Oleh : Ummu Yusuf

Adanya wabah pandemi Corona menyingkap satu fakta tentang kegagalan sistem Kapitalisme di berbagai negara termasuk Indonesia dalam memelihara agama, nyawa dan harta manusia. Di negeri ini, penyebaran covid-19 masih menghawatirkan dengan penambahan kasus positif 1.031 orang, total menjadi 41.431 orang dan 2.276 orang meninggal.

Di saat kondisi yg masih berbahaya, Pemerintah malah berencana menyiapkan protokol menghadapi “New Normal"  dengan upaya mengurangi PSBB yg bertujuan memulihkan produktivitas. Keputusan yang lebih mementingkan aspek ekonomi. Menurut WHO syarat untuk bisa dilakukan New Normal adalah angka kasus baru nol selama 14 hr. Faktanya, di Indonesia data kasus baru perhari masih tinggi. Tidak aneh jika banyak ahli menilai kebijakan itu terburu buru dan berbahaya.
Seperti halnya yang terjadi saat pandemi flu spayol pada masa lalu, pelonggaran pembatasan sosial yang terlalu cepat menjadi sebab ledakan gelombang kedua mengakibatkan jumlah korban meninggal sangat besar. Ledakan gelombang kedua Covid-19 juga dikhawatirkan akan terjadi. Di beberapa negara terjadi ledakan kasus baru dalam sehari seperti di Prancis, korea selatan, Wuhan, dan kasus baru juga terjadi di beijing serta beberapa tempat lain.

Bencana wabah ini merupakan bagian dari qodha' yang tidak bisa ditolak. Namun sistem dan metode yang digunakan untuk mengatasi dan mengendalikan wabah adalah pilihan karena berada di wilayah ikhtiari manusia. Saat ini para penguasa lebih memilih menerapkan  sistem Kapitalisme, dan menggunakan metode yang lebih mementingkan aspek ekonomi dalam mengatasi wabah. Menjaga dan memelihara nyawa manusia terkesan menyepelekan.

Dalam menjaga dan memlihara agama pun Pemerintah terkesan abai. Saat wabah seperti ini banyak masjid  ditutup dengan alasan demi mencegah penularan wabah Covid-19 sementara mal-mal, pasar, bandara, stasiun, terminal dll banyak yang dibiarkan tetap “Normal". Akhirnya wajar jika banyak orang berprasangka negatif atas kebijakan ini. Pemerintah dituding cenderung anti Islam karena dianggap mendeskreditkan masjid. Padahal sejak  awal langkah isolasi dengan luar negeri dan juga isolasi antar daerah tidak segera diterapkan di seluruh negeri.

Seharusnya Pemerintah memprioritaskan bagaimana mengendalikan dan mengatasi pandemi. Keselamatan nyawa manusia harus didahulukan dari kepentingan ekonomi, apalagi hanya kepentingan segelintir orang.

Karenanya solusi nya tidak lain dengan syariah Islam. Dengan syariah Islam wabah akan lebih mudah diatasi dan dikendalikan. Tanpa mengganggu syiar Islam dan ibadah kaum Muslim nyawa manusia bisa terselamatkan dan ekonomi bisa berjalan.
Karantina adalah di antara tuntunan syariah Islam saat wabah terjadi di suatu wilayah yang dimaksudkan agar wabah tidak meluas kedaerah lain. Karena itu suplay berbagai kebutuhan untuk daerah itu tetap harus dijamin. Relatif mudah diatasi tergantung pada kebijakan dan sikap amanah pemerintah sebagai pengurus rakyat. Tindakan cepat karantina cukup dilakukan di daerah terjangkit saja. Daerah lain yang tidak terjangkit bisa tetap berjalan normal untuk menopang daerah yang terjangkit baik dalam pemenuhan kebutuhan maupun penanggulangan wabah. Sehingga perekonomian secara keseluruhan tidak terdampak.
Secara simultan, di daerah terjangkit wabah diterapkan aturan berdasarkan sabda Rasul saw.: “Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat” (HR al-Bukhari). Untuk menerapkan petunjuk Rasul saw. itu harus dilakukan dua hal yaitu jaga jarak antar orang dan harus diketahui siapa yang sakit dan siapa yang sehat.

Jaga jarak seperti yang diterapkan oleh Amru bin Ash dalam menghadapi wahab Tha'un ‘Umwas di Palestina berhasil. Untuk mengetahui siapa yang sakit dan yang sehat harus dilakuakan Test, Treatment, dan Tracing. Harus dilakukan tes yang akurat secara cepat, masif, dan luas. Lalu dilakukan tracing (kontak orang yang positif) dan dilakukan penangan lebih lanjut. Yang positif dirawat secara gratis ditanggung negara.

Dengan seperti itu bisa dipisahkan antara orang yang sakit dan yang sehat. Mereka yang sehat tetap bisa menjalankan aktivitas harian, tetap beribadah dan meramaikan masjid, menjalankan aktivitas ekonomi dan tetap produktif sehingga daerah yang terjangkit wabah tetap produktif sekalipun menurun.

Prosedur yang sesuai petunjuk syariah akan menjaga nyawa dan kesehatan rakyat, agama dan harta (ekonomi) juga tetap terpelihara. Kebijakan seperti itu semestinya diambil dan dijalankan apalagi penerapan syariah Islam memang bertujuan untuk memelihara agama, nyawa dan harta manusia. Tujuan memelihara agama diwujudkan dengan menjamin syiar-syiar Islam, pelaksanaan ibadah, dsb. Islam menilai upaya melarang atau menghalangi syiar Islam dan pelaksanaan ibadan tanpa alasan sebagai dosa besar. Penerapan syariah Islam juga bertujuan untuk memelihara nyawa manusia. Dalam Islam, nyawa seseorang—apalagi nyawa banyak orang—benar-benar dimuliakan dan dijunjung tinggi. Menghilangkan satu nyawa manusia disamakan dengan membunuh seluruh manusia.

Perlindungan dan pemeliharaan syariah Islam atas nyawa manusia diwujudkan melalui berbagai hukum melalui pengharaman segala hal yang membahayakan dan mengancam jiwa manusia.

Wallahu'alam bisshawab
 
Top