Oleh: Rumaisha 1453
   
(Personil Komunitas Hijrah Muslimah Squad Kupang)

 Hidup adalah pilihan, dan dalam satu waktu engkau hanya dapat memilih satu dari beberapa pillihan tersebut, karena pada dasarnya setiap pilihan menutut untuk dipenuhi. Maka dari itu jika engkau telah memilih berhijrah, maka engkau akan bersiap melepaskan segala hal yang selama ini membuat dirimu terlena, bahkan engkau akan bersiap melepaskan seseorang yang sangat berarti untukmu yaitu sahabat, sahabat yang ikhwan maksudnya.



 Hijrah adalah sebuah pilihan hidup, dan pasti banyak orang berat untuk melakukannya, harus meninggalkan bucinnya, meninggalkan habitat yang selama ini membuatnya nyaman, bahkan mungkin orang-orang yang menyayanginya pun lama-kelamaan akan menghilang.



  Akan tetapi, dirimu harus yakin bahwa “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;  Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (TQS. Al-Baqarah[2]: 216). Masyaallah ternyata semua ada dalam ayat-ayat-Nya, cuma terkadang kita saja yang jarang mentadaburi setiap firman-Nya.



 Banyak yang hijrah, tapi pada akhirnya banyak juga yang kembali. Karena hijrahnya sebatas perasaan, senang bila berkumpul, futur kalau sendiri, ikut ramai saja. Bagi yang hijrah secara pemikiran, diperoleh dari pencarian, ia tidak akan mudah goyah, karena dia tahu didepan ada begitu banyak duri dan perangkap yang siap untuk menghadang.



 Didalam proses pencarian akan hakikat aku diciptakan, aku dipertemukan dengan seorang sahabat, awal bertemu di ngobras Muslimah Squad Kupang, aku masih ingat tema ngobras waktu itu “kurban bukti cinta”. Ups, ketemu dia nih, matanya ada empat, orangnya kalem, sudah tentu pendiam. Beda banget dengan aku, yang so aktif bila ditanya, dan pada akhir acara ternyata kami berdua yang mendapatkan doorprize, aku peserta teraktif, dan dirinya peserta yang datanya lebih awal, dari sini saja bisa dilihat ya bedanya.



 Perbedaan adalah rahmat, harus disyukuri. Memang berbeda karena fisik, rasa itu wajar, jangan sampai beda secara pemikiran. Satunya pemikiran Islam, satunya lagi liberal, itu yang fatal. Berjalannya waktu, ternyata baru tersadar,  kami diperjalankan dengan cita-cita dan visi misi yang sama. Yang terpenting kami dipersatukan bukan karena sedarah, sesuku, ataupun karena ada unsur manfaat tapi kami dipersatukan dengan ikatan yang begitu kuat, yaitu akidah Islam karena sama-sama muslimah, akhirnya punya tujuan satu, tujuan yang sama tentunya.


 Semua ini karena Dakwah. Dakwah mempersatukan kita, dari latar belakang yang jauh berbeda. Diri ini selalu berharap, jika engkau tak menemuiku di Syurga kelak, tolong cari aku sahabat. Kita pernah berjuang bersama, kita saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan ketaatan.


 Dan sampai dipengujung tulisan ini, ingin kukatakan bahwa dia adalah sahabatku, sahabat dalam dakwah, ini baru salah satunya, ada sahabat taat, dan sahabat insyaAllah till jannah, nantikan kisah mereka juga ya, ditulisanku selanjutnya. Uhibukumfillah sahabat salehah.
 
Top