Oleh : Shafiya
Pemerhati Sosial

Pemerintah membutuhkan banyak dana demi menanggulangi dampak Pandemi Corona atau COVID-19 dan melindungi perekonomian nasional. Untuk memenuhi dana tersebut, salah satunya pemerintah melebarkan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2020 ke level 6,27% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Defisit anggaran yang melebar ke 6,27% itu setara dengan  Rp1.028,5 triliun terhadap PDB. Untuk memenuhi itu, pemerintah rencananya akan menerbitkan utang baru sekitar Rp990,1 triliun.

Berdasarkan draf kajian Kementerian Keuangan mengenai program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang diperoleh detik.com, pemerintah hingga saat ini sudah menerbitkan surat utang negara (SUN) senilai Rp420,8 triliun hingga 20 Mei 2020.

Nantinya, total utang senilai Rp990,1 triliun ini akan disesuaikan dengan penerbitan SUN secara keseluruhan baik melalui lelang, ritel, maupun private placement, dalam dan atau luar negeri.

Outlook pembiayaan mencapai Rp1.633,6 triliun, di mana rinciannya pembiayaan defisit Rp1.028,5 triliun, pembiayaan investasi dan lain-lain Rp178,4 triliun, dan utang jatuh tempo senilai Rp426,6 triliun. Adapun dari total pembiayaan, pemerintah sudah melakukan penarikan pinjaman sekitar Rp148,0 triliun, sehingga total penerbitan SBN ditambah SPN/S jatuh tempo tahun 2020 sebesar Rp35,6 triliun menjadi Rp 1.521,1 triliun. (detikfinance, 28/05/2020)

Kebanyakan orang telah mengetahui dampak buruk dari utang. Karena utang, menurut Rasulullah saw.  merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Utang juga dapat membahayakan akhlak.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya:

“Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. al-Bukhari)

Rasulullah saw. pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah saw. bersabda:

غْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya.”. (HR. Muslim III/1502 no.1886 dari Abdullah bin Amr bin Ash)

Defisit APBN bisa saja terjadi di negara manapun di dunia, karena hal ini merupakan masalah umum dalam tata kelolah pemerintahan. Yang berbeda adalah faktor-faktor  penyebabnya dan beleid strategis untuk mengatasinya. Ada yang menempuh cara menaikkan pajak, berhutang, mencetak mata uang, dan lain sebagainya. Solusi yang diambil tentu berisiko.

Solusi Islam Atasi Defisit APBN

Sistem ekonomi Islam adalah sistem pemenuhan kebutuhan hidup manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran yang didasari pada ajaran Islam dalam Al-Qur'an dan as-sunnah.

Dalam sistem Islam defisit anggaran diselesaikan dengan tiga strategi yaitu:

Pertama, meningkatkan pendapatan. Ada empat cara yang dapat ditempuh.

1) Mengelola harta milik negara. Misalnya dengan menjual atau menyewakan harta milik negara, seperti bangunan milik negara.
Hal ini dilakukan oleh Rasulullah saw. di Tanah Khaibar, Fadak, dan Wadil Qura. Khalifah boleh juga mengelola tanah pertanian milik negara, dengan membayar buruh tani yang akan mengelola tanah pertanian tersebut. Semua dana yang yang diperoleh dari pengelolaan harta milik negara di atas akan dapat menambah pendapatan negara. Negara dalam berbisnis tetap menonjolkan misi utamanya melaksanakan kewajiban ri’ayatus-syu’un.
Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, yang artinya:

“Imam yang menjadi pemimpin manusia laksana penggembala. Dia bertanggung jawab atas (urusan) rakyatnya.” (HR. al Bukhari, dari Abdullah Ibnu Umar)

(2) Melakukan hima pada sebagian harta milik umum. Hima adalah pengkhususan oleh Khalifah terhadap suatu harta untuk suatu keperluan khusus, dan tidak boleh digunakan untuk keperluan lainnya. Misalnya Khalifah melakukan hima pada tambang emas di Papua untuk keperluan khusus, seperti pembiayaan pandemi Covid-19. Rasulullah saw. pernah menghimasatu padang gembalaan di Madinah yang dinamakan an-Naqi’, khusus untuk menggembalakan kuda kaum Muslim.

(3) Menarik pajak (dharibah) sesuai ketentuan syariah. Pajak hanya dapat ditarik oleh Khalifah ketika ada kewajiban finansial yang harus ditanggung bersama antara negara dan umat. Ini dilakukan ketika kas negara kosong.

(4) Mengoptimalkan pemungutan pendapatan. Sumber pemasukan tetap Baitul Mal adalah fai', ghanimah, anfal, kharaj, jizyah, dan pemasukan dari hak milik umum dengan berbagai macam bentuknya; pemasukan dari hak milik negara, usyur, khumus, rikaz, tambang serta harta zakat.

Kedua, menghemat pengeluaran. Cara kedua untuk mengatasi defisit anggaran adalah dengan menghemat pengeluaran, khususnya pengeluaran-pengeluaran yang dapat ditunda dan tidak mendesak.

Ketiga, berutang (istiqradh). Khalifah secara syar’i boleh berutang untuk mengatasi defisit anggaran, akan tetapi tetap wajib terikat dengan hukum-hukum syariah. Haram hukumnya Khalifah mengambil utang luar negeri, baik dari negara tertentu, misalnya Amerika Serikat dan China, atau dari lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Alasan keharamannya ada dua: utang tersebut pasti mengandung riba dan pasti mengandung syarat-syarat yang menghilangkan kedaulatan negeri yang berutang.

Khalifah hanya boleh berutang dalam kondisi ada kekhawatiran terjadinya bahaya (dharar) jika dana di baitul mal tidak tersedia.

Keadaan ini terbatas untuk tiga  pengeluaran saja, yaitu: (1) untuk nafkah fuqara, fakir miskin, ibnu sabil, dan jihad fi sabilillah; (2) untuk membayar gaji orang-orang yang memberikan jasa atau pelayanan kepada negara seperti pegawai negeri, hakim, tentara, tenaga edukatif, dan sebagainya; (3) untuk membiayai dampak peristiwa-peristiwa luar biasa, seperti menolong korban gempa bumi, banjir, angin topan, paceklik, serangan musuh dan lain sebagainya, (Sistem Ekonomi Islam, Taqiyuddin an-Nabhani, hal. 255-257).

Pada tiga macam pengeluaran ini, jika dana tidak cukup di baitul mal, pada awalnya Khalifah boleh memungut pajak. Jika kondisi memburuk dan dikhawatirkan dapat muncul bahaya (dharar), khalifah boleh berutang.

Demikianlah solusi Islam mengatasi defisit APBN, bersandarkan pada aturan sang pencipta dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top