Oleh : Marsitin Rusdi
Praktisi Klinis dan Pemerhati Sosial Lingkungan

" Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, jangan kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebgian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu.(TQS, al-Maidah [5]:49 )

Begitu jelasnya petunjuk dan seruan dari Sang Maha Pencipta, untuk umat manusia. Ini merupakan seruan bagi seluruh alam, umat Rasulullah Saw. Perintah ini memiliki makna tersirat yaitu perintah kepada kaum muslim untuk mewujudkan seorang hakim (pemimpin), untuk memutuskan perkara di tengah-tengah mereka sesuai dengan wahyu yang telah Allah turunkan. Dan siapakah pemimpin yang memutuskan perkara setelah wafatnya Rasulullah saw?


Islam sudah mempuyai sistem yang sempurna untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat, yakni sistem yang bersandar kepada nash syara. Yang akan dipimpin oleh seorang khalifah yang mustanir dengan gagasan dan ide yang cemerlang, yang siap meriayah umat seluruh dunia dengan aturan yang sudah ada dari Allah swt dan Rasulnya, dengan metode yang sudah di contohkan oleh Rasulullah. Seluruh kegiatan baik individu ataupun golongan harus sesuai dengan hukum syara.


Seorang khalifah adalah adalah pemimpin yang yang mewakili umat dalam kekuasaan dan pelaksanaan hukum syara’. Sungguh berat menjadi seorang Khalifah karena harus menjadi suri teladan umat, harus menjadi pemutus segala problem umat, harus mengawasi sistem pemerintahan, harus adil, harus jujur, karena seorang khalifah hanya takut pada Allah dan Rasulnya. Dia dipilih oleh umat dan para ulama dan tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memilih khalifah, pemilihannya pun  tidak memerlukan biaya. Inilah  politik dalam sudut pandang Islam, tujuan politik  adalah untuk menyebarkan berdakwah, mengajak umat untuk kembali pada jalan yang benar, bukan untuk mencari kekuasaan, bukan ingin korupsi, nepotisme untuk memperbanyak harta serta keindahan dunia semata. Karena  seorang khalifah bertanggung jawab atas seluruh umat yang berada dalam  wilayahnya.


Seorang khalifah tidak kebal hukum, jika Ia bersalah wajib diberi hukuman, jika Ia bersalah dan menyebabkan terpuruknya kondisi negara wajib diberhentikan dari jabatan khalifah. Jadi hukum dalam berlaku sama tanpa membedakan strata, hukum dalam Islam  memihak pada yang benar, dan mendidik yang salah sembari memberi efek jera. Hukum tidak bisa dipermainkan atau direkayasa karena balasan tanggung jawabnya adalah dunia akhirat, karena pertanggung jawaban bukan kepada manusia melainkan pada Allah swt.


Seorang khalifah tidak menerima gaji, karena segala kebutuhan dicukupi oleh negara, karena di dalam daulah semua kebutuhan masyarakat terjamin, pendidikan gratis, kesehatan gratis, listrik gratis, gas gratis, bahkan lapangan kerja tersedia dalam jumlah yang mencukupi. Bahkan untuk fakir miskin semua kebutuhan dan tempat tinggal ditanggung oleh negara


Darimana negara mendapat biaya untuk umat. Sungguh luar biasa pengelolaan sistem Islam. Sumber Daya Alam, tidak boleh dikuasai oleh swasta, atau asing kecuali hanya staf atau ahlinya saja, dan itu hanya sistem kontrak, selesai kontrak harus pulang kenegaranya. Hasil dari seluruh sumber daya tersebut, termasuk tambang harus masuk ke Baitul Mal, yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dana umat. Bisa untuk pinjaman umat yang ingin menambah modal usahanya tanpa harus membayar bunga, karena sistem Islam mengharamkan riba. Bagi masyarakat yang tidak mampu, tetapi  mau usaha diberikannya hibah modal yang tidak harus dikembalikan kepada negara, murni untuk kesejahteraan umat.


 Seorang wanita dihargai dimuliakan harus menutup aurat bila keluar dari rumah, sehingga yang bekerja di luar rumah hanya seorang suami, kaum wanita cukup di rumah mendidik anak, agar terlahir anak-anak generasi Rabbani yang akan menjadi penerus peradaban cemerlang ini. Anak-anak sempurna dididik seorang ibu yang memiliki tsaqafah Islam yang mumpuni. Seorang ummahat harus senantiasa meningkatkan tsaqafah agar senatiasa cerdas dan bermanfaat untuk umat.

Inilah  New Normal Life, kembali kepada peradaban baru dengan menerapkan syariat Islam secara kafah dibawah naungan seorang khalifah dalam sistem khilafah ala minhaj nubuwwah.

Wallahua’lam bissawwab
 
Top