saat ini, tetap harus dilakukan lock down total untuk menghentikan penyebaran virus lebih luas.

Perlu dicatat, karantina harusnya dilakukan lebih awal, yaitu saat masih dalam cakupan daerah kecil. Hal ini agar daerah lain yang belum terjamah virus dapat tetap memutar roda perekonomian mereka. Serta tidak akan terjadi kasus ketika pemerintah lebih memilih uang ketimbang nyawa.

Kedua, penguasa menanggung kebutuhan sehari-hari warga yang terdampak wabah. Pemimpin haruslah memiliki mekanisme untuk mengantarkan kebutuhan gratis kesetiap rumah yang terisolasi. Lalu bagaimana jika negara  tak memiliki biaya yang cukup untuk melakukannya? Ini akan terjadi saat Islam tidak menjadi dasar negara itu. 

Daulah Islam pasti memiliki simpanan yang sangat cukup untuk mengatasi kondisi darurat seperti saat ini, yang berasal dari pos kharaj, fa’i, cukai perbatasan, dan lain-lain, ditambah dengan kekayaan alam yang melimpah, yang dikelola sendiri oleh Daulah Islam. Berbeda negara kapitalis, yang memercayai para korporat dan asing untuk mengelola kekayaan alam negerinya. Sebab, kekayaan alam menurut kacamata Islam adalah kepemilikan umum yang tidak boleh dikelola secara pribadi ataupun kelompok. Kekayaan alam ini dipergunakan untuk kemaslahatan seluruh rakyat.

“Kaum muslimin berserikat dalam 3 hal, air, api dan padang gembala”. (HR. Abu Dawud)

Salah satu bukti kegemilangan pengelolaan anggaran negara yang kemilau, bisa dilihat di zaman Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz. Pada waktu itu diceritakan hingga utusan yang diberi tugas oleh khalifah untuk mendistribusikan zakat kepada yang semestinya, tak menemukan lagi orang yang berhak mendapatkannya di seluruh negeri. Sampai-sampai amirul mukminin memerintahkannya untuk menyebarnya di puncak bukit agar dimakan oleh burung-burung.

Ketiga, pemisahan antara yang sakit dan yang sembuh. Meskipun karantina dilaksanakan lebih dini, hanya di daerah yang ada wabah, tetap harus dilakukan pemisahan antara yang sakit dan yang sembuh. Apalagi kalau wabah sudah menjadi pandemik.
“Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat.” (HR al-Bukhari)

Dalam hadits lain disebutkan:
“Hindarilah orang yang terkena lepra, seperti halnya kalian menghindari seekor singa.” (HR. al-Bukhari)  

Alhasil, dengan mekanisme yang aktual dan terpercaya di atas, pandemik akan bisa terselesaikan tanpa berbelit-belit seperti sekarang. Semua terbukti pada masa khalifah Umar bin Khattab. Di mana waktu itu, terjadi wabah tha’un mematikan di daerah Syam. Dan dengan cara di atas, wabah itu dapat terhenti total. Serta banyak nyawa terselamatkan. Lalu sekarang, tunggu apa lagi, tak rindukah kalian dengan syariat Islam?

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top