Oleh: Neng Ranie SN
(Aktivis Muslimah dan Member AMK)

Bulan penuh rahmat dan keberkahan telah pergi, meninggalkan jejak kebaikan dalam diri. Dapatkah kita Istiqomah menjalankan syariat-Nya selepas Ramadan? Apakah kita telah meraih gelar takwa? Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Atau hanya jejak kaki di bibir pantai? Terhapus oleh deburan ombak, menghilang karena embusan angin kencang? Dan hanya bergelar  “Kun ramadhaniyyan”. Naudzubillahi mindzalik.

Sayangnya, kata-kata takwa seolah hanya retorika  ritual berulang-ulang seiring menyambut hari kemenangan. Tanpa  dipahami maknanya secara utuh dan menyeluruh oleh kaum muslimin. Terlebih saat ini, jiwa-jiwa kaum muslimin digerogoti oleh sistem kapitalis-sekuler. Bahkan, para pejabat begitu ringan mengucapkan kata takwa dari lisannya. Di antaranya Presiden Jokowi mengatakan bahwa  jika semua hal dapat dilakukan dengan ikhlas, takwa dan tawakal maka menimbulkan berkah, hikmah, rezeki dan juga hidayah. (nasional.tempo.co, 23/05/2020)

Senada dengan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Makruf Amin menyampaikan ucapan Idul Fitri dengan mengajak masyarakat agar memperkuat iman dan ketakwaan kita sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menurunkan keberkahan. (suaramerdeka.com, 23/5/2020)

Hati ini sungguh tergelitik diiringi senyum hambar ketika membaca berita tersebut. Pasalnya, selama ini kebijakan-kebijakan dalam mengatur pemerintahan  justru bertentangan dengan makna takwa itu sendiri, termasuk dalam penanganan wabah virus Corona.

Secara etimologi, takwa berasal dari kata waqa – yaqi – wiqayah yang artinya menjaga diri, menghindari dan menjauhi. Sedangkan, secara terminologi adalah takwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar dengan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa. Takwa terulang dalam Alquran sebanyak 259 kali dengan mengandung makna yang cukup beragam, di antaranya: memelihara, menghindari, menjauhi, menutupi, dan menyembunyikan. (percikaniman.org)

Dengan sikap takut ini, seorang muslim memiliki kesadaran untuk senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan memahami apa pun yang dilakukannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta'ala. Wujud kesadaran itu adalah kertertundukan kepada Allah Ta'ala dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Ta'ala meminta kepada setiap orang yang mengaku beriman kepada-Nya agar bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 102, yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman  bertakwalah  kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam ."

Selama negara ini masih menggenggam erat sistem kapitalis-sekuler, maka dapat dipastikan kaum muslimin tidak dapat menjalankan aturan Islam secara menyeluruh (Kaffah) dan sempurna. Kaum muslim hanya dapat menjalankan aturan Islam perihal ibadah ritual saja. Karena jika dilaksanakan secara sempurna, dapat mengganggu eksistensi atau keberadaan peradaban kapitalis-sekuler. Sesungguhnya telah tampak kerusakan, kesengsaraan dan penderitaan rakyat, disebabkan penerapan sistem kufur ini. Terasa sekali ketidakadilan dan ketidakberpihakan penguasa pada rakyatnya. Apalagi saat ini wabah penyakit sedang berlangsung, beberapa kebijakan yang dikeluarkan justru menambah penderitaan rakyat. Bahkan cenderung menumbalkan rakyatnya. Misalnya, tidak diberlakukannya karantina wilayah (lockdown) dengan dalih ekonomi, hasil tambang yang dikeruk oleh korporasi, mendatangkan TKA pada saat rakyat di PHK, menaikkan iuran BPJS, berspekulasi dengan nyawa rakyat melalui penerapan “new normal”, dan sebagainya. Terlihat jelas, bagaimana pernyataan Presiden  dan Wakil Presiden yang meminta rakyat untuk takwa sangat kontradiktif dengan tindakan dan kebijakannya sebagai penguasa.

Berbeda dengan sistem Islam, negara  khilafah tegak di atas asas akidah Islam. Setiap kaum muslimin memiliki keyakinan dan pemahaman  bahwa kehidupan ini adalah ladang akhirat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, begitu pun amanah sebagai khalifah. Seorang khalifah merupakan pelaksana dalam penerapan hukum-hukum Syariat Allah. Artinya, seluruh kebijakan yang diambil oleh khalifah, tak ada yang menyelisihi hukum Syariat.  Dan semata-mata dalam menjalankan amanah tersebut demi kemaslahatan dan kesejahteraan rakyatnya.

Pemimpin atau khalifah dalam kepemimpinan Islam menempatkan dirinya sebagai rain (pengurus/ penggembala) sekaligus junnah (pelindung) bagi umat. Khalifah akan melaksanakan kedua fungsi tersebut dengan sungguh-sungguh, mengingat begitu beratnya  pertanggungjawaban di akhirat .

Atas dasar keimanan inilah, jaminan pengurusan dan perlindungan beserta penerapan hukum-hukum Allah dilaksanakan secara maksimal dan menyeluruh (Kaffah). Karena aturan Islam memang diturunkan sebagai problem solving bagi seluruh manusia mulai dari problem yang berkaitan dengan hablum minallah, hablum minafsi, maupun hablum minannas.

Konsep ini telah diterapkan dengan baik mulai dari zaman Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam hingga para khalifah penggantinya. Umat Islam hidup dalam standar kesejahteraan dan  kejayaan yang tak pernah dicapai oleh peradaban lainnya. Kesejahteraan rakyat bukan hanya dinilai dengan ukuran material saja, melainkan juga dengan ukuran non material seperti terpenuhinya kebutuhan spiritual, terjaga dan terlindungi agama, jiwa, akal, dan kehormatan serta terwujudnya keharmonisan sosial rakyatnya.

Jadi, wujud takwa kepada Allah Ta'ala adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara. Serta penyerahan jiwa dan raga orang-orang mukmin secara totalitas. Allah  ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 208 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top