Oleh:  Diana Wijayanti, SP

Hastag Gak Sengaja, tiba-tiba viral, oleh Bintang Emon yang terkenal lewat stand up komedi. Pasalnya Bintang Emon sangat menyayangkan putusan pengadilan satu tahun penjara atas dua pelaku yang terbukti melakukan penyiraman air keras ke muka Novel Baswedan hingga merusak matanya.


Protes Emon akhirnya mendapat simpati publik, banyak warga net yang mengapresiasi kritik Emon tersebut. Najwa Shihab, Rizal Ramli maupun Novel Baswedan pun berterima kasih atas unggahan Emon yang mempertanyakan Keadilan di negeri +62 ini.


Betapa tidak, tiga tahun dua bulan lamanya, penyidikan dua pelaku kriminal terhadap Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) Novel Baswedan hingga buta matanya, akhirnya baru diadili sekarang dengan putusan satu tahun penjara.


Putusan ini sangat mengusik nurani publik karena dirasa sangat ringan hukumannya. Coba bandingkan dengan kasus serupa yang dilakukan oleh Herianto siram air keras ke istrinya divonis 20 tahun penjara (Juli 2020). Rika menyiram air keras ke suaminya divonis 12 tahun penjara (Oktober 2018). Ruslan menyiram air keras ke mertuanya divonis 10 tahun penjara (Juni 2018).


Dalam pertimbangan surat yang dibacakan jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/6/2020). Jaksa menyebut bahwa penyiraman itu dilakukan secara tak sengaja, ke wajah Novel Baswedan. Kedua terdakwa berkeinginan menyiramkan air keras ke tubuhnya, bukan ke mukanya.


Berdasarkan hal itu Rahmat Kadir dan Ronny Bugis dituntut satu tahun penjara. Karena keduanya dinilai melanggar KUHP pasal 353 ayat 2 KUHP juncto pasal 5 ayat 1.


Tentu proses penyidikan yang mencapai tiga tahun sementara hukuman hanya satu tahun, membuat banyak pihak protes keras. Pengadilan dinilai compang camping tak mampu memberikan keadilan.


Hal ini memang wajar terjadi karena aturan dibuat berdasarkan akal manusia yang sangat lemah dan terbatas. Tak mampu menjangkau hakikat baik dan buruk, benar dan salah.
Akal manusia yang tidak dibimbing Wahyu pasti akan memutuskan hukum sesuai hawa nafsunya, memihak kepada salah satu pihak. Pasti tak akan pernah bisa adil.


Pengadilan seperti ini pasti berpihak pada kepentingan kelompok atau melindungi pihak tertentu. Sementara zalim terhadap lawan atau pihak diluar kelompok nya.
Inilah gaya sistem sanksi dalam sistem Kapitalisme-demokrasi. Yang meletakkan hukum buatan manusia diatas hukum Allah Swt.


Keadilan sangatlah langka atau bisa dikatakan, tidak ada. Berbeda dengan Sistem Islam yang ditegakkan oleh negara Khilafah Islamiyyah ala min hajin nubuwah.

Islam adalah aturan yang bersumber dari Wahyu yang diturunkan oleh Allah Ssw. Islam mampu memberi keputusan sanksi hukum dengan adil, karena Allah Swt adalah Zat Yang Maha Adil (Al Adlu).

Allah Swt berfirman

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ

Sungguh, Kami turunkan kepadamu kitab yang merupakan kebenaran dari Allah. Hendaknya kamu memutuskan di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu (Qs. Al-Nisa: 105).


Dalam Islam yang berhak memutuskan uqubat atau sanksi adalah Khalifah atau Amirul Mukminin atau orang yang ditunjuk untuk mewakilinya. Khilafah Islam adalah institusi yang memiliki otoritas sah dalam memutuskan perkara sesuai hukum Allah Swt.


Sanksi dalam Islam bersifat sebagai Zawajir (pencegah) artinya dengan penerapan sanksi itu akan mencegah manusia melakukan tindak kriminal yang sama di masa yang akan datang, sehingga kemaksiatan sangat minim terjadi.


Juga sebagai Jawabir (penebus dosa) artinya pelaku kemaksiatan akan terbebas dari adzab Allah Swt diakhirat akibat dosanya itu, karena sudah diberi sanksi di dunia sebagaimana diperintahkan oleh Allah Swt. Sanksi ini diputuskan oleh Khalifah.

Hal ini sebagaimana hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw. pada saat Baiat Aqabah I sebagai berikut :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الخَوْلاَنِيِّ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ، فَقَالَ: بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلاَ تَسْرِقُوا، وَلاَ تَزْنُوا – وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ كُلَّهَا – فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَسَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ) صحيح البخاري

“Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu majelis dan beliau bersabda, “Kalian telah membai’atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, kemudian beliau membaca keseluruhan ayat tersebut. “Barangsiapa diantara kalian memenuhinya, maka pahalanya di sisi Allah, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu maka sanksinya adalah kifarat (denda) baginya, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu, maka Allah akan menutupinya, mungkin mengampuni atau mengazab.”


Adapun sanksi dalam Islam digolongkan dalam empat bentuk yaitu
1. Hudud
2. Jinayat
3. Ta'zir
4. Mukhalafat

Masing-masing mereka memiliki sanksi sendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sesuai dengan ketetapan Allah Swt dalam Kitabullah wa Sunah Rasulullah saw.


Terkait tindakan penyiraman air keras hingga menyebabkan cacat permanen termasuk dalam sanksi jinayat. Sanksinya jelas dalam Islam sebagaimana firman Allah Swt

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنثَىٰ بِالْأُنثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿١٧٨﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian hukum qishaash dalam pembunuhan; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang dimaafkan untuknya dari saudaranya, dan yang membunuhnya hendaklah membayar diyat dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah keringanan dari Rabb kalian dan suatu rahmat untuk kalian. Dan siapa yang melampaui batas setelah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. Al-Baqarah[2]: 178)

Secara rinci qishash itu juga sudah disampaikan oleh Allah Swt melalui firman-Nya :

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS Al Maidah [5]: 45)



Jinayat adalah tindakan yang menyebabkan kerusakan jiwa hingga hilangnya nyawa. Hukumannya adalah dengan qishash yaitu dengan balasan yang setimpal.
Namun jika keluarga korban memaafkan, hakim tidak bisa memberi sanksi tersebut. Maka pelaku wajib membayar diyat atau denda sesuai tingkat penganiayaan yang dilakukannya.


Inilah keadilan yang hakiki, hukum Islam sangat adil menghukum pelaku dengan hukuman yang memuaskan nurani pihak korban bahkan mampu mencegah orang lain melakukan perbuatan maksiat yang sama sekaligus memihak kepada pelaku, yaitu diampuni dosanya oleh Allah Swt jika sudah ditetapkan hukum sesuai syariah Islam.

MasyaAllah indahnya Islam, hingga keadilannya disampaikan oleh orientalis Barat Will Durant.

Will Durant adalah seorang sejarahwan barat, memuji kesejahteraan negara Khilafah. Dalam buku yang ia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, ia mengatakan:

"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka".

Inilah bukti keagungan sistem Islam yang mampu memuliakan dan menjaga jiwa manusia, serta menegakkan keadilan secara merata.

Wallahu a'lam
 
Top