Oleh : Arsy Novianty
(Member Akademi Menulis Kreatif, Aktivis Muslimah Remaja)

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan sebuah surat edaran mengenai salat Jumat dua gelombang yang berdasarkan nomor telepon ganjil dan genap. Saat mendengarnya pun sudah heran bin aneh kok bisa-bisanya mengeluarkan hal seperti itu benar-benar di luar nalar.

Dilansir oleh KOMPAS.com (14/6/2020), Dewan Masjid Indonesia (DMI) menerbitkan surat edaran mengenai pelaksanaan Salat Jumat bergelombang berdasarkan nomor telepon selular di masa transisi menuju era kenormalan baru atau new normal di tengah pandemi Covid-19.

Bagaimana tanggapan kalian mengenai hal ini? Setujukah dengan uraian di atas? Jika dianalisis oleh diri pribadi mengenai salat Jumat yang dibagi menjadi dua gelombang, apalagi diambil dari nomor telepon ganjil dan genap sungguh tidak masuk akal, dan tidak sesuai dengan tuntutan syariat Islam. Bahkan survei membuktikan bahwa masyarakat heran dengan hal tersebut. Mana iya nomor telepon ganjl dan genap bisa menjadi sebuah rujukan untuk salat Jumat dua gelombang, lalu bagaimana jika ada jemaah yang tidak memiliki handphone sungguh di luar batas akal yang ada. Sebagaimana pandangan MUI, selaku Majelis Ulama Indonesia dari Kabupaten Bandung tidak menyarankan bagi jemaah melangsungkan salat Jumat dua gelombang 'ganjil genap' dengan aturan nomor ponsel. Hal tersebut dinilai tidak memiliki dasar hukum syar'i nya.

Lalu bagaimana solusi Islam terkait salat Jumat dalam masa pandemi?

Yang pertama, halaman masjid seperti jalan yang biasanya tidak terpakai, bisa digunakan untuk sementara waktu hingga pandemi ini berakhir.

Yang kedua,  setiap masjid harus tetap menerapkan protokol kesehatan, baik pemakaian masker, membawa sejadah sendiri, dan phisycal distancing. Hal ini penting sekali agar tidak semakin menyebar luasnya wabah Corona.

Yang terakhir mungkin, harus selalu diingatkan kepada setiap khatib agar mempersingkat waktu khutbah dan waktu Salat Jumat. Hal tersebut agar mengurangi risiko penyebaran virus Corona di dalam masjid.

Dengan hal ini, menarik garis kesimpulan bahwasanya salat Jumat dua gelombang tidak dijadikan rujukan untuk dilaksanakan. Tapi solusi terbaik adalah tetap gunakan protokol kesehatan untuk keamanan.

Beginilah jika hidup dalam naungan kapitalisme, dimana berbagai kebijakan yang dikeluarkan tidak berdasarkan hukum syara, hanya berpacu pada akal yang terbatas.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. 9 : 33, "Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan huda/petunjuk dan Din/Undang-undang/hukum yang benar, untuk dimenangkan-Nya atas undang-undang/hukum yang lain (buatan manusia), walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.
Jadi, sudah jelas sekali bahwa hanya Islamlah satu-satunya hukum yang haq, dan merupakan solusi tuntas atas segala permasalahan hidup, dan kita sebagai muslim harus mau kembali pada sistem khilafah, dimana sistem khilafah berdasarkan wahyu dari Allah, mengambil hukum Al-Qur'an, Sunah, Qiyas, dan ijma sahabat.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top