Oleh : Wulan Amalia Putri, S.ST
(Pekerja Sosial di Kolaka)

Sejak bergulirnya pandemi Covid-19, sejumlah kebijakan menghentikan aktivitas publik dikeluarkan oleh pemerintah. Penutupan tempat perbelanjaan, penutupan tempat ibadah sementara waktu dan kebijakan bekerja dan belajar dari rumah pun tak luput dilakukan. Akhirnya, berbagai aktivitas penting diselenggarakan di rumah secara daring atau online, tak terkecuali aktivitas belajar mengajar.

Seperti halnya aktivitas lain, aktivitas belajar online mengalami beberapa kendala, baik kendala yang dirasakan peserta didik ataupun orangtua. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima sejumlah pengaduan dari anak maupun orangtua karena tugas berat dari sekolah selama pemberlakuan belajar online dari rumah setelah merebaknya virus Corona. (suara.com, 19/3/2020) 

Permasalahan kuota atau banyaknya tugas yang berbeda dengan waktu pengerjaan yang cukup singkat menjadi bahan aduan yang diterima oleh KPAI. Karena itu, upaya perbaikan terus dilakukan termasuk upaya untuk kembali melaksanakan sekolah tatap muka bersama peserta didik, terutama setelah kebijakan New Normal Life dikeluarkan pemerintah. 

Salah satu bentuk adaptasi ke arah New Normal Life atau era hidup Normal Baru/Kenormalan Baru adalah kebijakan penyelenggaraan aktivitas pendidikan di Zona Merah, Zona Kuning dan Zona Hijau. Dimuat dalam bisnis.com (28/5), pada tahun ajaran baru 2020-2021, metode pembelajaran jarak jauh/daring masih akan berlaku di daerah berstatus zona merah dan zona kuning terkait paparan Covid-19. Sementara itu, daerah berstatus zona hijau diizinkan melakukan pembelajaran secara tatap muka. Namun, semuanya diserahkan kepada masing-masing daerah, apakah akan menerapkan pembelajaran tatap muka atau tidak. Keputusan penerapan sekolah tatap muka ini, masing-masing provinsi harus mendapat izin dari gugus tugas, sebagaimana dikemukakan oleh Plt. Direktur jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Hamid Muhammad melalui video Konferensi, Kamis (28/5/2020).

Tetap Berhati-hati

Adanya kebijakan untuk kembali bersekolah sebagai bentuk adaptasi masa new normal, memunculkan kekhawatiran dari para orang tua siswa. Yakni, bagaimana keamananan anak-anak mereka dari virus Corona selama di sekolah. Mengingat begitu cepatnya proses penularan virus Corona, sedangkan perilaku anak-anak yang sangat aktif dan belum tentu dapat menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin.

Menanggapi hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa hanya sekolah di Zona Hijau yang dapat kembali membuka pengajaran secara tatap muka di tengah pandemi Covid-19. Meski demikian, waktu dimulainya tahun ajaran baru belum diputuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim. 

Untuk mendukung kebijakan ini, Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Hamid Muhammad, saat dihubungi kontan.co.id, Kamis (4/6/2020), menegaskan bahwa kembalinya siswa ke sekolah dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Hal itu untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah. “Jaga jarak, pakai masker, jaga kebersihan, maksimal 15 hingga 18 siswa per kelas,’ terang Hamid. Selain itu, Kemendikbud bersama Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) menyusun materi pengayaan pendukung kegiatan belajar dari rumah. Hal ini agar pembelajaran dari rumah tetap memberikan suatu pengalaman belajar baru bagi siswa dan guru tanpa harus terbebani dengan penuntasan materi dalam kurikulum.

Tak dapat dipungkiri bahwa meskipun pembukaan sekolah tatap muka hanya berlaku bagi daerah zona hijau, perasan risau masih menyelimuti hati para orang tua.  Berkaitan dengan hal ini, Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Evy Mulyani, mengatakan bahwa pembukaan sekolah yang berada di zona hijau akan dilakukan secara hati-hati. Kesehatan dan keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama. “Sekolah yang berada di zona hijau tidak langsung bisa dibuka secara otomatis, tetapi melalui prosedur izin syarat yang ketat. Misalnya sebuah sekolah berada di zona hijau, tetapi berdasarkan penilaian keseluruhan prosedur dan syarat, ternyata tidak layak untuk dibuka kembali. Tentu ini harus tetap menjalankan pendidikan jarak jauh,’ tambah dia. Terlebih lagi, pemberian pelajaran dengan tatap muka harus didiskusikan bersama Gugus Tugas Covid sehingga akan dilakukan analisa dari sisi kesehatan ataupun sosial untuk memutuskan apakah sekolah kembali dibuka ataukah pembelajaran tetap berlangsung secara daring atau online.

Karena itu pada dasarnya, sistem pembelajaran jarak jauh atau Belajar Dari Rumah (BDR) tetap menjadi pilihan belajar selama masa pandemi. Untuk menunjang sistem pembelajaran ini, Kemendikbud telah merekomendasikan 23 laman yang dapat dijadikan sumber belajar bagi peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat pula memanfaatkan berbagai layanan yang disediakan oleh Kemendikbud antara lain belajar dari rumah melalui TVRI, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak serta alat peraga dan media belajar dari benda dan lingkungan sekitar. Namun demikian, jika pun pelajaran tatap muka di zona hijau tetap dilangsungkan, pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat dengan diiringi edukasi yang menyenangkan kepada peserta didik harus tetap menjadi prioritas.

Islam dan Pendidikan di Masa Pandemi

Pendidikan (Ilmu) dalam Islam menempati posisi yang tinggi, bahkan orang-orang yang menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu ditempatkan pada posisi yang mulia. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Allah Swt. dalam firmannya: “Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu di antara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kami kerjakan”. (TQS. Mujadilah : 11) 

Bahkan ilmu adalah jalan menuju Surga Allah Swt. karena ilmu pengetahuan yang bermanfaat menjadi jalan untuk mendapat rida Allah Swt. Sebagaimana yang disampaikan dalam hadits : “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga." (HR. Muslim)

Akan tetapi, situasi di masa pandemi virus Covid-19 tentu berbeda dengan situasi sebelum pandemi. Aktivitas belajar mengajar (menuntut ilmu) yang awalnya leluasa dilakukan, mengalami kendala di masa pandemi ini. Walaupun keadaannya seperti ini, aktivitas menuntut ilmu seyogyanya tetap dilakukan.

Dalam kondisi wabah, Islam menetapkan kebijakan lockdown. Karena itu tentunya aktivitas belajar pun akan dilakukan dari rumah. Namun, apakah belajar dari rumah dengan sistem Islam akan menimbulkan kegaduhan atau kehilangan dimensi pendidikannya? Tentu tidak. Hal tersebut didukung oleh beberapa hal.

Pertama, pendidikan berasaskan akidah dan syariah Islam. Dengan asas ini, negara menegaskan bahwa tujuan pendidikan harus diemban bersama oleh negara, siswa, guru, tenaga kependidikan dan orangtua. Dalam hal ini, karena belajar di rumah melibatkan orangtua, maka penting bagi orangtua untuk memahami asas pendidian Islam. Orangtua juga mendidik dengan penuh kasih sayang karena berangkat dari kesadaran terhadap kewajiban dari Allah Swt.

Dengan tujuan tersebut, maka saat belajar di rumah dalam bagian pembentukan kepribadian Islam dan life skill bisa 30%, konten materi tsaqofah Islam 30%, sedangkan materi sains dan teknologi 40%. Bentuk penyampaian pun tidak akan keluar dari tujuan dan landasan akidah Islam. Misalnya, guru tidak bersifat kaku dan memaksa atas tugas-tugas yang dibebankan kepada siswa. Dalam kondisi wabah, maka materi pembelajaran terutama untuk menguatkan ketaatan kepada Sang Pencipta yang menguasai manusia.

Kedua, tenaga pendidik dan penguasaan ilmu serta teknologi komunikasi yang handal. Dengan hal ini, maka keterbatasan guru, siswa dan orangtua untuk melakukan pembelajaran online bisa diminimalisir. Berbeda dengan saat ini dimana masih banyak orang yang gagap teknologi (gaptek). Padahal, pembelajaran jarak jauh adalah hal yang sudah biasa dan jamak dilakukan di berbagai belahan dunia. Namun, kehidupan kapitalis terkadang membelenggu orang untuk melek teknologi karena keterbatasan ekonomi untuk memiliki alat (media) dan akses internet, ataupun karena keterbatasan ilmu. Sejarah mencatat bahwa pemerintahan Islam di masa lalu adalah pemerintahan dan negara yang menguasai teknologi. Berbagai penemuan teknologi dilakukan oleh kaum muslim. Hal ini karena Islam mendorong setiap muslim untuk terus belajar dan terus mengembangkan ilmu yang ia miliki. Dan hal tersebut didorong dengan pemberian penghargaan oleh negara.

Ketiga, belajar dari rumah ditopang dengan kondisi perekenomian yang stabil dan maju. Dengan kondisi ini, maka negara mampu untuk menopang kebutuhan ekonomi rakyat, termasuk ketersediaan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran seperti internet gratis dan media (alat komunikasinya). Sebab, minat belajar yang tinggi akan tergerus jika terus menerus tersandung pada keterbatasan fasilitas internet atau alat telekomunikasinya tidak mendukung. 

Dengan demikian, untuk menyelenggarakan pendidikan selama pandemi tetap bisa dilakukan dengan kualitas yang baik, dengan memperhatikan hal-hal di atas. Selain itu pula, faktor kehati-hatian (wara’) tetap senantiasa dijalankan. Sebab, menghindari bahaya adalah suatu sifat yang diserukan dalam Islam. Jika bersekolah tatap muka di zona hijau belum dibolehkan oleh Gugus Tugas setempat, maka belajar dari Rumah menjadi pilihan terbaik. Sebaliknya, jika hasil analisa Tim Gugus Tugas Covid merekomendasikan bolehnya sekolah tatap muka, maka hendaknya dilakukan dengan tetap mematuhi serta menjalankan protokol kesehatan.

Wallahu a'lam bishshawab.

 a’lam Bishawwab.
 
Top