Oleh : Imroatus Sholeha
(Pemerhati Umat)

Bulan suci Ramadan baru saja kita lalui, bulan dimana umat Islam di Inkubasi guna menggapai ketakwaan kepada Ilahi Rabbi.

Meski Ramadan telah pergi, tapi tidak dengan virus corona yang telah menjadi pandemi di bumi ini. Virus ini terus menyebar luas, hampir di semua media, baik cetak maupun elektronik memberitakan penambahan korban jiwa maupun terinfeksi yang terus meningkat pesat tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.

Dari data yang diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada Jumat, 29 Mei 2020, menunjukkan total kasus positif corona di Indonesia kini mencapai 25.216 pasien.

Sebanyak 17.204 pasien positif corona di tanah air masih dalam perawatan dan menjalani isolasi. Angka kasus aktif tersebut sebanding dengan 68,7 persen dari total kasus Covid-19 yang sudah dilaporkan dari 34 provinsi di Indonesia. (Tirto.id, 29/5/2020)

Sementara berdasarkan data Worldometers, jumlah total kasus positif corona di dunia telah sebanyak 5.920.258 pasien. Data itu merupakan hasil update data terbaru per pukul 15.33 WIB, Jumat sore, 29 Mei 2020.

Data yang sama menunjukkan angka kematian pasien Covid-19 di dunia saat ini mencapai 362.368 jiwa. Sementara 2.592.085 orang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Sebanyak 2.965.805 pasien positif corona masih menjalani perawatan dan isolasi. Dari 2,96 juta kasus aktif tersebut, sekitar 2 persen atau 53.966 pasien sedang dalam kondisi kritis.

Jika kita melihat dari segi kacamata ruhiyah, sesungguhnya virus korona (Covid 19) yang kini telah melanda dunia adalah bentuk cobaan dan teguran dari Allah Swt., pencipta alam semesta ini.

Sebagai seorang muslim dan manusia yang berakal , semestinya hal ini dijadikan pelajaran agar kita bertaubat dan kembali kepada petunjuk-Nya. 

Wakil Presiden KH. Ma'ruf Amin dalam kutipan sambutannya menyambut Idul Fitri 1441 H, sebagaimana dimuat di harian Tempo.co mengingatkan bahwa momen ini harus dimanfaatkan umat muslim untuk memperkuat iman dan takwa. Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan, Allah Swt. bahwa umat yang beriman dan bertakwa akan diberi ganjaran diberikan keberkahan.

"Kalau beriman dan bertakwa pasti Allah turunkan kesuburan, kemakmuran, keamanan, keselamatan dan dihilangkan berbagai kesulitan. Itu adalah janji Allah di dalam Al-Quran," kata Ma'ruf.

Ia pun meminta masyarakat untuk lebih bersabar di tengah pandemi wabah corona. Ia meyakini Indonesia dapat memenangkan perang melawan virus tersebut.

"Mudah-mudahan kita bisa bersabar untuk saat ini dan akan bangkit dan kembali meraih kemenangan dan kesuksesan.

Memang benar apa yang disampaikan oleh Wakil Presiden KH. Ma'ruf Amin, akan tetapi dalam praktkknya, apakah bangsa ini sudah bertakwa?

Kata takwa berasal dari kata waqâ. Artinya, melindungi. Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah Swt. Caranya tentu dengan menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. 

Pengertian takwa tersebut sebagaimana dikatakan Thalq bin Habib, seorang Tabiin, salah satu murid Ibnu Abbas ra. Dikatakan, “Takwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. berdasarkan cahaya-Nya dengan mengharap pahala-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya-Nya karena takut terhadap azab-Nya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, I/2440)

Jika negeri ingin wabah ini segera berakhir, maka patut kita renungkan firman Allah Swt. dalam Qur'an Surat al-A'Raf ayat 96, yang artinya:
"Jikalau penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." 

Dalam Tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika  hati penduduk negeri  beriman kepada apa yang disampaikan oleh Rasul-rasul, membenarkannya, mengikutinya, dan bertakwa dengan mengerjakan amal-amal ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan.

Maka, Allah akan menurunkan hujan dari langit dan tetumbuhan dari bumi. Tetapi dalam firman selanjutnya disebutkan, tetapi mereka mendustakan rasul-rasul-Nya, maka kami siksa mereka dengan menimpakan kebinasaan atas mereka karena perbuatan-perbuatan dosa dan hal-hal haram yang mereka kerjakan. (Tafsir Ibnu Katsir)

Mari kita renungkan apakah Negeri ini sudah bertakwa?  rasa-rasanya masih jauh dari defenisi Taqwa. Dimana kita bisa menyaksikan kriminalitas yang merajalela, prostitusi yang kian membudaya, riba yang semakin menggurita, hukum yang tidak memenuhi asas keadilan bagi seluruh rakyatnya, penguasa yang tidak mau menjalankan aturan dari pencipta Alam semesta, menjadikan Islam sebatas ibadah ritual belaka, padahal Islam tak sesempit itu.   Islam adalah agama sekaligus peraturan hidup dari sang pencipta untuk hambanya.

Sejatinya manusia telah Allah berikan dua pilihan, jalan orang bertakwa atau jalan orang yang sesat. Maka, sebagai orang yang berakal sudah selayaknya memilih jalan orang bertakwa, istiqamah hingga kemenangan diraih melalui penerapan syariat Islam secara kafah. Bukan malah memilih jalan yang penuh hawa nafsu, mengantarkan pada kesesatan dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang enggan mengikuti perintah Allah Swt. Naudzubillah.

Ketakwaan  dalam Al-Qur’an ialah mengerjakan amal penuh ketaatan kepada Allah Swt, atas dasar petunjuk Allah Swt, dan senantiasa mengharap rahmat Allah Swt. Dan meninggalkan segala kemaksiatan atas dasar rasa takut kepada Allah swt. Ketaatan dan tunduk kepada hukum-hukum Islam (syariat Islam) secara mutlak. Karena syariat yang Allah Swt turunkan bukan hanya mengatur ibadah, keluarga, pakaian dan perkara-perkara personal saja, tetapi secara lengkap syariat juga mengatur urusan masyarakat dan negara. Sebab, ketaatan individu ataupun masyarakat akan sempurna, jika ada institusi negara yang menerapkan dan menegakkan syariat Islam secara kafah dalam seluruh aspek Kehidupan. 

Maka, jika kita ingin agar wabah segera berakhir, taat dan takwa adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil oleh Individu, Masyarakat hingga Negara, agar keberkahan hidup dapat diraih. Meninggalkan aturan-aturan hidup ala kapitalisme sekuler sistem yang bukan bersumber dari Islam dan terbukti gagal dalam mengatur kehidupan manusia. Saat ini perekonomian global luluh lantah, nyawa manusia tak ada artinya, dan segala kerusakan lainnya yang tak terhitung banyaknya adalah buah diterapkannya hukum kufur buatan manusia. 

Inilah Langkah yang harus diambil kaum muslim. Karena ketakwaan yang hakiki ialah menerapkan syariat Islam secara kaffah dengan menjadikanya sebagai perangkat  aturan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. dan para Khalifah Khulafaur Rasyidin pasca hijrah ke Madinah. Sejatinya Islam adalah agama yang bersumber dari Sang Pencipta, memuaskan akal, menentramkan jiwa dan sesuai fitrah manusia. Wallahu a’lam Bishshawab.
 
Top