Oleh : Hera
Ibu Rumah Tangga

Kegagapan sekaligus kegagalan sistem Kapitalisme di berbagai negara termasuk di negeri ini dalam mengatasi wabah pandemi Corona, menyingkap satu fakta bahwa sistem ini tidak bisa memelihara agama,nyawa dan manusia. Penyebaran Covid-19 hingga hari ini di Indonesia khususnya dunia pada umumnya masih sangat mengkhawatirkan. 

Menurut data per 2 Mei 2020 di Indonesia ada penambahan 609 kasus positif Covid-19 menjadi 27.549 orang, total yang meninggal menjadi 1.663 orang. Sangat miris di tengah situasi yang masih berbahaya justru Pemerintah menerapkan kebijakan "new normal" atau situasi normal baru di tiga Provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. 

Tujuan new normal menurut Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy adalah untuk memulihkan produktivitas. Namun sejak kebijakan ini  diberlakukan korban yang meninggal terus bertambah menjadi 1.959 orang.  

Sungguh kondisi ini sangat memprihatinkan dan terlihat keputusan ini lebih mementingkan aspek ekonomi, karena WHO sendiri telah menetapkan 
syarat-syarat untuk bisa dilakukan prosedur new normal di antaranya kasus baru nol selama 14 hari. Faktanya data kasus perhari masih tinggi. Secara nasional dari tanggal 29/5 sampai 2/6 rata- rata ada 602  kasus positif baru.
Malah di Jawa Timur sekarang  angka kematian kasus covid-19 lebih tinggi mengalahkan DKI Jakarta Sungguh miris. 

Tidak aneh banyak para ahli menilai kebijakan  pelonggaran PSBB atau prosedur  new normal ini terlalu terburu-buru. Apalagi kalau tidak dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat tentu kondisi ini sangat berbahaya sekali.
Dalam sejarahnya, pelonggaran pembatasan sosial yang terlalu cepat(prematur) dinilai menjadi ledakan gelombang kedua pandemi. Flu di Spanyol pada masa lalu yang mengakibatkan jumlah korban meninggal di seluruh dunia sangat besar(Kompas.id,29/5). 

Pandemi Flu ini menjangkiti 500 juta orang di dunia dan menewaskan hingga 50 juta orang.
Dikhawatirkan maka bukan hal mustahil ketika diberlakukan new normal  akan terjadi ledakan gelombang kedua Covid-19. Misalnya di Perancis justru telah terjadi ledakan kasus baru dalam sehari, Korea Selatan ada 79 kasus covid-19 dan di Wuhan setelah dibuka kembali diketatkan. 

Lantas bagaimana solusi di dalam Islam?

Bencana berupa wabah merupakan bagian qadha Allah Swt. yang tak bisa ditolak.namun sistem apa yang digunakan untuk mengendalikan wabah adalah pilihan. Faktanya para penguasa dunia termasuk penguasa negeri ini lebih memilih untuk menerapkan sistem Kapitalisme.  Dimana solusi dalam mengatasi wabah lebih mementingkan aspek ekonomi, sedangkan menjaga dan memelihara nyawa manusia di nomer duakan bahkan menganggap enteng nyawa manusia. 

Pemerintah juga terkesan abai dalam menjaga dan memelihara  agama. 
Saat wabah seperti ini banyak mesjid-mesjid ditutup tidak boleh menyelenggarakan shalat Jumat dan shalat berjamaah.bahkan shalat Idul Fitri juga dilarang  demi mencegah penularan Covid-19.  Tentu alasan ini masuk akal jika dibarengi dengan menutup mal-mal, pasar, bandara, stasiun dan lain-lain. Namun ternyata tempat-tempat tersebut tidak benar-benar ditutup. Akhirnya wajar jika banyak orang berprasangka negatif terhadap kebijakan ini. Karena seolah-olah masjid yang paling berpotensi  dalam penularan wabah daripada tempat-tempat keramaian yang lain. Padahal persoalannya  sejak awal langkah isolasi baik itu dengan luar negeri  dan antar daerah tidak segera diterapkan oleh Pemerintah.  Akibatnya Covid-19 pun menyebar hampir ke seluruh negeri. 

Untuk saat ini sudah seharusnya yang diprioritaskan oleh pemerintah  adalah bagaimana mengendalikan  dan mengatasi Covid-19. Dimana keselamatan manusia harus lebih didahulukan daripada kepentingan ekonomi apalagi kepentingan segelintir orang yakni para kapitalis (pengusaha/pemilik modal). 

Maka solusi agar wabah mudah diatasi dan dikendalikan adalah dengan syariah Islam. Karena dengan syariah Islam, syiar Islam dan ibadah tidak akan terganggu, nyawa manusia bisa terselamatkan dan ekonomi tetap bisa berjalan.  Tuntunan syariah Islam saat terjadi wabah di suatu wilayah adalah isolasi/karantina. isolasi ini cukup dilakukan di daerah yang terjangkit saja.daerah yang tidak terjangkit bisa tetap produktif sehingga bisa menopang daerah yang terjangkit baik dalam pemenuhan kebutuhan maupun dalam penanggulangan wabah.

Untuk menerapkan petunjuk Rasul saw. dalam mengatasi wabah yaitu jaga jarak antar orang dan harus diketahui siapa yang sakit dan siapa yang sehat. Jaga jarak dilakukan dengan physical distancing seperti yang diterapkan oleh Amru bin'Ash dalam menghadapi wabah Tha'un'Umwas di Palestina kala itu dan berhasil.  

Adapun untuk mengetahui yang sakit dan yang sehat harus dilakukan 3T (test, treatment, tracing) secara cepat,masif dan luas. Lalu dilakukan tracing kontak orang yang positif lalu dilakukan penanganan lebih lanjut. Bagi yang positif akan dirawat secara gratis yang ditanggung negara.
Bagi yang sehat tetap bisa menjalankan aktifitas kesehariannya seperti beribadah dan meramaikan mesjid,aktivitas ekonomi dan tetap produktif. 

Dengan langkah yang sesuai petunjuk syariah, nyawa dan kesehatan rakyat tetap bisa  terjaga. begitupun agama dan harta (ekonomi) bisa terpelihara.

Dalam pandangan Islam  memelihara nyawa manusia apalagi nyawa banyak orang benar-benar dimuliakan dan dijungjung tinggi. Menghilangkan satu nyawa manusia disamakan dengan membunuh seluruh manusia (QS. al-Maidah [5]: 32). 

Walhasil perlindungan dan pemeliharaan nyawa manusia hanya bisa diwujudkan oleh syariah Islam yaitu dengan menerapkannya secara menyeluruh dalam wadah Khilafah Rasyidah ala minhajjin nubuwwah.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top