Oleh : Neneng Sriwidianti
(Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK)

Tahun ajaran baru akan dimulai pada tanggal 13 Juli 2020. Biasanya semua menyambutnya dengan suka cita. Tetapi tidak untuk kali ini, ketika kasus virus COVID-19 masih menghantui di tengah masyarakat. Para orang tua sangat khawatir ketika anak-anak mereka kembali ke bangku sekolah, mereka akan terpapar wabah yang sudah memakan ribuan korban. Pro dan kontra muncul dari berbagai kalangan, terkait kebijakan pemerintah ini.

Meski Indonesia sedang menghadapi pandemi, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad, mengatakan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari.

Bertepatan dengan pernyataan tersebut, ternyata di Surabaya ada 127 anak berusia 0-14 tahun yang dinyatakan positif COVID-19.

Dilansir dari kumparan.com, fakta ini diungkapkan Koordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, M. Fikser.

"Kemarin (30/5) ada tambahan delapan kasus. Untuk anak usia 0-4 tahun ada 36 kasus, sementara anak usia 5-14 tahun ada 91 kasus. Jadi sekarang total ada 127 kasus anak yang terinfeksi COVID-19, " ungkap Fikser ketika ditemui Basra.(kumparan.com, 31/5/2020)

Dengan fakta masih masifnya penyebaran COVID-19, apakah negara akan menjamin anak-anak yang kembali masuk sekolah tidak akan terpapar virus Corona? Apakah anak-anak bisa disiplin menggunakan masker? Tidak akan saling tukar masker? Atau mereka siap mengganti masker setiap 4 jam?

Seharusnya pemerintah berkaca kepada Korea Selatan, yang  merupakan salah satu contoh negara yang ketat dalam menangani wabah COVID-19 selama ini. Akhirnya negara ini memperketat kembali pembatasan sosial setelah terjadi lebih dari 250 kasus infeksi baru dan 251 sekolah ditutup kembali.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa negara kapitalis di manapun termasuk Indonesia telah gagal menjaga jiwa rakyat. Rakyat dijadikan kelinci percobaan dari kebijakan negara.

Kalau pemerintah tetap dengan keputusannya untuk membuka sekolah pada tahun ajaran baru mendatang, maka dipastikan akan terjadi lonjakan penderita yang terinfeksi menimpa anak-anak bangsa. Padahal anak adalah aset masa depan yang harus dijaga.

Kebijakan yang diambil juga lebih karena kepentingan ekonomi, karena ada desakan dari para pengusaha. Itulah ciri negara kapital yang lebih berpihak kepada segelintir pemilik modal daripada jiwa rakyatnya.

Islam adalah agama yang paripurna yang bisa menyelesaikan seluruh permasalahan kehidupan. Termasuk ketika terjadi adanya wabah. Penjagaan jiwa dalam Islam adalah sesuatu yang sangat di perhatikan. Ini terlihat jelas dalam firman Allah Swt. yang mulia.

"Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu kaum) bagi Bani Israel, bahwa barang siapa yang membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh oranglain, atau bukan karena kerusakan di bumi, seakan-akan ia telah membunuh semua manusia. Siapa yang memelihara kehidupan manusia,akan seakan-akan ia memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Namun, kemudian banyak diantara mereka setelah itu melampaui batas di bumi (QS. Al-Maidah [5]: 32).

Islam juga telah mempunyai metode Ilahi yang ampuh melalui Rasulullah saw. dalam mengatasi pandemi.

"Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian keluar dari wilayah itu (HR. al- Bukhari).

Caranya yaitu dengan isolasi atau karantina (lockdown). Ini dilakukan pada wilayah yang terjangkit saja. Untuk mencegah penularan wabah ke wilayah lain. Selanjutnya wilayah lain yang tidak terjangkit, aktifitasnya tetap normal. Sehingga ekonomi akan tetap berjalan.

Sedangkan di daerah yang tidak terjangkit diterapkan pemisahan orang sakit dari yang sakit.

"Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat" (HR. al-bukhari)

Di daerah ini diharuskan jaga jarak dan harus diketahui mana yang sakit dan mana yang tidak. Jaga jarak dilakukan dengan sosial distancing sebagaimana kebijakan Amru Bin Ash saat menangani wabah di Syam. Selain itu negara juga harus mengetahui mana yang sehat atau sakit dengan adanya tes. Bagi yang sakit negara menyediakan rumah sakit gratis lengkap dengan obatnya.

Demikianlah, ketika metode yang disyariatkan oleh Islam dijalankan. Maka ada 3 penjagaan yang akan dijamin yaitu :

~ Penjagaan terhadap nyawa manusia.
~ Penjagaan terhadap agama (karena ibadah tetap bisa dijalankan)
~ Penjagaan terhadap harta (ekonomi masyarakat tetap berjalan).

Itu semuanya hanya akan terwujud ketika syariat Islam diterapkan secara kafah dalam naungan khilafah Islamiyah. Inilah kewajiban yang harus segera kita tunaikan saat ini yaitu berjuang menegakkan kembali Khilafah ala manhaj nubuwwah.

Wallahu a'lam bishshawab
 
Top